Serangan Israel terhadap RS Kamal Adwan Tandai Puncak Pembersihan Etnis di Beit Lahiya Jalur Gaza

Gaza, NPC – Pada pagi hari, Jumat (27/12/2024), pasukan militer Israel menyerbu kompleks Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahiya, mengakhiri pengepungan hampir seminggu terhadap satu-satunya rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Utara.

Tentara memaksa pasien untuk dipindahkan dari Rumah Sakit Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia yang terletak lebih jauh di selatan kota, yang sebelumnya juga telah menerima perintah evakuasi dari militer beberapa hari sebelumnya.

“Departemen bedah, laboratorium, pemeliharaan, dan unit darurat telah dibakar habis, dan api kini semakin meluas,” bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh staf rumah sakit, memperingatkan bahwa pasien “berisiko meninggal kapan saja.”

Direktur Rumah Sakit, dr. Hossam Abu Safiya, mengatakan kepada media Palestina bahwa ia menerima “peringatan jelas dan langsung” dari militer bahwa ia akan ditangkap.

Dalam sebuah pernyataan, militer Israel mengklaim bahwa mereka beroperasi di dalam rumah sakit “berdasarkan informasi intelijen sebelumnya tentang keberadaan militan, infrastruktur teroris, dan aktivitas teroris di lokasi tersebut”.

Pada hari Kamis, berdasarkan keterangan dr. Abu Safiya serangan udara Israel terhadap sebuah bangunan di sekitar Kamal Adwan dilaporkan membunuh 50 orang, di antaranya adalah lima staf rumah sakit.

“Kami ingin dunia memahami bahwa rumah sakit ini sengaja menjadi sasaran. Orang-orang di sini bukan hanya pasien, mereka adalah korban dari upaya sistematis untuk menghancurkan kemampuan kami menyelamatkan nyawa,” katanya kepada +972 Magazine, majalah online independen dan nirlaba yang dikelola oleh sekelompok jurnalis Palestina dan Israel.

“Kami meminta kepada komunitas internasional untuk terlibat dan membuka koridor kemanusiaan untuk membawa bantuan serta melindungi sistem kesehatan, pekerja, dan pasien,” kata dr. Abu Safiya.

Serangan terhadap fasilitas medis di Beit Lahiya merupakan eskalasi terbaru dalam operasi pembersihan etnis brutal Israel di Gaza Utara, yang dalam tiga bulan terakhir telah memaksa mayoritas besar penduduk Palestina yang tinggal di daerah tersebut untuk mengungsi.

Salah satunya, Bader Al-Hout (68 tahun), menyaksikan kehancuran lingkungan tempat tinggalnya di Beit Lahiya secara langsung. Hingga akhir Oktober, ia dan keluarganya tetap tinggal di rumah mereka dekat Rumah Sakit Kamal Adwan. Namun, setelah rumah mereka rusak akibat serangan udara Israel, mereka pindah untuk tinggal bersama kerabat di bagian lain kota.

“Kami bertahan dengan makanan kaleng dan tepung yang kami simpan. Cucu-cucu saya menangis karena kelaparan, tetapi kami tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada mereka. Banyak tetangga kami yang tewas saat mencoba membawa air bersih dari rumah kosong atau rumah sakit. Kami tidak punya pilihan selain meminum air asin,” kata Al-Hout kepada +972.

Pada tahap awal pengepungan, pasukan Israel menargetkan kamp pengungsi Jabalia, menjadikan wilayah paling padat penduduk di Jalur Gaza itu sebagai “kota hantu”. Namun, seperti yang dilaporkan +972 pada akhir November, perhatian Israel kemudian beralih ke Beit Lahiya, membunuh ratusan warga kota tersebut dan memaksa ribuan lainnya mengungsi, melalui serangan udara pada gedung-gedung perumahan besar, tembakan dari drone quadcopter yang dikendalikan jarak jauh, tembakan tank, serta mencegah masuknya hampir semua bantuan kemanusiaan.

Sebelum dimulainya ofensif Israel pada awal Oktober, sekitar 400.000 penduduk Palestina terperangkap di Gaza Utara. Hari ini, menurut Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, hanya sekitar 20.000 yang masih bertahan. Data terbaru dari UNRWA memperkirakan jumlah yang lebih rendah, antara 10.000 hingga 15.000.

Pada awal operasi Israel, rumah-rumah tetangga Al-Hout adalahlah yang pertama kali menjadi sasaran, seperti rumah keluarga Amin dan Al-Amri.

Pada 29 Oktober, Al-Hout mengenang, “Ayah dari keluarga Amin, istri hamilnya, dan anak perempuan mereka yang berusia 2 tahun dibunuh. Di rumah keluarga Alamri, ada 27 orang di dalam (ketika serangan Israel terjadi); sebagian besar meninggal dunia, dan yang lainnya terluka parah”.

“Serpihan dan puing-puing dari bom mengenai gedung kami dan menghancurkan apartemen anak saya. Dia bekerja selama 12 tahun untuk membangunnya,” tambahnya.

Setelah pindah ke rumah kerabat mereka, Al-Hout dan keluarganya menolak untuk dievakuasi ke Kota Gaza selama beberapa minggu. Ia mendengar dari kerabat yang telah dievakuasi bahwa pasukan Israel menahan pemuda, bahkan mereka yang tidak memiliki keterkaitan dengan faksi politik Palestina. Ia khawatir nasib yang sama akan menimpa suami dan putra-putranya.

Ketika rumah tempat mereka berlindung juga dibombardir pada malam 21 Desember, Al-Hout menyadari bahwa terlalu berbahaya untuk tetap tinggal.

“Suara ledakan dari robot dan serangan udara sangat memekakkan telinga, tidak seperti apa pun yang pernah kami dengar sebelumnya. Jendela dan pintu hancur akibat ledakan yang dekat. Kami pikir itu mungkin malam terakhir kami hidup,” kenangnya. “Cucu saya yang berusia 5 tahun, Lina, menangis, bertanya kepada saya, ‘Mengapa mereka membom dan membunuh kami seperti ini?’”

Keesokan paginya, ia dan 17 anggota keluarganya meninggalkan Beit Lahiya menuju selatan ke Kota Gaza, tidak tahu di mana mereka akan menghabiskan malam pertama mereka. Saat mereka memulai perjalanan, mereka mengetahui bahwa salah satu tetangga mereka meninggal dunia pagi itu ketika sedang mencoba melarikan diri.

“Mayat-mayat tergeletak di jalanan Beit Lahiya. Saya tidak bisa berjalan jauh, tetapi jika saya berhenti, saya akan mati,” kata Al-Hout kepada +972, menggambarkan awal perjalanan mereka.

Di sebuah pos pemeriksaan militer di sepanjang perjalanan, tentara Israel menghentikan keluarga tersebut.

“Mereka mengambil empat putra saya dan suami saya yang sakit,” kenang Al-Hout. Berharap mereka akan dibebaskan di tempat, ia ingin menunggu mereka, tetapi tentara memerintahkan agar ia pergi bersama para wanita lainnya. Akhirnya, suami dan putra tertua Al-Hout dibebaskan, tetapi hingga saat ini, nasib dua putra mudanya masih belum diketahui.

Saat mereka tiba di pusat Kota Gaza, Al-Hout dan keluarganya mendapati diri mereka berada di Stadion Yarmouk, tempat ratusan pengungsi Palestina dari utara Jalur Gaza tinggal di tenda darurat. Di tengah kepadatan yang parah, keluarga ini belum berhasil menemukan tenda, bahkan tempat untuk mendirikannya.

Sambil menunggu kabar dari suami dan putra-putranya, Al-Hout merenungkan apa yang membawa keluarganya ke momen ini.

“(Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu) mengklaim bahwa ia ada di sini untuk tujuan tertentu, tetapi ia hanya ada di sini untuk menghancurkan. Namun, ia tidak sepenuhnya salah, Amerika bertanggung jawab, karena mereka memberinya lampu hijau,” kata Al-Hout.

“Saya seorang wanita lanjut usia, tolong, jelaskan kepada saya: Apa yang telah kami lakukan kepada Amerika sehingga kami pantas menerima kehancuran negara kami, tanah kami, dan rumah kami?”

“Jika Saya Hancur, Keluarga Saya Juga Akan Hancur”

Seperti Al-Hout, Nada Hammam, yang berusia 47 tahun, juga melarikan diri dari rumahnya di Beit Lahiya menuju Kota Gaza pada 22 Desember. “Hari kiamat,” begitu ia menggambarkan pengalaman tersebut.

Selama dua bulan, ibu dari tujuh anak ini menahan horor yang terjadi di Gaza Utara, dengan harapan yang putus asa untuk gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel. Namun, situasinya hanya semakin memburuk setiap harinya.

Kesehatan ayahnya yang berusia 71 tahun, yang menderita tekanan darah tinggi dan diabetes, memburuk dengan cepat saat persediaan obatnya habis. Obat kartilago yang biasa ia konsumsi untuk masalah punggungnya juga telah habis.

Pada 8 Desember, keadaan menjadi tragis. Hammam sedang menguleni roti di rumahnya ketika seorang tetangga bergegas masuk memberitahukan bahwa Hussain, saudaranya, terkena serangan udara Israel saat mencoba mencari makanan. “Kami hancur,” kenangnya.

Hammam, anak tertua dari saudara-saudaranya, tidak memanggil ambulans; ia mendengar bahwa tidak ada ambulans di Rumah Sakit Kamal Adwan.

“Saya meminta saudara-saudara saya untuk tetap bersama ayah kami sementara saya berjalan jauh untuk membawa saudara saya yang terluka (kembali ke rumah) di tengah tembakan. Saya menggendongnya di kursi roda sementara quadcopter menembak di sekitar kami,” katanya kepada +972.

Saat mereka tiba di rumah, Hussain menghembuskan nafas terakhirnya karena luka-lukanya. Keluarga itu menguburnya di lantai bawah gedung mereka.

Meski kehilangan telah begitu menghancurkan dan Jalur Gaza terus dibombardir oleh Israel, Hammam dan keluarganya sangat ingin tetap tinggal di rumah mereka di Beit Lahiya. Namun, seperti Al-Hout dan tak terhitung banyaknya orang lainnya, ia segera menyadari bahwa risikonya terlalu tinggi untuk tetap bertahan.

“Pada pagi 21 Desember, pemboman mencapai daerah kami,” kata Hammam.

Karena tebalnya awan asap pemboman bercampur serpihan, mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar jendela mereka. Namun, mereka bisa mendengar ledakan yang semakin dekat, serta teriakan tetangga yang memohon pertolongan.

“Empat saudari muda dari rumah terdekat meninggal dunia dalam serangan udara Israel saat mencoba membawa air dari atap,” kenangnya.

Hammam mengatakan pemboman semakin intensif pada malam hari. “Kami terjaga dari jam 10 malam hingga jam 6 pagi, beku ketakutan, bahkan tidak bisa pergi ke toilet. Kami hanya menunggu saat ketika tembakan berhenti”.

Keesokan harinya, keluarga tersebut memutuskan untuk mengungsi ke Kota Gaza. Saat mereka membuka pintu untuk pergi, mereka menemukan tiga mayat tergeletak di jalan.

“Kami bahkan tidak bisa mengubur mereka,” kata Hammam, suaranya penuh duka.

Saat mereka berjalan ke selatan melalui Beit Lahiya yang hancur, suami Hammam, empat putranya, dan ayahnya yang berusia 71 tahun ditahan di pos pemeriksaan militer. Tentara Israel memaksa Hammam untuk terus bergerak bersama para wanita lainnya. Seperti nasib dua putra Al-Hout, situasi mereka masih belum diketahui.

Setelah perjalanan yang melelahkan selama lima jam, Hammam dan kerabatnya akhirnya mencapai Kota Gaza, menemukan perlindungan di sebuah tenda darurat di trotoar Jalan Al-Wihda di pusat kota.

“Saya sangat lelah. Saya berusaha menyembunyikan air mata saya, karena jika saya hancur, keluarga saya juga akan hancur,” katanya kepada +972.

Serangan Sistematis terhadap Fasilitas Medis

Pada 24 Desember, pasukan Israel mengepung Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, yang saat itu merupakan salah satu dari tiga fasilitas medis terakhir di Gaza Utara. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, mereka memaksa evakuasi sekitar 65 staf medis dan pasien, banyak di antaranya kemudian berjalan kaki menuju rumah sakit di Kota Gaza yang terletak beberapa mil jauhnya.

Dalam beberapa hari terakhir, tank dan buldoser Israel, yang disertai dengan tembakan berat, juga mengepung Rumah Sakit Kamal Adwan, yang terletak lebih jauh ke utara, dalam serangan yang disebut oleh pejabat kesehatan Palestina sebagai serangan “belum pernah terjadi sebelumnya”. Juga ada laporan tentang pasukan Israel yang meledakkan robot jebakan di luar rumah sakit, sebelum militer mulai memaksa evakuasi fasilitas tersebut pada dini hari Jumat.

Berdasarkan laporan Direktur Rumah Sakit, dr. Hossam Abu Safiya, di antara korban yang dibunuh Israel dalam serangan dekat rumah sakit pada Kamis malam adalah dr. Ahmad Samour, dokter anak; Esraa Abu Zaidah, teknisi laboratorium; Abdul Majid Abu Al-Eish dan Maher Al-Ajrami, paramedis; serta Fares Al-Houdali, teknisi pemeliharaan.

Pada 23 Desember, dr. Abu Safiya memberi tahu +972 bahwa rumah sakit telah menjadi sasaran tembakan langsung. “Peluru telah menembus area kritis, termasuk unit perawatan intensif, departemen maternitas, dan departemen bedah. Drone telah menjatuhkan bom di atap dan halaman, dan kami hampir kehilangan pasokan oksigen kami karena kekurangan bahan bakar dan kebakaran”.

Israel juga menyerang salah satu generator utama rumah sakit yang membuatnya terbakar, sehingga semakin mengancam kemampuan fasilitas tersebut untuk beroperasi.

Pada Kamis, 26 Desember, situasi semakin memburuk, kata dr. Abu Safiya.

“Sayangnya, malam tadi lebih buruk dari malam sebelumnya. Jenis bahan peledak yang digunakan sangat mengkhawatirkan; jelas bahwa jumlah bahan peledak yang digunakan kali ini jauh lebih besar”.

“Serpihan dari ledakan ini menembus bangunan dan mengenai salah satu kamar pasien, melukai Perawat Hassan Al-Dabous. Ia menderita luka di kepala yang parah, tengkoraknya hancur dan wajah serta rahangnya patah. Saat ini ia berada di perawatan intensif, dan kondisinya sangat serius. Kamal Adwan kekurangan sumber daya untuk menangani kasus-kasus berat seperti ini. Kami sedang berupaya memindahkan pasien ke rumah sakit lain.” kata dr. Abu Safiya.

Ledakan terakhir terjadi sekitar pukul 4:30 pagi.

“Ledakan itu begitu kuat sehingga hampir menghancurkan semua yang ada di dalam rumah sakit, pintu, jendela, pembatas internal, dan kaca. (Ledakan itu) membuat departemen perawatan intensif hampir tidak berfungsi. Seorang anggota staf terluka oleh serpihan dari bahan peledak yang dijatuhkan oleh quadcopter,” kata dr. Abu Safiya.

Baca juga: Genosida Israel Terus Berlanjut, Tiga Bayi Palestina Meninggal Dunia Karena Kedinginan

Menjelang perintah evakuasi pada Jumat (27/12), rumah sakit menampung “75 orang korban luka-luka, bersama pendamping mereka, dan 180 staf medis, sehingga total orang yang ada di rumah sakit mencapai sekitar 350,” kata dr. Abu Safiya.

Abu Safiya menekankan bahwa komunitas internasional harus bertindak sekarang dan secepatnya untuk menghentikan kejahatan ini.

“Orang-orang yang kami rawat berisiko meninggal, karena kemampuan kami untuk merawat mereka semakin berkurang setiap jam,” kata Abu Safiya.

(T.FJ/S: +972 Magazine)

 

You might also like