Damaskus, NPC – Israel baru-baru ini menduduki sisi Suriah dari Pegunungan Hermon tanpa perlawanan berarti. Tindakan ini adalah bagian dari upaya Israel untuk memperluas zona penyangga di sepanjang perbatasan dengan Suriah. Hal ini dilaporkan The Jerusalem Post pada Senin (09/12/2024), yang menyebut bahwa pergerakan ini semakin memperkuat kontrol Israel terhadap wilayah strategis tersebut.
Pentingnya Gunung Hermon bagi Keamanan Israel
Gunung Hermon memegang peranan penting karena menyediakan kondisi tanah tinggi yang memungkinkan Israel untuk memantau seluruh kawasan dengan lebih mudah. Hal ini memudahkan Israel dalam mengantisipasi setiap ancaman potensial dari luar wilayahnya.
Lebanon’s LBCI melaporkan bahwa mantan kepala unit operasi militer Israel, Israel Ziv, menegaskan bahwa menguasai Gunung Hermon adalah langkah penting untuk meningkatkan keamanan Israel dalam jangka panjang. Penguasaan ini menjadi lebih krusial dengan adanya ancaman dari kelompok militan.
Perebutan Damaskus dan Kejatuhan Pemerintahan Assad
Pada hari Sabtu, militan dari Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), yang merupakan cabang dari Al-Qaeda, berhasil merebut Damaskus, mengakhiri pemerintahan Bashar Al-Assad yang telah bertahan selama bertahun-tahun. Seiring dengan kejatuhan pemerintah Suriah, militer Israel segera mengambil langkah cepat untuk mengamankan wilayah yang mereka anggap krusial.
Baca Juga:
Minggu pagi, militer Suriah menyampaikan bahwa pemerintahan Assad telah runtuh, memicu ketidakpastian besar di seluruh Suriah. Meski demikian, Israel telah lebih dulu memanfaatkan situasi ini untuk mengamankan posisi strategis mereka di Golan.
Israel-Teror: Hubungan Israel dengan HTS dalam Perang Suriah
Selama perang Suriah yang dimulai pada 2011, Israel tidak menganggap HTS sebagai ancaman serius. Bahkan, Israel diketahui memberi dukungan finansial, persenjataan, dan perawatan medis kepada kelompok militan tersebut. Israel juga terlibat dalam serangan udara terhadap pasukan Suriah yang terlibat konflik dengan HTS.
Amos Yadlin, mantan kepala intelijen militer Israel, pernah mengatakan bahwa Israel tidak khawatir dengan kelompok seperti HTS, yang pada saat itu dikenal sebagai Front Al-Nusra. Ia menyatakan, “Mereka yang menguasai sebagian besar perbatasan Golan tidak menyerang Israel. Mereka paham siapa musuh sebenarnya, dan itu bukan Israel”.
Tindakan Israel di Zona Penyangga: Keamanan Golan di Ambang Ancaman
Setelah kejatuhan pemerintahan Assad, militer Israel langsung bertindak cepat. Mereka menduduki zona penyangga yang berada di perbatasan Israel dan Suriah, wilayah yang dibentuk pasca Perang Yom Kippur 1973. Tindakan ini bertujuan untuk memperkuat posisi Israel dan melindungi warga Golan dari potensi ancaman militan.
Militer Israel mengklaim bahwa penempatan pasukan ini bersifat sementara. Namun, dengan ketegangan yang semakin meningkat, langkah tersebut dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Ambisi Ekspansi Israel: Menaklukkan Suriah dan Wilayah Palestina
Dalam sebuah dokumenter yang dirilis pada Oktober, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, yang juga ketua Partai Zionisme Religius, mengungkapkan ambisinya untuk menaklukkan seluruh wilayah Palestina hingga Sungai Yordan. Tidak hanya itu, ia juga menginginkan penguasaan ibu kota Suriah, Damaskus, serta wilayah yang lebih luas hingga Irak dan Arab Saudi.
Pernyataan Smotrich ini disampaikan dalam dokumenter Israel: Extremists in Power yang diproduksi oleh majalah berita Prancis-Jerman, ARTE Reportage. Tindakan Israel ini semakin mengonfirmasi ambisi besar mereka untuk memperluas wilayah yang mereka klaim.
Genosida Terus Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (09/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.758 orang dan 106.134 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 808 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.962 penduduk Lebanon dan lebih dari 16.520 terluka sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle)