Gaza, NPC – Pada Senin dini hari (18/03/2024) sekitar pukul dua malam waktu Palestina, militer Israel melakukan serangan pemboman udara tiba-tiba di Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebutkan bahwa serangan Israel ini telah membunuh 412 penduduk Palestina, di mana 174 adalah anak-anak, 89 perempuan, dan 32 orang lanjut usia. Sementara itu, lebih 500 orang mengalami luka-luka akibat serangan udara yang menargetkan tempat perlindungan dan kamp-kamp pengungsian.
Serangan udara dilaporkan terjadi di Kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah di selatan, yang juga diserang oleh tembakan artileri dari tank-tank Israel. Gambar-gambar yang dibagikan di media sosial menunjukkan banyak anak-anak yang menjadi korban pemboman tengah malam tersebut.
“Tim kami menghadapi kesulitan besar dalam bekerja di sektor ini karena banyaknya target yang diserang secara bersamaan,” kata laporan dari Gaza Civil Defense setelah agresi dimulai.
Langgar Perjanjian, Hamas Menyalahkan Netanyahu dan Zionis
“Kami menyalahkan Netanyahu yang kriminal dan pendudukan Zionis-Nazi sepenuhnya atas dampak agresi pengkhianat ini terhadap Gaza dan terhadap warga sipil yang tidak bersalah serta rakyat Palestina kami yang terjebak dalam blokade,” ujar Hamas dalam sebuah pernyataan.
Gerakan perlawanan Palestina ini juga mendesak mediator gencatan senjata untuk memegang sepenuhnya tanggung jawab kepada pemerintah Israel yang telah “melanggar dan membatalkan kesepakatan tersebut.”
Perintah Perang Netanyahu: Tindakan Militer Terhadap Hamas Ditingkatkan
Perdana Menteri dan buronan kriminal perang Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk mengambil “tindakan keras” terhadap Hamas di Gaza, menuduh kelompok tersebut menolak untuk membebaskan para tawanan dan “menolak semua usulan gencatan senjata”.
“Israel mulai sekarang akan bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang semakin meningkat,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
Seiring dimulainya kembali genosida Israel terhadap Palestina di Gaza, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan bahwa Tel Aviv memberi pemberitahuan kepada Washington sebelumnya mengenai “serangan besar-besaran” mereka.
“Semua teroris di Timur Tengah, proksi teroris yang didukung Iran itu sendiri harus menganggap serius apa yang dikatakan Presiden Trump, bahwa ia tidak takut untuk membela orang-orang yang taat hukum,” ujar Leavitt kepada Fox News.
AS Perluas Perang Ilegal di Yaman di Tengah Krisis Gaza
Beberapa jam sebelumnya, pesawat perang AS membombardir beberapa kota di Yaman untuk malam keempat berturut-turut, sementara Washington terus memperluas perang ilegalnya terhadap negara tersebut.
Yaman mengutuk agresi Israel terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza dan menyatakan akan terus memberikan dukungan kepada Palestina
“Kami mengutuk kembalinya agresi Zionis terhadap Jalur Gaza dan penyerangan terhadap penduduk sipil yang tidak bersenjata. Serangan agresif yang diluncurkan oleh musuh Zionis pagi ini terhadap Gaza bertepatan dengan agresi Amerika terhadap Yaman dan mengikuti minggu-minggu kelaparan yang menimpa rakyat Palestina. Rakyat Palestina tidak akan dibiarkan sendirian dalam pertempuran ini dan Yaman akan terus mendukung serta meningkatkan konfrontasi,” bunyi pernyataan dari Dewan Politik Tertinggi Yaman.
Blokade Bantuan Meningkat, Genosida Terus Berlanjut
Kembalinya Israel ke dalam pertumpahan darah di Gaza terjadi dua minggu setelah Israel memblokade bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza secara total dan upaya berulang kali untuk menggagalkan negosiasi fase kedua gencatan senjata yang didukung AS yang dimulai pada bulan Januari.
Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan lebih dari 61.700 warga Palestina telah tewas sejak dimulainya genosida yang didukung Barat, dengan ribuan lainnya hilang di bawah reruntuhan.
(T.FJ/S: The Cradle)