Perdamaian di Tangan Siapa? Hamas Ungkap Syarat Utama

Gaza, NPC – Pejuang Palestina, Hamas, pada Senin (14/04/2025), menegaskan kembali kesiapannya untuk membebaskan semua tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza. Syaratnya adalah adanya gencatan senjata secara menyeluruh, penarikan pasukan militer Israel dari Gaza, pembebasan tahanan Palestina, serta bantuan kemanusiaan yang bisa masuk tanpa hambatan. Hal ini disampaikan oleh penasihat media Hamas, Taher al-Nono.

Taher al-Nono menyatakan bahwa Hamas siap melakukan pertukaran tawanan jika ada kesepakatan serius, penghentian perang, penarikan Israel dari Gaza, dan masuknya bantuan kemanusiaan.

Menurutnya, “Masalahnya bukan soal jumlah tawanan, tapi karena pihak penjajah (Israel) tidak menepati janji, mengacaukan gencatan senjata, dan melanjutkan serangan.”

Pernyataan ini muncul setelah pembicaraan tidak langsung antara Hamas dan Israel di Kairo, yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar, berakhir tanpa kemajuan berarti. Menteri Israel, Zeev Elkin, yang merupakan anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan kepada Radio Tentara Israel bahwa Tel Aviv hanya ingin membebaskan sekitar 10 tawanan sebagai imbalan untuk memperbarui gencatan senjata.

Seorang sumber Mesir mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas meminta waktu lebih untuk merespons usulan terbaru. “Hamas tidak keberatan, tapi mereka ingin ada jaminan bahwa Israel bersedia memulai pembicaraan tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata,” kata Taher al-Nono.

Israel dan Hamas sebelumnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Januari, namun Israel menolak melanjutkan ke tahap berikutnya dan kembali menggempur Gaza sejak 18 Maret.

Sejak saat itu, lebih dari 1.500 penduduk sipil Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, dibunuh Israel dan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Kebuntuan diplomatik ini terjadi setelah pertemuan di Doha antara Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani. Dalam pernyataan bersama, kedua negara menegaskan penolakan terhadap pengusiran warga Palestina, mendukung pembentukan negara Palestina, serta menyerukan segera dilakukan gencatan senjata dan pengiriman bantuan kemanusiaan.

“Kami menegaskan kembali bahwa perjuangan Palestina adalah isu utama dunia Arab. Kami mendukung rencana rekonstruksi Gaza dan berharap akan ada konferensi internasional yang diselenggarakan Mesir untuk mendorong inisiatif ini. Kami juga sangat prihatin terhadap eskalasi kekerasan yang terus berlangsung di Gaza,” bunyi pernyataan bersama tersebut.

Dalam pertemuan itu, Mesir dan Qatar juga sepakat untuk bekerja sama dalam investasi langsung dari Qatar ke Mesir senilai 7,5 miliar dolar AS.

Sementara itu, serangan militer Israel di Gaza terus meningkat. Di Jabalia, wilayah utara Gaza, sebuah bangunan dibom dan membunuh sekitar 25 penduduk sipil Palestina pada hari Senin.

Menurut laporan Reuters, tim penyelamat tampak mengenakan rompi oranye, berusaha memecahkan beton dengan palu besar untuk mencari korban yang tertimbun. “Tampak kaki dan tangan seseorang keluar dari bawah puing. Beberapa pria mengangkat jenazah yang dibungkus selimut,” tulis laporan itu.

Serangan udara Israel juga menghantam kamp tenda darurat di Khan Yunis, tempat pengungsi Palestina berlindung. “Kami dulu tinggal di rumah. Tapi rumah-rumah kami hancur. Sekarang, tenda kami juga dihancurkan. Kami tidak tahu harus tinggal di mana lagi,” kata Ismail al-Raqab, yang mengungsi bersama keluarganya.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, hampir 51.000 penduduk Palestina telah dibunuh Israel sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.

Kelompok pejuang dan perlawanan Palestina, Hamas, menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus menjalankan operasi kejahatan untuk “membelah wilayah Jalur Gaza untuk sepenuhnya menduduki dan mengusir seluruh penduduk Palestina”.

(T.FJ/S: The Cradle)

You might also like