Tel Aviv, NPC – Polisi Israel telah menangkap Eliezer Feldstein, ajudan senior dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bersama dengan empat orang lainnya, karena diduga membocorkan informasi intelijen sensitif kepada media asing. Dokumen pengadilan yang dirilis pada Minggu (03/11/2024), mengungkapkan bahwa informasi yang dibocorkan mengklaim bahwa Hamas berencana menyelundupkan sandera Israel dari Gaza ke Mesir.
Kebocoran intelijen ini dilihat sebagai upaya untuk merusak pembicaraan gencatan senjata yang sedang berlangsung dan mengalihkan perhatian publik dari kegagalan Netanyahu dalam mengamankan pembebasan sandera Israel.
Oposisi Tuduh Netanyahu Hancurkan Upaya Gencatan Senjata
Para pemimpin oposisi Israel mengutuk kebocoran ini, dengan menyatakan bahwa itu merupakan langkah sengaja dari kantor Netanyahu untuk menghindari tekanan guna mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Oposisi berpendapat bahwa tindakan Netanyahu, termasuk menghalangi pembicaraan damai, yang bertujuan untuk mencegah pembebasan sekitar 100 sandera Israel yang masih ditahan oleh Hamas, di mana diperkirakan sekitar 70 sandera masih hidup.
Meski mendapat desakan yang semakin besar dari keluarga sandera untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata, Netanyahu terus menghambat negosiasi, yang memicu tuduhan bahwa ia lebih fokus pada tujuan militer daripada pembebasan sandera.
Kebocoran Intelijen Membahayakan Strategi Militer Israel
Data intelijen yang bocor, yang dibagikan kepada Jewish Chronicle di Inggris dan Bild di Jerman, berisi rincian tentang rencana Hamas yang diduga akan menyelundupkan sandera Israel keluar dari Gaza. Meskipun Jewish Chronicle kemudian menarik kembali beritanya, dokumen tersebut menunjukkan bahwa kebocoran ini dapat merusak upaya Israel untuk membebaskan sandera. Informasi yang diambil dari sistem militer Israel dan dianggap “dikeluarkan secara ilegal” berpotensi mengganggu kemampuan Israel dalam merundingkan pembebasan sandera.
Kantor Netanyahu Membantah, Klaim Manipulasi Opini Publik
Pada hari Minggu, pemimpin oposisi Yair Lapid menuduh kantor Netanyahu melakukan “manipulasi opini public”. Menurut Lapid, dokumen yang bocor tentang pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, yang diduga berencana melarikan diri ke Mesir dengan sandera, adalah bagian dari strategi yang lebih besar untuk menggambarkan setiap kesepakatan gencatan senjata sebagai ancaman bagi keamanan Israel.
Kantor Netanyahu menggunakan kebocoran intelijen tersebut untuk membenarkan keberadaan pasukan Israel di Koridor Philadelphi, jalur penting yang terletak di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir. Netanyahu mengklaim bahwa tanpa kontrol atas wilayah ini, sandera bisa saja berakhir di Sinai, Mesir, atau bahkan di negara-negara seperti Iran atau Yaman.
Permintaan Terakhir Netanyahu Gagal Bawa Kesepakatan Gencatan Senjata
Di tahap akhir negosiasi gencatan senjata musim panas ini, Netanyahu bersikeras agar Israel tetap menguasai Koridor Philadelphi, sebuah permintaan yang akhirnya menyebabkan pembicaraan gagal. Hamas, bagaimanapun, telah lama menuntut penarikan penuh Israel dari Gaza sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Penolakan Netanyahu untuk menarik pasukannya dari wilayah Jalur Gaza menunjukkan bahwa ia lebih mementingkan kendali militer atas Gaza, meskipun krisis sandera terus berlangsung. Penolakan Netanyahu untuk menarik pasukan dari Gaza semakin memperburuk peluang perdamaian.
Koalisi Netanyahu Fokus pada Eskalasi Militer di Gaza
Anggota koalisi Netanyahu, termasuk Partai Likud, Partai Zionisme Religius, dan Partai Kekuatan Yahudi, telah menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk melanjutkan operasi militer. Tujuan mereka adalah melaksanakan pembersihan etnis Gaza dan kemungkinan untuk mencaplok wilayah Jalur Gaza dan menggantikan kota-kota Palestina dengan pemukiman Yahudi.
Tentara Israel telah mengonfirmasi bahwa militer saat ini sedang melaksanakan “Rencana Jenderal”, yang bertujuan untuk memindahkan paksa sekitar 300.000 penduduk Palestina yang saat ini masih bertahan di utara Jalur Gaza ke bagian selatan Gaza. Rencana ini mengarah pada menjadikan kelaparan sebagai senjatan atau melakukan pembunuhan penduduk sipil Palestina yang menolak atau tidak dapat meninggalkan wilayah utara Jalur Gaza.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (31/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.204 orang dan 101.641 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 766 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 2.822 penduduk Lebanon dan lebih dari 12.937 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle)