New York, NPC – Kementerian Luar Negeri Turki, pada Jumat (01/11/2024), mengirimkan surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang ditandatangani oleh 52 negara dan dua organisasi, mendesak penghentian total pengiriman militer ke Israel. Surat tersebut menuduh militer Israel melakukan genosida terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza. Seruan ini muncul di tengah ketegangan global yang semakin meningkat terkait konflik Israel-Palestina yang terus berlangsung.
Dalam konferensi pers di Djibouti pada 1 November, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan kembali seruan embargo senjata terhadap Israel. Fidan menyatakan bahwa menjual senjata kepada Israel berarti mendukung tindakan negara tersebut dan berkontribusi pada genosida yang terus berlangsung di Gaza. Ia menekankan bahwa pesan ini harus diulang pada setiap kesempatan, menyoroti tanggung jawab moral komunitas internasional untuk bertindak.
Tindakan Israel Membawa Wilayah ke Ambang Perang
Ahmet Yildiz, Duta Besar Tetap Turki untuk PBB, juga menyampaikan kekhawatirannya, menyatakan bahwa tindakan Israel telah meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut, membawa wilayah itu ke ambang perang. Turki secara konsisten mendesak respons internasional terhadap apa yang dianggapnya sebagai kejahatan perang Israel di Gaza.
Selain pernyataan Menteri Luar Negeri Fidan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga telah mendesak PBB untuk memberlakukan embargo senjata terhadap Israel. Erdogan percaya bahwa langkah ini akan menjadi solusi paling efektif untuk menghentikan kejahatan di Jalur Gaza. Ia juga menegaskan bahwa tindakan Israel, yang dianggapnya sedang menyebarkan “api konflik” ke seluruh wilayah, akan membawa akibat di masa depan.
Dilema Turki, Menyeru Embargo Senjata Sambil Terus Mengizinkan Transit Minyak ke Israel
Baca Juga:
Meskipun Turki secara vokal menentang tindakan Israel, negara ini terus mengizinkan transit minyak dari Azerbaijan ke Israel. Pipa minyak Baku-Tbilisi-Ceyhan, yang mengangkut minyak ke Israel ini sangat penting bagi operasi militer Israel. Minyak tersebut mendukung angkatan udara dan militer Israel, memungkinkan serangan terus berlanjut di Gaza dan Lebanon. Para aktivis mengungkapkan kekecewaannya terhadap kontradiksi ini, seraya menyerukan kepada Erdogan untuk “mematikan katup minyak” sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel.
Bisnis Turki dan Ekspor ke Israel di Tengah Konflik Gaza
Meskipun ada kecaman internasional, bisnis-bisnis Turki terus berlanjut dengan menjaga ekspor ke Israel, meskipun Turki secara resmi menyerukan embargo senjata. Menurut laporan Middle East Eye (MEE), eksportir Turki kini mengirimkan barang ke Israel secara tidak langsung melalui bea cukai Otoritas Palestina (PA). Cara ini menyebabkan lonjakan dramatis dalam ekspor Turki ke Palestina, yang meningkat 423% dalam delapan bulan pertama tahun ini. Pada bulan Agustus saja, ekspor Turki ke Palestina meningkat lebih dari 1.000%, menunjukkan bahwa hubungan dagang Turki dengan Israel terus berlangsung meskipun kekerasan di Gaza terus berlanjut.
Peningkatan angka perdagangan ini mencerminkan tren yang lebih besar, di mana Palestina digunakan sebagai saluran untuk mempertahankan hubungan perdagangan dengan Israel. Data dari Majelis Eksportir Turki (TIM) menunjukkan bahwa ekspor ke Palestina, yang secara resmi dimaksudkan untuk pasar Palestina, semakin sering digunakan untuk menghindari pembatasan ekspor langsung ke Israel. Perubahan ini telah menyebabkan lonjakan signifikan dalam volume barang yang mengalir ke Israel, meskipun ada sikap publik yang menentang tindakan Israel di Gaza.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (31/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.204 orang dan 101.641 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 766 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 2.822 penduduk Lebanon dan lebih dari 12.937 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle)