Gaza, NPC – Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet pada Kamis (09/01/2025), mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Gaza kemungkinan terhitung kurang hingga 41 persen selama sembilan bulan pertama perang.
Penelitian ini dilakukan oleh para akademisi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Universitas Yale, serta lembaga-lembaga lainnya.
Studi ini fokus pada periode antara Oktober 2023 hingga Juni 2024 dan mencatat jumlah korban jiwa yang mencapai 64.260, sekitar 8.000 lebih banyak daripada angka resmi yang ada saat ini.
“Kami memperkirakan 64.260 kematian akibat cedera traumatis selama periode studi ini, yang mengindikasikan bahwa Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) melaporkan kurang lebih 41 persen dari total kematian yang terjadi. Angka kematian tahunan per 1.000 orang adalah 39,3 persen yang menunjukkan rasio kematian yang mencapai 14 kali lebih banyak dibandingkan angka kematian akibat semua penyebab pada tahun 2022, meskipun tidak memperhitungkan kematian berlebih yang tidak terkait dengan cedera dan luka (akibat perang),” sebut penelitian tersebut.
Lebih dari separuh korban jiwa, yakni sekitar 59,1 persen, terdiri dari perempuan, anak-anak, dan lansia.
The Lancet juga menyoroti bahwa meskipun Kementerian Kesehatan Palestina awalnya dapat mencatat kematian dengan akurat, kapasitas mereka semakin menurun akibat serangan militer Israel yang menghancurkan rumah sakit dan mengganggu jalur komunikasi di seluruh wilayah.
“Peningkatan operasi darat militer Israel serta serangan terhadap fasilitas kesehatan telah mengganggu kemampuan untuk mencatat kematian secara elektronik. Kondisi ini memaksa Kementerian Kesehatan untuk mengandalkan metode pengumpulan data yang lebih tidak terstruktur, terutama ketika rumah sakit dikepung atau terjadi pemutusan jaringan telekomunikasi, yang berpotensi menyebabkan pelaporan yang tidak lengkap dan bias geografis, seperti yang terlihat di zona konflik lainnya.” sebut penelitian The Lancet.
Jumlah korban jiwa yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan pada awal perang hanya didasarkan pada jenazah yang tiba di rumah sakit Gaza, yang sebagian besar hancur atau rusak parah.
Studi The Lancet hanya menghitung kematian akibat cedera traumatis dan tidak mempertimbangkan mereka yang meninggal karena perang kelaparan atau ribuan orang yang diyakini terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Sebelumnya, The Lancet melaporkan pada Juni lalu bahwa jumlah korban jiwa di Jalur Gaza bisa mencapai antara 149.000 hingga 598.000 orang, dengan mempertimbangkan kematian langsung dan tidak langsung.
“Bahkan jika konflik segera berakhir, kematian tidak langsung akan terus terjadi dalam beberapa bulan atau tahun mendatang akibat penyakit, kerusakan infrastruktur kesehatan, serta kekurangan pangan dan air yang parah,” kata The Lancet.
Jurnal tersebut juga memperkirakan, “Dalam konflik baru-baru ini, jumlah kematian tidak langsung bisa mencapai tiga hingga 15 kali lipat jumlah kematian langsung. Dengan menerapkan estimasi konservatif empat kematian tidak langsung per satu kematian langsung terhadap 37.396 kematian yang dilaporkan, angka total kematian terkait konflik ini di Gaza bisa mencapai hingga 186.000 atau lebih”.
Dokter Palestina, Ghassan Abu Sittah, baru-baru ini menyatakan adanya bukti kuat yang menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa akibat perang genosida Israel bisa mencapai sekitar 300.000 orang.
Jumlah korban jiwa resmi di Jalur Gaza telah melampaui 46.000, dengan lebih dari 109.378 orang terluka. Operasi militer Israel telah menghancurkan hampir seluruh wilayah Jalur Gaza, termasuk rumah, masjid, sekolah, rumah sakit, universitas, lahan pertanian, dan infrastruktur air, menjadikan Gaza sebagian besar tidak layak huni.
Lembaga Amnesty International juga merilis laporan pada 5 Desember yang menyatakan adanya bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina dalam konflik yang berlangsung di Jalur Gaza.
(T.FJ/S: The Cradle)