Laporan UNRWA: Kondisi Kemanusiaan Terkini di Jalur Gaza

Gaza, NPC – Lembaga PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Sabtu (04/01/2025), mengeluarkan laporan terkait situasi terkini di Jalur Gaza dan Tepi Barat Palestina termasuk Jerusalem, di Tengah terus meningkatnya serangan genosida Israel.

Berikut ini merupakan sejumlah rangkuman laporan UNRWA terkait kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza hingga akhir tahun 2024 lalu:

  1. Tentara penjajah Israel terus melanjutkan pemboman udara, darat, dan laut di seluruh Jalur Gaza, yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan penduduk sipil dan kehancuran bangunan tempat tinggal serta infrastruktur publik.
  2. Di Gaza Utara, sejak 6 Oktober 2024, tentara Israel telah melancarkan ofensif darat dan terus memberlakukan pengepungan ketat. Operasi militer yang intens terus berlangsung di tengah hampir tidak adanya bantuan kemanusiaan yang masuk ke daerah tersebut, selain adanya gangguan komunikasi dan internet yang parah. Beberapa bagian dari provinsi Gaza Utara telah berada di bawah pengepungan ketat selama lebih dari tiga bulan. Akses tetap sangat menantang dan upaya mitra kemanusiaan untuk mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang terkepung terus dibatasi, meninggalkan ribuan orang tanpa akses terhadap makanan, air, listrik, atau perawatan kesehatan, sementara insiden korban massal terus terjadi. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa antara 6 Oktober hingga 30 Desember 2024, PBB berusaha mencapai daerah yang terkepung di Gaza Utara sebanyak 164 kali; dari jumlah ini, 148 upaya ditolak oleh pihak Israel dan 16 lainnya terhalang.
  3. WHO mengecam serangan terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan pada 27 Desember yang membuat fasilitas kesehatan utama terakhir di Gaza Utara tidak berfungsi. Pihak Israel mengonfirmasi bahwa mereka menahan direktur rumah sakit, Dr. Hussam Abu Safiyah. Sejak awal Oktober 2024, WHO telah memverifikasi setidaknya 50 serangan terhadap fasilitas kesehatan di atau sekitar rumah sakit tersebut. Dengan Rumah Sakit Kamal Adwan dan Rumah Sakit Indonesia yang sepenuhnya tidak berfungsi, serta Rumah Sakit Al-Awda yang hampir tidak dapat beroperasi dan sangat rusak akibat serangan udara baru-baru ini, jalur perawatan kesehatan bagi penduduk Palestina yang berada di Gaza Utara telah mencapai titik kritis.
  4. Bayi dan anak-anak di Jalur Gaza meninggal akibat hipotermia karena cuaca dingin dan kurangnya tempat perlindungan. Setidaknya lima bayi dilaporkan membeku hingga meninggal antara 24 dan 29 Desember. UNICEF menyatakan bahwa, dengan cuaca musim dingin dan suhu yang semakin turun, “Sangat mungkin akan ada lebih banyak nyawa anak yang hilang akibat kondisi tak berperikemanusiaan yang mereka alami, yang tidak memberikan perlindungan dari dingin.” Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa selimut, kasur, dan perlengkapan musim dingin lainnya selama berbulan-bulan terjebak dan menunggu persetujuan untuk masuk ke Gaza.
  5. UNICEF melaporkan bahwa sekitar 7.700 bayi baru lahir di Jalur Gaza tidak memiliki akses ke perawatan yang dapat menyelamatkan nyawa. Penurunan drastis kapasitas tempat tidur khsusus bagi bayi baru lahir telah memaksa banyak keluarga untuk mencari perawatan darurat di fasilitas yang tidak memadai. Hal ini, ditambah dengan kekurangan peralatan medis dan pasokan penting, menyebabkan kematian bayi baru lahir sulit dihindari.
  6. Pada 19 Desember, Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan bahwa memastikan masuknya obat-obatan dan peralatan kritis ke Jalur Gaza sangat sulit, Israel sengaja memberlakukan pembatasan ketat terhadap barang-barang yang dianggap memiliki “penggunaan ganda”.
  7. Berdasarkan laporan OCHA, pengawasan kualitas air baru-baru ini menunjukkan tingkat kontaminasi mikrobiologis yang mengkhawatirkan, dengan hampir 73 persen air minum dan lebih dari 97 persen sampel air domestik tidak memenuhi standar minimum nasional atau internasional untuk klorinasi air. Klorinasi air adalah proses penambahan klorin (biasanya dalam bentuk gas klorin atau senyawa klorida) ke dalam air untuk membunuh mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit. Proses ini dilakukan untuk memastikan air aman dikonsumsi dan memenuhi standar kualitas air yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan.
  8. FAO menyoroti bahwa perang genosida Israel telah memberikan dampak yang menghancurkan pada sektor perikanan di Jalur Gaza, dengan rata-rata tangkapan harian antara Oktober 2023 dan April 2024 turun menjadi hanya 7,3 persen dari sejumlah hasil tangkapan ikan pada tahun 2022, menyebabkan kerugian produksi sebesar USD 17,5 juta. Hal ini semakin memperburuk situasi ketahanan pangan yang sudah sangat buruk.
  9. Ketahanan pangan terus memburuk. Survei yang dilakukan oleh UNICEF antara 20 hingga 26 November mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen dari rumah tangga yang disurvei di seluruh Jalur Gaza memiliki setidaknya satu anak yang tidak mendapat makanan dalam tiga hari sebelum survei dilakukan. Secara keseluruhan, lebih dari 96 persen dari semua anak berusia enam hingga 23 bulan serta wanita hamil dan menyusui tidak memenuhi kebutuhan nutrisi dasar mereka, dengan penurunan tajam dalam keberagaman diet yang teramati dalam empat bulan terakhir, khususnya di Deir Al-Balah dan Khan Younis.
  10. Sementara itu, OCHA melaporkan bahwa krisis energi terus memburuk. Gas untuk memasak tetap sepenuhnya tidak tersedia di Gaza Utara dan dijual dalam jumlah terbatas dengan harga yang sangat mahal di Gaza Tengah dan Selatan.
  11. OCHA melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, Israel telah melakukan perintah evakuasi besar sebanyak lima kali di provinsi Gaza Utara. Puluhan perintah lainnya telah dikeluarkan untuk berbagai daerah di provinsi tersebut. Pada 18 Desember, tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk wilayah Bureij, yang merupakan lokasi tujuh instalasi UNRWA.
  12. Pada 22 Desember, tentara Israel dilaporkan membagikan selebaran di Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berisi informasi yang sama dengan perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh tentara Israel pada 15 Desember. Dua belas instalasi UNRWA terletak di area yang terdampak perintah evakuasi tersebut.
  13. Pada 28 Desember, tentara penjajah Israel mengeluarkan perintah evakuasi yang memengaruhi Gaza Utara, termasuk area yang memiliki 56 instalasi UNRWA.
  14. Pada 29 Desember, tentara penjajah Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk area di barat laut Gaza, khususnya wilayah Al-Nasr, Al-Awda, dan kawasan Al-Murabidin. Lima instalasi UNRWA terletak di area tersebut, dan sepuluh instalasi UNRWA lainnya berada di sekitarnya.
  15. Berdasarkan laporan OCHA, pada 31 Desember, sekitar 80,5 persen Jalur Gaza berada di bawah perintah evakuasi aktif dari pihak Israel.
  1. Berdasarkan laporan PBB, setidaknya 1,9 juta orang atau sekitar 90 persen dari populasi penduduk Palstina di seluruh Jalur Gaza telah mengungsi. Banyak di antaranya telah mengungsi berkali-kali, beberapa bahkan sepuluh kali atau lebih.
  2. Antara 7 Oktober 2023 hingga 30 Desember 2024, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza sebagaimana yang dilaporkan oleh OCHA, setidaknya 45.541 penduduk Palestina dilaporkan meninggal dunia di Jalur Gaza dan 108.338 lainnya terluka.
  3. OCHA melaporkan bahwa MoH Gaza merilis rincian 40.717 dari 42.010 korban jiwa pada 7 Oktober 2024. Korban jiwa ini termasuk 13.319 anak-anak, 7.216 perempuan 3.447 lansia, dan 16.735 pria. Di antara korban anak-anak, 786 anak berusia di bawah satu tahun, jumlah ini mewakili sekitar enam persen dari jumlah anak yang meninggal dunia yang identitas lengkapnya telah tercatat. Selain itu, hingga 7 Oktober 2024, MoH mencatat bahwa 35.055 anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka selama setahun terakhir.
  4. Hingga 29 Desember, jumlah total anggota tim UNRWA yang meninggal dunia akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 sudah mencapai 263 orang.
  5. Beberapa tantangan terus menghadang pengumpulan pasokan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan di titik perbatasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem di Gaza Selatan. Tantangan ini meliputi penurunan hukum dan ketertiban, perang dan ketidakamanan, kerusakan infrastruktur, kekurangan bahan bakar, serta pembatasan akses.
  6. Berdasarkan laporang OCHA, antara 1 dan 29 Desember, badan-badan PBB memantau pengumpulan 2.205 truk kemanusiaan dari titik perbatasan Jalur Gaza, tidak termasuk bahan bakar. Jumlah ini mewakili rata-rata harian hanya 76 truk kemanusiaan, jauh di bawah rata-rata ketika sebelum perang yang mencapai 500 truk (semua jenis) per hari kerja.
  7. OCHA melaporkan bahwa dari 569 pergerakan bantuan yang dikoordinasikan dengan pihak Israel di seluruh Gaza dari 1 hingga 30 Desember 2024, 224 ditolak aksesnya, 103 terhalang, 53 dibatalkan karena tantangan logistik dan keamanan, dan hanya 189 yang dipermudah.
  8. Dari 127 pergerakan bantuan yang diperlukan untuk melewati pos pemeriksaan militer Israel di Al Rashid atau Salah Ad Din untuk mencapai area di utara Wadi Gaza antara 1 dan 30 Desember, 43 ditolak, 31 terhalang, 17 dibatalkan, dan 36 dipermudah.
  9. Misi bantuan ke provinsi Gaza Utara cukup terganggu, terutama yang berusaha mencapai Jabalia, Beit Lahiya, dan Beit Hanoun. Antara 1 dan 30 Desember, PBB berusaha mencapai daerah yang terkepung di Gaza Utara sebanyak 60 kali, 55 di antaranya ditolak, dan lima diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan akan tetapi menghadapi hambatan.
  10. OCHA melaporkan bahwa misi bantuan yang dikoordinasikan ke daerah-daerah di provinsi Rafah, yang telah berada di bawah operasi militer Israel sejak Mei 2024, menghadapi tantangan serupa, dengan 36 dari 38 permintaan yang dikoordinasikan yang diajukan ke pihak Israel antara 1 dan 30 Desember ditolak, satu terhalang, dan satu dipermudah. Ini tidak termasuk 67 pergerakan yang dikoordinasikan ke pos perbatasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem, yang mana dua ditolak, 21 terhalang, lima dibatalkan, dan 39 dipermudah.

Sementara itu, di Tepi Barat termasuk Yerusalem, Israel terus meningkatkan kejahatan kemanusiaan terhadap penduduk Palestina. Berdasarkan laporan OCHA, antara 7 Oktober 2023 dan 31 Oktober 2024, Israel telah membunuh 736 penduduk Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Dari jumlah tersebut, 430 penduduk Palestina dibunuh sejak awal tahun 2024.

(T.FJ/S: UNRWA)

 

You might also like