Bahkan Jika Perang Berakhir, Gaza Sulit Kembali Menjadi “Rumah”

Gaza, NPC – Ada banyak perbincangan tentang kemungkinan gencatan senjata di Gaza sebelum pelantikan Presiden Terpilih AS, Donald Trump, pada 20 Januari 2025. Saya terus memegang harapan bahwa ini akhirnya akan berakhir — mungkin, hanya mungkin, kali ini akan berbeda. Namun meskipun perang berhenti, hidup seperti yang kita kenal rasanya sudah tak bisa dipulihkan.

Saya telah kehilangan begitu banyak: orang-orang yang saya cintai, pekerjaan saya, dan tempat-tempat di mana saya pernah merasa menjadi bagian darinya. Jalan-jalan yang saya lalui kini tak bisa dikenali lagi, dipenuhi puing-puing dan dihantui kenangan tentang mereka yang telah tiada. Apa yang tersisa tak lagi terasa seperti rumah. Ketika pembunuhan berhenti, meninggalkan Gaza mungkin akan menjadi satu-satunya jalan yang tersisa bagi banyak dari kami.

Puluhan tahun penderitaan kumulatif, dimulai dari 57 tahun pendudukan militer Israel dan 17 tahun blokade yang menyesakkan, telah memadamkan setiap keyakinan dalam diri saya bahwa kenyataan ini suatu hari akan berubah. Hidup di sini sudah lama menjadi perjuangan konstan yang ditandai dengan ketidakstabilan finansial, politik, dan keamanan. Kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, dan air bersih telah langka selama bertahun-tahun, sementara Israel terus melancarkan serangan-serangan tak terhitung jumlahnya ke wilayah kecil yang padat penduduk ini. Dampaknya, terutama pada anak-anak, sangat besar, dengan trauma meresap ke dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, meskipun menghadapi kenyataan pahit sepanjang tahun-tahun ini, rasa harapan masih tertanam dalam identitas Gaza. Kami percaya bahwa suatu hari keadaan bisa membaik. Hidup memang jauh dari sempurna, tetapi setidaknya bisa dijalani. Sekarang, hidup yang dulu kami anggap sulit terasa seperti sebuah privilese.

Garis Hidup yang Hancur

Sebelum 7 Oktober 2023, hidup saya penuh dengan aspirasi dan impian. Saya telah meraih gelar magister dalam bidang sastra komparatif dari Doha Institute for Graduate Studies di Qatar pada Mei 2023 dan kembali ke rumah dengan tujuan yang jelas: mengajar dan memberikan kontribusi bagi komunitas saya.

Meski dengan segala tantangan, saya tetap memegang harapan bahwa usaha kolektif dan tekad bisa membangun masa depan yang lebih baik di Gaza. Meskipun eskalasi Israel yang berulang adalah kenyataan yang tak bisa dielakkan, saya percaya saya bisa bertahan, seperti yang saya lakukan sebelumnya. Mencari pekerjaan tidaklah mudah karena tingkat pengangguran yang tinggi, tetapi pada September 2023, saya akhirnya mendapatkan posisi mengajar di sebuah pusat pendidikan kecil. Saya merasa bersyukur bisa tinggal di rumah yang indah di Kota Gaza, dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai.

Kami telah belajar untuk bertahan menghadapi kesulitan seperti listrik yang terbatas, air bersih yang langka, dan kesempatan yang terbatas. Dibandingkan dengan kehancuran yang kami hadapi saat ini, perjuangan-perjuangan tersebut terasa hampir dapat diatasi.

Tindakan Israel saat ini sepertinya dirancang untuk memaksa warga Gaza pergi, tidak harus semuanya ke gurun Sinai di Mesir seperti rencana awal mereka, tetapi ke mana pun mereka bisa pergi. Meskipun pengungsian ini dibingkai sebagai “sukarela,” kenyataannya sangat jauh dari itu. Israel secara sistematis menjadikan Gaza tidak layak huni, meninggalkan banyak orang tanpa pilihan selain untuk melarikan diri. Kehancuran Gaza sangatlah menyeluruh, memengaruhi setiap aspek kehidupan.

Saya mengingat Gaza sebagai tempat yang penuh kehidupan, kaya dengan tanah subur dan hasil pertanian. Kami menanam segala sesuatu, mulai tomat, zaitun, jeruk dan ladang-ladang selalu dipenuhi dengan tanaman yang sedang berbunga. Pohon-pohon menghiasi jalan-jalan, makanan terjangkau, dan ada keyakinan bahwa, tidak peduli seberapa sulit hidup, tanah akan memberikan yang terbaik bagi kami. Sekarang, lebih dari 65 persen lahan pertanian Gaza telah hancur, tanaman-tanaman lenyap, dan tanahnya tercemar. Para petani kini tak memiliki bibit, alat, atau air. Bahkan jika perang berakhir besok, Gaza akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makanannya sendiri.

Air hampir tidak ada lagi. Serangan bom telah menghancurkan infrastruktur, membuat sebagian besar penduduk kehilangan akses ke air minum yang bersih. Sumur-sumur rusak, pabrik desalinasi hampir tidak berfungsi, dan air limbah membanjiri ladang-ladang, menyebarkan penyakit. Sektor kesehatan sepenuhnya runtuh, dengan rumah sakit dan klinik yang dibom meninggalkan pasien sakit dan terluka tanpa hampir tanpa akses terhadap perawatan.

Pendidikan selalu sangat penting di Gaza. Bahkan di tengah segala kesulitan, sekolah-sekolah ada di mana-mana, dan kami sangat menghargai pembelajaran. Tingkat melek huruf di sini sangat tinggi, hampir mencapai 98 persen. Namun, sistem pendidikan kini juga telah runtuh. Lebih dari 625.000 anak kehilangan satu tahun ajaran penuh, dengan 93 persen bangunan sekolah rusak. Sekolah-sekolah yang masih berdiri kini berfungsi sebagai tempat penampungan yang penuh sesak, menjadikan pembelajaran hampir tidak mungkin dilakukan.

Ekonomi Gaza hancur lebur, bisnis, pabrik, dan pasar telah lenyap. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan kerusakan infrastruktur Gaza sudah mencapai lebih dari 18,5 miliar dolar pada Januari 2024, hampir setahun yang lalu. Tidak ada lagi dasar untuk membangun kembali.

Gaza kini menyusut, tidak hanya secara fisik, karena tentara Israel saat ini menguasai sebagian besar wilayah di Koridor Philadelfia dan Netzarim serta Gaza Utara, tetapi juga di ruang-ruang di mana kehidupan bisa berkembang. Lebih dari 215.000 unit perumahan telah hancur. Tempat penampungan yang tersisa sudah penuh sesak dan tidak aman, memberikan sedikit perlindungan bagi keluarga yang ada di dalamnya.

Perjuangan Tanpa Akhir dengan Gagasan untuk Pergi

Saat ini saya berada di Gaza Utara, setelah mengungsi tiga kali selama perang untuk mencari tempat yang relatif lebih aman. Setiap kali saya kembali ke rumah, saya mendapati rumah saya lebih hancur daripada sebelumnya, membuat pikiran untuk membangun kembali tampak semakin tak terbayangkan.

Proses membangun kembali Gaza akan sangat lambat dan sangat bergantung pada bantuan internasional. Berapa lama kita bisa terus bergantung pada belas kasihan negara lain? Bahkan dengan dukungan eksternal, skala kehancuran mungkin memerlukan waktu puluhan tahun untuk pulih paling cepat atau paling lama 350 tahun. Infrastruktur yang pernah menopang kehidupan kita hancur berantakan, dan dengan Israel yang mengendalikan pergerakan barang dan orang, pemulihan terasa tidak pasti. Sulit dipercaya bahwa kekuatan yang sama yang bertanggung jawab atas kehancuran Gaza akan mengizinkannya untuk membangun kembali.

Percakapan dengan teman-teman sering kali mengarah pada kesimpulan yang sama: kebanyakan dari kami bermimpi meninggalkan Gaza, bukan karena kami ingin meninggalkan tanah air, tetapi karena kami merasa tidak punya pilihan. Tidak ada masa depan di sini, tidak ada keamanan, tidak ada stabilitas, tidak ada peluang. Meninggalkan bukan tentang ke mana kami akan pergi; ini tentang melarikan diri dari keberadaan yang sudah tidak layak huni.

Ini bukanlah keputusan yang mudah. Bagi banyak orang, ini terasa seperti pengkhianatan yang diam-diam, seolah-olah meninggalkan Gaza sama halnya meninggalkan sebagian dari diri kita sendiri. Namun, bagaimana Anda bisa bertahan jika beban kehilangan semakin berat setiap hari, dan luka semakin dalam setiap momen yang berlalu?

Realitas kehidupan sehari-hari di Gaza membuat keputusan ini terasa semakin mendesak. Selama lebih dari setahun, orang-orang di sini telah menjalani kehidupan yang dilucuti martabatnya. Kami telah mengungsi berkali-kali, menghadapi kelaparan, dan melakukan tugas-tugas bertahan hidup yang melelahkan yang terasa seperti milik era lain. Kami membawa wadah air yang berat, mencari apa pun yang mungkin terbakar untuk memasak makanan, dan mencuci pakaian dan piring dengan tangan karena tidak ada listrik.

Banyak dari kami yang tinggal di tenda-tenda yang terbuat dari kain tua yang tidak memberikan perlindungan baik dari panas maupun hujan. Sebagian besar waktu kami dihabiskan untuk tugas-tugas yang diselesaikan orang lain dengan sekali klik tombol. Perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup ini menguras tenaga, membuat kami sulit membayangkan berapa lama lagi kami harus bertahan dalam kondisi hidup seperti itu.

Jangkar yang Putus

Namun, terlepas dari keputusasaan ini, tidak semua orang memiliki impian untuk pergi. Sebagian, terutama generasi yang lebih tua, bersikeras untuk tetap tinggal, meskipun itu berarti harus menanggung hal yang tak tertahankan.

“Ke mana aku akan pergi?” tanya ayahku. “Tidak ada yang menyambut kami di tempat lain”.

Bagi mereka, tinggal bukan sekadar pilihan, tetapi penolakan untuk melepaskan hubungan mereka dengan Gaza. Ini bukan sekadar tentang ketakutan akan hal yang tidak diketahui; ini tentang rasa memiliki. Di luar Gaza, mereka takut akan keterasingan karena mencoba membangun kembali kehidupan di dunia yang memandang mereka sebagai orang asing yang tidak diinginkan. Bagi mereka, Gaza tetap menjadi jangkar mereka, meskipun jangkar itu telah rusak.

Ayah saya sering mengingatkan saya bahwa saya cukup muda untuk memulai hidup baru di tempat lain. Namun baginya, di usia hampir 60 tahun, pemikiran untuk membangun kehidupan di tempat lain terasa hampir mustahil. Harapannya, seperti harapan banyak orang lainnya, adalah bahwa suatu hari nanti keadaan akan membaik, bahwa mungkin tempat yang mereka sebut rumah ini akan bangkit dari abu dan menawarkan rasa aman.

Meskipun kami sangat berharap, Gaza semakin menjauh dari tempat yang pernah kami kenal. Kota itu menjadi bayangan dari dirinya yang dulu. Bahkan jika kami diberi kesempatan untuk membangun kembali Gaza dari puing-puing, kita harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan bahwa Gaza yang kita ingat mungkin tidak akan pernah kembali.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

You might also like