Gaza, NPC – Pada 22 Desember 2024, hanya beberapa hari sebelum Natal, Dewan Editorial Haaretz menerbitkan editorial berjudul, “Israel Kehilangan Kemanusiaannya di Gaza”. Artikel singkat ini menguraikan ketakutan yang telah lama ada di kalangan Zionis Liberal: bahwa kejahatan-kejahatan yang dilakukan di Gaza mengkhianati nilai-nilai dari koloni pemukim yang pada dasarnya menurut mereka baik dan bermoral.
Bagi mereka, proyek Zionis adalah semacam negara yang sah yang sekarang gagal memenuhi standar perilaku yang diharapkan untuk dipatuhi.
Sebuah tulisan yang dimaksudkan untuk menjadi pengakuan atas rasa bersalah dan seruan untuk menjadi lebih baik, pada akhirnya hanyalah sebuah catatan fiktif tentang sejarah koloni tersebut, yang menyerukan zaman yang lebih baik dan lebih bermoral.
Dengan mengurangi sejarah kekerasan yang dihasilkan oleh koloni dan menggambarkan gambaran revisi tentang proyek yang bermoral (meskipun terkadang bermasalah) dan pada akhirnya sah, bahkan mungkin bisa direformasi, mereka melakukan hal yang telah dicoba oleh banyak Zionis Liberal selama beberapa dekade: menghindari kebenaran yang tidak nyaman dan tak terhindarkan tentang proyek yang mereka pegang erat dan dukung.
Tidak Pernah Ada “Israel yang Baik”
Gerakan Zionis, dan kengerian yang terkait dengannya, sudah ada jauh sebelum proyek Zionis itu sendiri. Akar kolonisasi Palestina oleh mereka yang menyebut diri mereka Zionis bisa ditelusuri kembali hingga tahun 1880-an, dengan pemukiman kolonial pertama yang didirikan di tanah Palestina tersebut bahkan sebelum Kongres Zionis Pertama diadakan pada tahun 1897. Upaya awal ini, meskipun gagal dalam banyak hal, meletakkan dasar bagi kejadian yang akan datang.
Dengan penciptaan dan pengesahan Program Basel, gerakan Zionis menemukan dirinya bersatu dalam sebuah tujuan yang jelas: untuk “mendirikan rumah di Palestina untuk rakyat Yahudi, yang dijamin oleh hukum publik”. Meskipun lokasi yang diusulkan untuk proyek ini sempat dipertanyakan sedikit pada Kongres Zionis Dunia Keenam di Basel pada tahun 1903 dengan usulan Skema Uganda, di mana awalnya Zionis berencana untuk mengkolonisasi Uganda untuk dijadikan tanah Israel, akan tetapi akhirnya dibatalkan, ambisi kolonial gerakan Zionis selalu jelas.
Selama bertahun-tahun berikutnya, keberadaan Zionis akan terus meningkat di Palestina karena pemukim terus berdatangan ke proyek ini. Ribuan orang akan bergabung dengan pemukiman yang sedang berkembang, memperoleh tanah melalui pembelian yang tidak sah yang dinegosiasikan dengan pemilik tanah yang tidak hadir (tidak ada di tempat), dan kemudian memaksa orang Palestina keluar dari tanah yang telah mereka huni selama beberapa generasi.
Masyarakat Palestina terus dipaksa untuk menyesuaikan diri saat para penganut proyek Zionis bekerja menuju tujuan teritorial dan nasional mereka.
Sifat kolonial dari tujuan-tujuan ini tidak pernah benar-benar disembunyikan. Dalam surat yang kini terkenal kepada Cecil Rhodes yang ditulis oleh Theodore Herzl, surat ini dengan jelas mengungkapkan sifat sejati dari proyek tersebut:
“Anda diundang untuk membantu membuat sejarah. Itu tidak melibatkan Afrika, tetapi sepotong Asia Kecil; bukan orang Inggris tetapi orang Yahudi. Lalu, bagaimana saya bisa menghubungi Anda karena ini adalah masalah yang terbilang jauh bagi Anda? Bagaimana memang? Karena ini adalah sesuatu yang terbilang kolonial”
Herzl tidak sendirian dalam analisis ini. Ze’ev Jabotinsky, pendiri Zionisme Revisionis, berbicara tentang sifat kolonial ini dalam pidatonya di Tembok Besi pada tahun 1923, membandingkan orang Palestina dengan Aztec dan Sioux, yang telah dijajah oleh kekuatan luar. Ia bahkan menyatakan:
“Setiap populasi asli di dunia melawan penjajah selama mereka masih memiliki sedikit harapan untuk dapat membebaskan diri dari bahaya penjajahan. Itulah yang dilakukan orang Arab di Palestina, dan yang akan terus mereka lakukan selama masih ada secercah harapan bahwa mereka dapat mencegah transformasi (tanah) Palestina menjadi Tanah Israel”.
Pemimpin-pemimpin lain dari gerakan Zionis mewujudkan kata-kata ini, tidak hanya menggusur orang Palestina secara massal, tetapi juga melatih dan mempersenjatai diri mereka untuk persiapan serta pelaksanaan operasi militer yang bertujuan untuk menciptakan kejadian yang beberapa orang seperti Ben Gurion anggap sebagai komposisi demografis yang lebih menguntungkan di lapangan.
Menurut perkiraan Ben Gurion, tanah Palestina hanya akan berhasil dijajah jika komposisi demografis tanah tersebut adalah 70 persen pemukim Zionis dan 30 persen orang yang dijajah (dengan perencana kemudian merevisi angka ini menjadi perbandingan 60:40). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada tahun 1929, sekitar seperlima petani Palestina telah menjadi petani tanpa tanah akibat aktivitas kolonial yang akan memajukan kepentingan proyek ini dan mereka yang mendukungnya.
Orang Palestina, seiring berjalannya waktu, terus berorganisasi dan menjadi semakin militan dalam mempertahankan tanah mereka, yang puncaknya terjadi pada pemogokan umum yang berubah menjadi Pemberontakan Besar pada tahun 1936, yang dengan brutal dipadamkan oleh pasukan imperial Inggris dan mitra-mitra Zionis mereka.
Ketika gerakan nasional terus berlanjut setelah kegagalan pemberontakan pada tahun 1939, orang Palestina berjuang melawan gerakan Zionis yang semakin militan dan terorganisir, yang kemudian bergerak untuk mewujudkan tujuannya pada tahun 1940-an.
Nakba atau “bencana”, melibatkan pembersihan etnis massal terhadap lebih dari 750.000 orang Palestina dari lebih dari 530 kota, kota kecil, dan berbagai desa. Kota-kota seperti Jaffa dibelenggu dan dikosongkan di bawah tembakan penembak jitu dan pemboman Zionis. Desa-desa seperti Deir Yassin diserbu dan dibakar habis, dengan banyak kekejaman yang dilakukan terhadap orang-orang yang telah lama tinggal di desa tersebut. Selain menjadi operasi pembersihan etnis, Nakba juga merupakan operasi pemusnahan, yang menyebabkan kematian setidaknya 10.000-15.000 orang Palestina.
Periode inilah yang dirayakan oleh orang Israel setiap tahun sebagai periode dasar pembentukan resmi koloni tersebut yang sekarang menjadi Negara Israel.
Seperti yang kita ketahui sekarang, pembersihan etnis dan penindasan terhadap orang Palestina tidak berhenti pada tahun 1948 dengan pembentukan resmi koloni Zionis, yang menurut editorial Haaretz baru saja kehilangan “kemanusiaannya” tahun lalu. Setelah Nakba, ribuan orang hidup di bawah pendudukan (penjajahan) militer Zionis, diperlakukan secara brutal, dieksploitasi, dan diserang oleh penjajah Israel.
Orang Zionis mengusir ratusan ribu orang Palestina lagi pada tahun 1967 saat mereka berusaha menancapkan paku terakhir dalam peti mati gerakan pembebasan Palestina, serta lebih dari 100.000 orang Suriah, yang mendapati diri mereka berada di bawah pendudukan di Dataran Tinggi Golan. Proyek ini kemudian melanjutkan pendudukannya terhadap Lebanon hingga diusir paksa oleh pejuang-pejuang perlawanan Lebanon, pejuang yang terus melawan Zionisme hingga hari ini.
Saat ini, ketika jutaan orang Palestina hidup di kamp-kamp pengungsi di seluruh wilayah Arab, dilarang oleh penjajah Israel untuk kembali ke tanah air mereka, dan jutaan lainnya menderita di bawah sistem apartheid, genosida, dan invasi yang terus berlanjut, Zionis Liberal mendapati diri mereka tidak dapat membela proyek ini.
Kutukan mereka terhadap tindakan proyek ini saat ini tidak dapat membebaskan mereka dari sejarah revisi di mana koloni yang mereka inginkan untuk dipertahankan pernah memiliki legitimasi moral, apalagi hak untuk ada sama sekali. Tidak ada kolonialisme yang “baik” atau “bermoral”, tidak peduli betapa mereka berharap sebaliknya, dan tidak ada pemerintah yang “baik” atau “bermoral” di bawah kepemimpinan proyek semacam itu, baik Partai Likud maupun Partai Buruh Israel.
Bagian akhir dari tulisan Haaretz itu merangkum perasaan dewan editorial, yang diakhiri dengan pernyataan yang dimaksudkan sebagai kutukan definitif terhadap tindakan proyek ini dan mereka yang telah memimpin proyek ini menuju jalan yang tidak bisa kembali:
“Semakin banyak bukti yang muncul dari Gaza, semakin jelas gambaran memuakkan tentang hilangnya nilai kemanusiaan kita. Fakta bahwa banyak orang Israel mencoba untuk menyangkal kesaksian tentang hal yang sedang dilakukan di sana tidak hanya tidak membantu Israel di arena internasional, tetapi juga terus melegitimasi kejahatan dan ketidakadilan yang mencoreng karakter moral dan manusia negara ini”.
Kita harus bertanya pada diri sendiri apa bukti hari ini yang berbeda dari bukti-bukti selama beberapa dekade yang selalu diperlihatkan oleh orang Palestina dan mengapa inti dari masalah dalam genosida ini adalah, bagi Zionis seperti mereka, keadaan karakter moral dan manusia dari sebuah proyek yang tidak boleh dan tidak bisa ada dalam dunia yang adil.
Zionis Liberal, ketika mereka bergulat dengan hilangnya legitimasi yang terus dihadapi oleh proyek mereka, akan terus menyebarkan cerita yang sama tentang koloni yang bisa dan pada suatu saat pernah bermoral, tetapi kita yang mengetahui sejarah akan selalu lebih tahu daripada terlibat serius dengan fantasi semacam itu.
Genosida dan pendudukan terhadap orang Palestina hari ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonisasi Zionis terhadap Palestina. Para korban hari ini terhubung dengan para korban puluhan tahun yang lalu, para korban dari Nakba yang tidak pernah benar-benar berakhir, tidak peduli betapa mendesaknya para pendukung proyek genosida ini berharap sebaliknya.
Kita tidak seharusnya melihat kembali ke masa lalu yang dibayangkan di mana penjajah entah bagaimana lebih “bermoral” daripada saat ini, tetapi kita harus melihat ke masa depan tanpa pendudukan Zionis, masa depan di mana jutaan orang yang berada di bawah kekuasaan kolonial Zionis dapat bebas.
Proyek Zionis tidak kehilangan kemanusiaannya di Jalur Gaza, karena proyek kolonialis itu memang tidak pernah memiliki nilai kemanusiaan, sehigga bagaimana mungkin hilang.
(T.FJ/S: Mondoweiss)