Gaza, NPC – Kegembiraan meledak di seluruh Gaza setelah gencatan senjata yang ditunggu-tunggu di wilayah yang dilanda perang itu mulai berlaku pada Minggu pagi (19/01/2025). Penduduk Palestina merayakan akhir sementara dari kekerasan dan kejahatan sistematis yang dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza.
Meskipun demikian, pengumuman gencatan senjata itu terjadi lebih dari dua jam setelah jadwal yang direncanakan akibat perselisihan antara Israel dan Hamas mengenai penyebutan nama-nama sandera yang akan dibebaskan sesuai dengan kesepakatan.
Pada Minggu pagi sebelumnya, Hamas menyebutkan tiga sandera yang rencananya akan dibebaskan pada hari yang sama.
Kabinet Israel menyetujui gencatan senjata pada hari Sabtu, dalam sebuah sesi yang langka di tengah Sabat Yahudi, lebih dari dua hari setelah mediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan tersebut.
Sejak pengumuman perjanjian gencatan senjata terbaru pada Rabu malam (15/01/2025), hingga berlaku secara resmi pada Minggu pagi (19/01), tentara Israel masih melakukan pemboman dan pembunuhan.
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel telah membunuh sekitar 46.913 penduduk Palestina dan melukai 109.750 lainnya hingga Minggu (19/01). Israel juga telah membunuh setidaknya 203 jurnalis sejak awal perang genosida, termasuk beberapa di antaranya dibunuh pada tahun baru ini. Hal ini dilakukan untuk menutupi dan meminimalisir penyebaran berita kejahatan yang dilakukan militer Israel.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (17/01/2025), sistem kesehatan Gaza membutuhan dana sekitar 10 miliar dolar dan waktu lima hingga tujuh tahun untuk membangun kembali bangunan dan fasilitas yang telah dihancurkan Israel.
The Times UK melaporkan pada Jumat bahwa biaya untuk membersihkan 50,8 juta ton puing yang disebabkan oleh pengeboman Israel terhadap bangunan perumahan, rumah sakit, masjid, gereja, sekolah, serta infrastruktur listrik dan sanitasi di Gaza diperkirakan hampir mencapai 1 miliar dolar. Sementara itu, biaya rekonstruksi dapat mencapai 80 miliar dolar.
Berdasarkan perkiraan PBB proses pembersihan puing-puing saja bisa memakan waktu lebih dari 14 tahun.
Membangun kembali rumah-rumah penduduk bisa memakan waktu hingga tahun 2040, dengan 90 persen populasi mengungsi dan banyak dari mereka tinggal di tenda. Di setiap meter persegi Jalur Gaza, kini terdapat lebih dari 107 kilogram puing, yang mungkin mengandung UXO (bahan peledak yang belum meledak), zat berbahaya, dan sisa-sisa jasad manusia,” menurut laporan PBB yang diterbitkan pada Juni.
PBB menyebut dalam laporannya bahwa jumlah total puing dari pemboman Israel di Jalur Gaza saat ini, lebih dari lima kali lipat jumlah puing yang dihasilkan dari pengeboman AS di Mosul pada 2017.
Perang genosida Israel di Jalur Gaza ini juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang, dengan kerusakan besar-besaran dan krisis kemanusiaan yang membunuh banyak lansia dan anak-anak. Ini menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan global terburuk yang pernah terjadi.
(T.FJ/S: Aljazeera, UN, RT Arabic)