Beirut, NPC – Pasukan infanteri Israel melintasi perbatasan dan memasuki wilayah Lebanon pada Jumat (11/04/2025), bersamaan dengan serangan baru terhadap wilayah Lebanon. Langkah ini dilakukan di tengah terus berlanjutnya pendudukan militer Israel di wilayah selatan Lebanon.
Menurut laporan koresponden Al Manar dan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), pasukan infanteri Israel memasuki Taman Wazzani yang terletak di distrik Marjayoun, wilayah Gubernuran Nabatieh, Lebanon selatan, pada Jumat pagi.
Sementara itu, militer Israel menargetkan daerah Abu Laban di Aita al-Shaab dengan sedikitnya lima tembakan artileri. Wilayah ini telah mengalami kerusakan parah sejak Oktober 2023 hingga saat ini.
Sehari sebelumnya, drone militer Israel juga menghancurkan dua unit buldoser di Aita al-Shaab. Israel terus meningkatkan retorika dan serangannya terhadap Lebanon, dengan pemboman yang hampir terjadi setiap hari.
Juru bicara militer Israel untuk dunia Arab, Avichay Adraee, pada 9 April mengklaim bahwa Hezbollah sedang membangun situs produksi senjata bawah tanah di wilayah selatan Beirut.
“Hezbollah berupaya membangun kembali situs produksi senjata bawah tanah di jantung lingkungan Choueifat, dekat sekolah dan di bawah bangunan tempat tinggal, setelah sebelumnya diserang pada November 2024,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Hezbollah menyembunyikan lokasi tersebut dari para pemeriksa dan kemudian kembali mengaktifkannya setelah situasi mereda.
Adraee juga menyatakan bahwa militer Israel tetap berkomitmen untuk melaksanakan kesepahaman antara Israel dan Lebanon, serta akan terus bertindak untuk menghilangkan ancaman terhadap negara Israel dan mencegah upaya pendirian infrastruktur oleh kelompok Hezbollah.
Pada akhir Maret dan awal April, Israel membombardir wilayah selatan Beirut, membunuh sejumlah orang, termasuk seorang anggota senior Hezbollah dan putranya.
Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada November 2024 menyerukan penerapan Resolusi PBB 1701, yang mewajibkan Hezbollah mundur ke utara Sungai Litani dan menyerahkan pengawasan wilayah kepada tentara nasional Lebanon sebagai satu-satunya kekuatan bersenjata yang sah di daerah tersebut.
Kesepakatan tersebut juga mengharuskan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon. Namun, Israel melanggar perjanjian tersebut dengan tetap menduduki lima lokasi di sepanjang perbatasan.
Militer Israel terus melakukan serangan udara mematikan di wilayah timur dan selatan Lebanon dengan dalih bahwa Hezbollah tidak mematuhi perjanjian, serta menuduh tentara Lebanon tidak cukup aktif dalam menerapkan kesepakatan tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan menekan Lebanon agar melucuti senjata kelompok perlawanan. Menurut laporan Al-Akhbar, Washington bahkan menerapkan “veto tak resmi” terhadap negara-negara Teluk yang berniat memberikan bantuan keuangan untuk rekonstruksi Lebanon, hingga tujuan Israel di wilayah tersebut tercapai.
AS telah memberitahu beberapa negara Teluk, termasuk Qatar dan Arab Saudi, bahwa mereka tidak boleh memberikan bantuan keuangan kepada Lebanon atau Suriah “pada tahap ini.” Surat kabar Lebanon tersebut menggambarkan langkah ini sebagai “operasi tekanan maksimum untuk menghapus hambatan menuju penyelesaian konflik dengan Israel, khususnya dengan cara melucuti senjata Hezbollah, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap Lebanon.”
Seorang anggota parlemen dari Hezbollah menyatakan pada Rabu bahwa persoalan senjata merupakan urusan internal Lebanon dan akan dibahas dalam kerangka strategi pertahanan nasional untuk melindungi negara dari serangan Israel.
(T.FJ/S: The Cradle)