Vatikan, NPC – Dalam laporan panjang mengenai Paus Fransiskus di New York Times dan Washington Post, hampir tidak ada yang menyebutkan keprihatinannya yang mendalam terhadap penderitaan rakyat Palestina di Gaza. Dalam pesan publik terakhirnya pada Hari Paskah, beberapa jam sebelum ia meninggal, Paus Fransiskus menyerukan gencatan senjata di Gaza dan mengutuk “situasi kemanusiaan yang memprihatinkan” di Gaza Palestina.
Berita kematian Paus Fransiskus juga tidak menyebutkan bahwa ia secara pribadi menelepon Gereja Keluarga Kudus di Gaza hampir setiap malam sejak Israel menginvasi wilayah tersebut pada Oktober 2023, termasuk pada malam Sabtu sebelum Paskah. Pendeta gereja tersebut, Rev. Gabriel Romanelli, mengenang: “Ia mengatakan bahwa ia berdoa untuk kami, memberkati kami, dan mengucapkan terima kasih atas doa-doa kami.”
Anggota gereja lainnya mengatakan bahwa Paus Fransiskus “selalu berbicara tidak hanya kepada pendeta, tetapi juga kepada semua orang di ruangan itu”. Kepedulian Paus Fransiskus terhadap Gaza dan Palestina tidak dimulai pada Oktober 2023. Rev. Munther Isaac, seorang teolog Kristen Palestina dan pendeta Lutheran, mengatakan kepada Democracy Now:
“Saya rasa tidak ada orang Palestina yang akan lupa ketika Paus Fransiskus, pada tahun 2014, menghentikan mobilnya, turun, dan berdoa di tembok pemisah yang memisahkan Yerusalem dari Betlehem, momen itu menyentuh hati kami semua dan terus berbicara kepada kami selama bertahun-tahun”.
Paus Fransiskus berdoa di tembok pemisah yang memisahkan Yerusalem dari Betlehem, dua kota yang sangat penting bagi umat Kristen dan Palestina. Tembok pemisah ini adalah simbol ketegangan dan konflik antara Israel dan Palestina. Dengan berhenti, turun dari mobil, dan berdoa di depan tembok itu, Paus Fransiskus menunjukkan solidaritasnya dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina akibat pemisahan yang terjadi.
Momen ini penting bagi penduduk Palestina karena Paus Fransiskus, sebagai pemimpin agama yang sangat dihormati di dunia, memberikan perhatian dan pengakuan terhadap kesulitan yang mereka alami. Tindakan beliau dianggap sebagai bentuk dukungan moral dan empati terhadap penderitaan mereka. Bagi banyak orang Palestina, tindakan Paus ini bukan hanya simbol kehadiran seorang pemimpin spiritual global, tetapi juga sebuah pengingat bahwa dunia internasional, termasuk tokoh-tokoh besar, peduli terhadap situasi yang mereka hadapi. Momen ini terus dikenang oleh rakyat Palestina karena menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka untuk hak-hak dan keadilan.
Tentu saja, banyak hal dalam hidup Paus Fransiskus yang luar biasa yang bisa dimasukkan dalam laporan obituari tersebut. Namun, kepedulian Paus terhadap Gaza yang terus berlanjut pasti seharusnya menjadi bagian dari catatan di surat kabar terkemuka di Amerika. Panggilan telepon hampir setiap malamnya ke Gaza adalah rincian yang membawa cerita ini hidup. Alih-alih menyampaikan hal penting ini di tengah genosida yang masih berlangsung, sebagian dari pesan Paus Fransiskus seolah dihapus begitu saja di sejumlah media Barat.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di New York Times? Jurnalis yang memiliki pengalaman langsung di sana memberi tahu saya bahwa 95 persen dari penyensoran diri mengenai Israel/Palestina tidak diucapkan.
“Tidak ada yang benar-benar memberitahumu untuk menghindari topik ini,” kata salah satu sumber. “Kamu hanya paham bahwa kamu harus sangat hati-hati”.
(T.FJ/S: Mondoweiss)