Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, pada Minggu (29/12/2024), mengumumkan meninggalnya Jum’a Al-Batran, bayi Palestina yang baru berusia 20 hari akibat cuaca dingin yang ekstrem, sementara saudara kembarnya masih menerima perawatan intensif di rumah sakit Shuhada Al-Aqsa di Gaza Tengah.
“Jum’a Al-Batran meninggal dunia pada hari Minggu ini akibat cuaca dingin yang sangat ekstrem. Ia adalah bayi kelima yang meninggal karena dingin dalam waktu kurang dari seminggu ini,” kata Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza.
Sumber tersebut juga menyatakan bahwa kondisi saudara kembarnya, Ali, memburuk akibat cuaca dingin di sebuah tenda di Deir al-Balah, Gaza Tengah. Ali kemudian dipindahkan ke ruang perawatan intensif di rumah sakit Shuhada Al-Aqsa dan sedang menerima perawatan medis.
Beberapa hari sebelumnya, empat bayi Palestina yang baru lahir di Jalur Gaza, berusia antara 4 hingga 21 hari, juga meninggal karena suhu yang sangat rendah dan dingin yang ekstrem.
Kondisi Kesehatan Memburuk di Tengah Krisis
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, kelaparan yang melanda ibu-ibu di Gaza berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus penyakit di kalangan anak-anak, yang memperburuk situasi kesehatan yang sudah memprihatinkan di tengah kondisi sulit yang dialami oleh wilayah tersebut.
Sementara itu, tentara penjajah Israel terus melancarkan serangan udara dan tembakan artileri di seluruh Gaza untuk hari ke-450 berturut-turut. Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk akibat blokade. Lebih dari 90 persen penduduk yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di tenda-tenda pengungsian di tengah ancaman pemboman Israel.
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Rabu (25/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 45.361 orang dan 107.803 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 822 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
(T.FJ/S: RT Arabic, Mondoweiss)