“Hidup Menang atau Gugur Sebagai Pahlawan”, Perjalanan Hidup Mohammed Deif, Arsitek Militer Hamas yang Hidup dalam Bayangan

“Hidup menang atau gugur sebagai pahlawan”, itulah filosofi yang menjadi prinsip hidup Mohammed Deif, komandan utama sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Sejak tahun 1990-an, Deif telah menjadi simbol perjuangan Palestina, dengan peran besar dalam mengorganisasi dan memimpin perlawanan terhadap pendudukan Israel. Meskipun hidup dalam bayang-bayang dan menjadi target utama pembunuhan oleh pasukan Israel, Deif terus bertahan, membuktikan ketangguhan dan semangat juangnya yang luar biasa.

Latar Belakang dan Awal Kehidupan

Mohammed Diab Ibrahim al-Masri, yang lebih dikenal sebagai Mohammed Deif, lahir pada tahun 1965 di kamp pengungsi Khan Yunis, Gaza Selatan. Keluarganya merupakan pengungsi Palestina yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka akibat pendudukan Israel pada tahun 1948. Kehidupan keras di kamp pengungsi membentuk kepribadiannya sejak kecil. Ayahnya bekerja sebagai pengrajin bantal dan pelapis furnitur, sementara Deif juga membantu pekerjaan rumah tangga dan menggembalakan ternak.

Pendidikan Deif di Kamp Khan Yunis berlangsung dalam kondisi penuh tantangan. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di sekolah-sekolah kamp pengungsi. Di tengah kesulitan hidup, Deif tidak menyerah dan melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Gaza, ia mengambil jurusan sains dan bergabung dengan organisasi mahasiswa Blok Islam yang terkait dengan Hamas. Pengalaman hidupnya yang penuh penderitaan akibat pendudukan Israel membentuk pandangan politiknya dan mendorongnya untuk terlibat dalam perjuangan membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan.

Bergabung dengan Hamas dan Memulai Karir Militer

Deif mulai bergabung dengan Hamas pada tahun 1987, seiring dengan pecahnya Intifada pertama. Pada tahun 1989, ia ditangkap oleh Israel dan dijebloskan ke penjara selama 16 bulan akibat keterlibatannya dengan sayap militer Hamas yang baru dibentuk, Brigade Izzuddin al-Qassam. Di penjara, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Hamas lainnya yang kelak menjadi rekan dekatnya, seperti Zakaria al-Shourbaji dan Salah Shehada. Setelah dibebaskan pada tahun 1991, Deif langsung bergabung dengan Brigade Izzuddin al-Qassam, yang menjadi ujung tombak perlawanan terhadap Israel.

Memimpin Al-Qassam

Pada tahun 2002, setelah pemimpin al-Qassam Salah Shehada dibunuh dalam serangan udara Israel, Deif diangkat sebagai pemimpin brigade tersebut. Di bawah kepemimpinannya, al-Qassam berkembang pesat, baik dalam kekuatan militer maupun strategi perlawanan. Salah satu pencapaian terbesar Deif adalah pengembangan teknologi roket, dengan berbagai jenis roket yang kini mampu mencapai seluruh wilayah Palestina yang diduduki, termasuk kota-kota besar di Israel.

Di bawah komando Deif, al-Qassam memproduksi roket-roket seperti Qassam 1, 2, M75, dan Ater 120. Selain itu, Deif juga mengembangkan roket R160 yang memiliki jangkauan lebih luas hingga mencapai kota Haifa di Israel. Deif juga dikenal karena mengembangkan berbagai teknologi militer, termasuk terowongan bawah tanah yang digunakan untuk menyerang pasukan Israel serta pesawat tanpa awak yang melibatkan insinyur Palestina dan Arab.

Menghadapi Pembunuhan Berulang Kali

Mohammed Deif menjadi target utama pasukan Israel yang berusaha membunuhnya lebih dari tujuh kali. Salah satu upaya pembunuhan paling mengerikan terjadi pada tahun 2002, ketika pesawat tempur Israel membom mobil yang ditumpangi Deif, menewaskan dua rekannya dan melukai dirinya secara serius. Pada tahun 2014, serangan udara Israel menewaskan istri dan anaknya yang masih kecil. Namun, meskipun nyaris tewas dalam beberapa serangan, Deif berhasil bertahan hidup dan tetap memimpin perlawanan.

Warisan dan Pengaruh

Deif dikenal sebagai sosok yang sangat jarang tampil di media. Bahkan, rekaman audionya pun sangat terbatas. Namun, peranannya dalam memimpin dan merencanakan operasi-operasi militer Hamas sangat vital. Sebagai arsitek dari banyak serangan roket terhadap Israel, Deif membuktikan dirinya sebagai tokoh yang tidak hanya mengorganisasi perlawanan, tetapi juga sebagai inovator dalam strategi perang yang melibatkan teknologi tinggi dan serangan yang terorganisir.

Pada tahun 2023, Deif menjadi tokoh utama dalam memimpin operasi “Toufan Al-Aqsa” yang mengguncang Israel. Meskipun menjadi salah satu buronan paling dicari, Deif tetap menginspirasi banyak orang di Palestina. Selama bertahun-tahun, ia menunjukkan keberanian luar biasa dalam menghadapi ancaman kematian tanpa pernah mundur dari pertempuran. Sebagai figur yang tidak kenal takut, ia terus memimpin Hamas dalam perlawanan, bahkan dalam saat-saat yang paling sulit.

Kematian Mohammed Deif

Pada 30 Januari 2025, Juru bicara Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas, Abu Ubaida, mengumumkan bahwa Mohammed Deif, komandan utama al-Qassam, bersama dengan sejumlah tokoh militer lainnya, telah meninggal dunia. Abu Ubaida tidak merinci kapan atau bagaimana Deif, yang dikenal sebagai “Raja Bayangan”, kehilangan nyawanya.

Kematian Deif mengakhiri perjalanan panjangnya yang penuh dengan perjuangan dan keberanian. Sejak bergabung dengan Hamas pada akhir 1980-an, ia telah menjadi salah satu sosok yang paling penting dan kontroversial dalam perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel.

Deif dikenang sebagai seorang yang gigih dalam melawan pendudukan Israel dan menjadi pahlawan bagi rakyat Palestina. Sering disebut dengan julukan “Tamu” atau “Al-Doif” karena sering berpindah tempat untuk menghindari perburuan Israel, Deif tetap menjadi figur yang dihormati oleh banyak orang, baik di Gaza maupun di seluruh dunia Arab.

Pengaruh Jangka Panjang

Meski Deif telah gugur, pengaruh dan warisannya akan tetap hidup. Sebagai pemimpin militer Hamas, ia berhasil mengubah taktik pertempuran dan menciptakan strategi yang mendalam untuk melawan Israel. Serangan roket yang melibatkan teknologi canggih, serta penggunaan terowongan bawah tanah sebagai metode perlawanan, menjadi bagian dari warisan besar yang ditinggalkan Deif. Melalui pengembangan ini, Hamas mampu memperpanjang perjuangannya melawan pendudukan Israel dengan cara yang sangat efektif.

(T.RS/S:RtArabic)

 

You might also like