Ditulis oleh: Ahmad Ibsais*
Gaza, NPC – Beberapa hari terakhir, saya menatap layar ponsel saya, menyaksikan rumah-rumah, sejarah, dan kenangan terbakar. Namun kali ini, itu bukan Jalur Gaza. Saya melihat kawasan Palisades terbakar. Bukit-bukit itu terbakar, sebuah gema yang menghantui dari api lain yang berkobar ribuan mil jauhnya.
Selama lima belas bulan, saya telah menyaksikan tanah dan rakyat Palestina di Gaza terbakar melalui layar dan tajuk utama berita, dan kini, saat saya melihat langit di atas sebuah kota di Amerika dipenuhi asap, jarak antara bencana-bencana ini runtuh menjadi satu kebenaran yang menyakitkan: api-api ini berbicara dalam bahasa yang sama tentang kehancuran. Tentang kolonialisme.
Api yang melahap Palisades bukan sekadar kebakaran hutan di California. Ini adalah cermin yang merefleksikan krisis global dari bencana-bencana yang saling terhubung. Ketika saya menutup mata, gambarnya bercampur: bukit-bukit yang terbakar di California, kebun zaitun yang terbakar di Gaza dan Palestina sejarah, cakrawala yang dipenuhi asap yang tak mengenal batas.
Penelitian dari Lancaster University mengungkapkan bahwa dalam enam puluh hari pertama setelah 7 Oktober, operasi militer Israel di Gaza telah menghasilkan lebih banyak gas pemanasan planet daripada yang dipancarkan oleh dua puluh negara yang rentan terhadap perubahan iklim dalam satu tahun penuh. Dalam sebulan saja, selama Oktober 2023, Israel menjatuhkan 25.000 ton bom ke Gaza, melepaskan gas pemanasan iklim setara dengan membakar 150.000 ton batu bara. Sementara penerbangan kargo Amerika yang mengirimkan senjata ke Israel juga mengonsumsi 50 juta liter bahan bakar aviasi hingga Desember, menyebarkan 133.000 ton CO2 ke atmosfer. Jumlah ini lebih banyak daripada total emisi tahunan seluruh negara Grenada, sebuah negara kecil yang terletak di Laut Karibia.
Namun, bencana lingkungan ini tidak dimulai dengan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza saat ini. Selama beberapa dekade, rakyat Palestina telah hidup dan bekerja dengan cara yang berkelanjutan dengan lingkungan mereka, mempertahankan lanskap adat dan menanam berbagai macam tanaman, dari semangka hingga zaitun – yang terakhir menjadi bagian penting dari budaya dan identitas Palestina.
Sejak 1967, Israel telah secara sistematis mencabut setidaknya 2,5 juta pohon di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk hampir satu juta pohon zaitun, yang merupakan sumber utama pangan dan penghasilan bagi banyak orang Palestina. Israel mengganti pohon-pohon ini dengan vegetasi Eropa yang diimpor, mungkin mencerminkan akar Eropa mereka sendiri. Penghancuran ini menyebabkan fragmentasi habitat, desertifikasi, degradasi tanah, dan erosi yang mempengaruhi ketahanan iklim seluruh wilayah.
Jika kita memasukkan biaya iklim dari infrastruktur perang, mulai dari terowongan, tembok, instalasi militer, totalnya mencapai 450.000 ton metrik CO2. Jumlah ini melebihi emisi tahunan 33 negara. Setiap bom yang jatuh di Gaza mengirimkan riak melalui masa depan kolektif kita, dampaknya terasa dalam meningkatnya permukaan laut, suhu yang lebih panas, dan ya, dalam kebakaran yang kini mengancam dan membakar bukit-bukit California.
Saya teringat petani-petani Palestina di Jalur Gaza, yang selama beberapa generasi merawat 170 kilometer persegi kebun dan ladang yang subur, hampir setengah dari tanah mereka didedikasikan untuk memberi makan rakyat mereka. Kini, gambar satelit menunjukkan lahan tandus di tempat kebun-kebun dulu tumbuh.
Militer Israel telah menghancurkan 70 persen sumur air di Gaza Utara, merobohkan ribuan rumah kaca, dan mengubah tanah subur menjadi tanah beracun. Semua ini terjadi bersamaan dengan penghancuran 80 persen infrastruktur Jalur Gaza. Antara Oktober 2023 dan Maret 2024 saja, 48 persen dari area yang sebelumnya dipenuhi dengan pepohonan, telah hilang atau rusak, baik karena operasi militer Israel atau ditebang oleh orang-orang yang putus asa mencari bahan bakar di bawah blokade ketat Israel.
Ironi yang pahit tidak lepas dari perhatian saya: Wali Kota LA memotong anggaran sebesar 17,6 juta dolar untuk departemen pemadam kebakaran, sementara California mengirim 610 juta dolar ke Israel melalui pajak warganya. The Wonderful Company, yang menguasai hampir 60 persen air California melalui keluarga Resnick (keluarga Yahudi pro-Zionis), menyuntikkan jutaan dolar untuk mendukung ekspansi teritorial yang telah mengubah lanskap Gaza menjadi bencana lingkungan.
Pada tahun 2025, Biden bahkan berusaha untuk mendorong tambahan 8 miliar dolar bantuan militer untuk mendanai genosida di Gaza, sementara ribuan warga AS dari Ashville, NC hingga Los Angeles menderita akibat krisis iklim. Kita mendanai api yang pada akhirnya sampai di depan pintu kita sendiri.
Luka-luka lingkungan di Gaza tidak akan sembuh dengan mudah. 37 juta ton puing-puing kini tersebar di seluruh Jalur Gaza, juga warisan beracun yang akan meracuni tanah dan air selama beberapa generasi. Setiap hari, 130.000 meter kubik limbah cair yang belum diolah mengalir ke Laut Mediterania – bukan karena rakyat Palestina memilih kehancuran ini, tetapi karena kekerasan Israel telah menghancurkan infrastruktur Palestina, kemampuan penduduk Palestina untuk merawat tanah mereka seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad.
Ketika saya melihat aktivis lingkungan yang berpaling dari Gaza, saya ingin membangunkan mereka. Pembangunan kembali 100.000 bangunan yang hancur dan rusak di Gaza saja akan menghasilkan 30 juta ton gas rumah kaca atau setara dengan emisi tahunan Selandia Baru dan lebih tinggi dari 135 negara lain, termasuk Sri Lanka dan Lebanon. Ini adalah utang iklim yang harus kita bayar bersama, sebuah api yang harus kita lawan bersama.
Api yang saya lihat menghanguskan Palisades membawa gema penderitaan Gaza: rumah-rumah yang menjadi abu, lanskap yang berubah, dan kehidupan yang terguncang. Namun, api itu juga membawa pesan lain. Sebuah peringatan mendesak tentang takdir bersama kita. Ketika kita membiarkan pemboman terhadap akuifer Gaza dan pencemaran tanahnya, kita mempercepat krisis iklim yang kini mengirimkan api ke California.
Ekosida (tindakan yang menyebabkan kerusakan parah dan sistematis terhadap lingkungan hidup yang dapat mengancam kelangsungan ekosistem dan kesejahteraan makhluk hidup) di Gaza, Jalur Gaza yang diakui sebagai kejahatan perang berdasarkan Statuta Roma, bukan sekadar tragedi yang jauh.
Ini adalah pertanda masa depan kolektif kita jika kita terus membiarkan perang lingkungan dan genosida berlangsung tanpa tantangan. Hal ini seperti yang diperingatkan oleh Benjamin Neimark dari Queen Mary University of London, “Keistimewaan lingkungan militer memungkinkan mereka untuk mencemari tanpa hukuman, seolah-olah emisi karbon yang keluar dari tank dan pesawat tempur mereka tidak dihitung. Ini harus dihentikan.”
Apa yang terbakar di Palestina dan Los Angeles saat ini adalah gejala dari penyakit yang sama: sebuah sistem yang lebih mengutamakan penaklukan daripada pelestarian, keserakahan daripada kesejahteraan manusia, perluasan daripada kelangsungan hidup. Inilah warisan dari pandangan dunia yang berusaha membungkam suara-suara pribumi yang memahami apa yang sekarang harus kita pelajari, bahwa luka bumi adalah luka kita sendiri.
Apa yang Anda biarkan di Gaza, Anda biarkan di mana pun. Hari ini ladang mereka terbakar di bawah bom ribuan pon; besok hutan kita yang terbakar. Api yang menghubungkan kita ini menuntut kita untuk akhirnya melihat kebenaran ini: kita berdiri bersama melawan kehancuran ini, atau kita semua terbakar secara terpisah.
—–
*Ahmad Ibsais adalah warga Amerika Palestina generasi pertama dan mahasiswa hukum yang menulis buletin State of Siege.
(T.FJ/S: Mondoweiss)