Sanaa, NPC – Beberapa wilayah di Yaman menjadi sasaran serangan udara yang dilakukan oleh koalisi AS, Inggris, dan Israel, pada Jumat (10/01/2024). Serangan ini menargetkan sejumlah area, termasuk ibu kota Sanaa, yang menjadi pusat demonstrasi besar-besaran warga sipil.
Sebelas serangan udara mengguncang ibu kota Yaman, Sanaa, termasuk di sekitar Lapangan Al-Sabeen, yang saat itu dipenuhi oleh sekitar satu juta orang yang mengikuti pawai pro-Palestina mingguan. Distrik Harf Sufyan di Provinsi Amran, Yaman Utara, juga dihantam 12 serangan udara, sementara enam serangan lainnya menargetkan pelabuhan Hodeidah di bagian barat negara tersebut. Sebuah serangan juga menghantam pelabuhan Ras Issa di utara Hodeidah. Selain itu, pembangkit listrik utama di Haziz, selatan Sanaa, juga menjadi sasaran.
Menurut laporan dari surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, lebih dari 20 jet tempur terlibat dalam serangan ini. Perusahaan Penyiaran Israel (KAN) menyebutkan bahwa serangan tersebut merupakan operasi gabungan pertama antara AS, Inggris, dan Israel terhadap Yaman.
Serangan ini terjadi bersamaan dengan pengumuman dari Angkatan Bersenjata Yaman (YAF), yang tergabung dalam gerakan perlawanan Ansharullah. Yaman mengklaim telah melancarkan serangan pesawat nirawak dan rudal terhadap kapal induk USS Harry Truman serta kapal perang AS lainnya yang berada di dekat Laut Merah. Selain itu, Yaman juga mengumumkan penargetan Tel Aviv dengan tiga pesawat nirawak, yang menurut laporan Israel, berhasil ditembak jatuh pada Kamis malam.
Media Israel, Channel 12, menyebutkan bahwa serangan terhadap Yaman pada Jumat tersebut bukanlah respons terhadap serangan pesawat nirawak, melainkan sebuah “serangan besar yang telah direncanakan sebelumnya” sebagai bagian dari perubahan kebijakan Israel terhadap Yaman. Mereka juga menambahkan bahwa persiapan sedang dilakukan untuk merespons serangan Yaman terhadap Israel.
AS dan Inggris telah meningkatkan serangan terhadap Yaman untuk menghalangi militer Yaman melanjutkan operasi angkatan laut pro-Palestina yang menargetkan kepentingan terkait Israel dan kapal perang AS di wilayah Laut Merah. Meskipun menghadapi kekurangan informasi intelijen yang signifikan di Yaman, Israel baru-baru ini melancarkan serangan besar-besaran dan bersumpah untuk melanjutkan operasi mereka sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak dan rudal Yaman terhadap Tel Aviv dan wilayah lain di Israel.
Pejabat Israel juga baru-baru ini mengeluarkan ancaman terhadap kepemimpinan Yaman. Pasukan keamanan Sanaa mengungkapkan bahwa mereka berhasil menggagalkan rencana mata-mata yang melibatkan Inggris dan Saudi untuk mengumpulkan intelijen mengenai target militer dan pemimpin negara di Yaman.
Sementara itu, Sanaa menegaskan bahwa mereka tidak akan menghentikan operasinya hingga perang di Gaza berakhir. Abdul Malik Al-Houthi, pemimpin gerakan Ansarallah, dalam pidatonya pada 9 Januari mengatakan, “Lingkaran kepanikan, ketakutan, teror ekstrem, kecemasan, dan kekacauan besar meluas (di Israel)” sebagai akibat dari operasi yang dilakukan Yaman.
(T.FJ/S: The Cradle)