Tepi Barat, NPC – Jika ada satu hal yang konsisten dalam kebijakan Israel terhadap Palestina, maka hal itu adalah kreativitas tanpa batas dalam melanggar hukum internasional. Bulan Januari lalu, pasukan pendudukan Israel kembali membuktikan bahwa mereka memang tidak pernah kehabisan cara untuk menindas rakyat Palestina. Dengan total 5769 pelanggaran dalam satu bulan saja, Israel tampaknya ingin memastikan posisinya sebagai juara bertahan dalam kompetisi kejahatan perang global.
Eksekusi di Lapangan: Nyawa Palestina Semakin Murah
Seolah menegaskan bahwa hukum humaniter hanyalah mitos, pasukan Israel mengeksekusi 62 warga Palestina sepanjang Januari, dengan 36 di antaranya gugur sejak dimulainya operasi militer pada 21 Januari. Operasi ini, tentu saja, diberi justifikasi klise: “demi keamanan”. Namun, bagi keluarga korban, itu alasan itu tak lebih dari kedok pembantaian yang tidak mengenal batas moral.
Sementara itu, 281 orang lainnya menderita luka akibat serangan tentara dan pemukim Israel, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. Jumlah ini seolah membuktikan bahwa bagi Israel, peluru tak pernah membedakan target.
Tak puas dengan pembunuhan massal, pasukan Israel juga melakukan pengusiran paksa terhadap 3200 keluarga Palestina dari Kamp Pengungsi Jenin. Hasilnya, 20.000 warga terlantar, kehilangan rumah, harta benda, dan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air dan listrik.
Sebagai tambahan, lebih dari 100 rumah dan bangunan dihancurkan secara brutal, mengingatkan dunia bahwa bagi Israel, pembersihan etnis adalah bagian dari strategi politik yang sudah mendarah daging.
Dengan 1489 penggerebekan di seluruh Tepi Barat, pasukan Israel tampaknya ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun rumah Palestina yang tidak tersentuh teror mereka. Setiap malam, ratusan rumah digedor, barang-barang dihancurkan, dan keluarga diintimidasi. Hasil akhir dari operasi ini, 820 warga Palestina ditangkap, sering kali tanpa dakwaan yang jelas.
Sementara itu, pemukim Israel, yang selalu dilindungi negara apartheid ini, terus menjalankan hobi favorit mereka: “Menyerang warga Palestina tanpa alasan yang jelas”. Selama Januari saja, mereka melakukan 245 serangan, mulai dari pemukulan, pembakaran lahan, hingga perusakan properti.
Jerusalem: Kota Suci yang Jadi Ajang Provokasi
Tak hanya Tepi Barat, Al Quds juga tak luput dari agresi Israel. Dengan 86 warga Palestina ditangkap dan 6161 ekstremis Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsa, jelas bahwa tujuan utama Israel adalah menghapus identitas Palestina di kota suci ini. Israel terus berusaha mengubah status quo dengan mengintimidasi warga Palestina agar pergi, sementara penduduk Israel bebas melanggar hukum dengan impunitas total.
Seolah ingin memastikan bahwa warga Palestina merasakan tekanan dari setiap sisi, Israel juga menutup 664 jalan dan wilayah di Tepi Barat. Dengan 694 pos pemeriksaan tetap dan sementara, Israel sukses mengubah gerakan warga Palestina menjadi permainan bertahan hidup yang penuh rintangan. Mencari nafkah, pergi ke sekolah, atau bahkan ke rumah sakit kini membutuhkan perjuangan ekstra di bawah sistem yang jelas-jelas dirancang untuk menyiksa rakyat Palestina.
Sementara dunia sibuk dengan diplomasi yang tak membuahkan hasil, Israel terus mengukuhkan dominasinya di tanah Palestina dengan kejahatan yang semakin terstruktur dan sistematis. Dengan dukungan tak surut dari sekutu-sekutunya, mereka terus melanggar hukum internasional tanpa konsekuensi nyata. Sementara itu, rakyat Palestina dipaksa bertahan dalam realitas yang semakin brutal. Dunia mungkin bisa pura-pura tidak melihat, tetapi sejarah tidak akan lupa.
(T.RS/S:Palinfo)