Sejak Oktober 2023, Israel Menangkap Sekitar 10.000 Penduduk Palestina di Tepi Barat

Yerusalem, NPC – Sejumlah organisasi tahanan Palestina, pada Senin (12/08/2024), merilis laporan singkat yang menyebutkan bahwa tentara penjajah Israel telah melakukan sekitar 10.000 penangkapan di seluruh wilayah Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki sejak dimulainya perang genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu.

“Jumlah total kasus penangkapan mencapai 10.000 di Tepi Barat dan Yerusalem,” sebut Komisi Urusan Tahanan Palestina, Masyarakat Tahanan Palestina (PPS), dan Asosiasi Addameer untuk Hak Asasi Manusia.

Berdasarkan laporan singkat tersebut, sejak 7 Oktober 2023 sebanyak 345 perempuan dan 700 anak-anak Palestina dipenjara di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki. Israel juga menangkap dan menahan sebanyak 94 wartawan, di mana 53 di antaranya masih dalam tahanan.

“Lebih dari 8.322 perintah penahanan administratif telah dikeluarkan sejak 7 Oktober, mulai dari perintah baru dan perpanjangan, termasuk perintah terhadap anak-anak dan wanita,” sebut laporan singkat tersebut.

Operasi penangkapan yang dilakukan Israel sejak 7 Oktober 2023 meningkat cukup pesat, disertai dengan meningkatnya kejahatan dan pelanggaran seperti penghinaan, pemukulan brutal, ancaman terhadap tahanan dan keluarga mereka, perusakan rumah-rumah tahanan, perampasan kendaraan, emas, dan uang, serta penghancuran bangunan di kamp-kamp pengungsi Tulkarem dan Jenin.

Berdasarkan data dalam laporan tersebut, sebanyak 22 penduduk Palestina telah meninggal dunia dalam sejumlah tahanan Israel. Jumlah belum termasuk puluhan tahanan Palestina dari Jalur Gaza yang kematiannya dalam tahanan masih belum diumumkan.

Laporan tersebut menambahkan bahwa jumlah penduduk Palestina yang ditahan Israel di berbagai penjara mencapai 9.900 orang dan data ini berubah-ubah setiap hari akibat penangkapan yang masih terus terjadi.

“Data tersebut tidak termasuk kasus-kasus penahanan dari Jalur Gaza, karena penjajah Israel menolak memberikan informasi apa pun dan terus melakukan kejahatan penghilangan paksa terhadap mereka. Tentara penjajah Israel telah menangkap sekitar 4.000 penduduk (Palestina) dari Gaza, selain ratusan warga Gaza yang ditangkap di Tepi Barat,” kata laporan tersebut.

Sistem penjara Israel yang sudah brutal berubah menjadi lebih buruk pada tahun 2022 di bawah pemerintahan Benjamin Netanyahu, yang menyebabkan anggota Knesset ekstremis Itamar Ben-Gvir mengambil alih kendali Kementerian Keamanan Nasional Israel.

Pekan lalu, Lembaga hak asasi manusia Israel B’Tselem menerbitkan laporan yang mengatakan bahwa sejak 7 Oktober 2023, penjara dan pusat penahanan secara efektif telah menjadi kamp penyiksaan di bawah arahan Ben-Gvir.

Laporan yang berjudul “Welcome to Hell” atau “Selamat Datang di Neraka” dari B’Tselem berisi kesaksian 55 penduduk Palestina yang secara kolektif menunjukkan adanya “kebijakan sistematis dan institusional tentang pelecehan dan penyiksaan penduduk Palestina di penjara Israel.

Kepala dinas keamanan Shin Bet Israel, Ronen Bar, memperingatkan dalam suratnya kepada Netanyahu dan Itamar Ben-Gvir pada akhir Juni bahwa 21.000 pendukung Palestina ditahan di penjara-penjara di seluruh Israel, dengan menyebut masalah tersebut sebagai “krisis penahanan”.

Ronen Bar memperingatkan bahwa jumlah tahanan di penjara-penjara Israel jauh melebihi kapasitas sistem penjara yang tidak lebih dari 14.500 orang. Ia mengecam kebijakan penjara Ben-Gvir dan mengatakan bahwa situasi tersebut merupakan “bom waktu” bagi Israel.

Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (12/08), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 39.897 orang dan 92.152  lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 606 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 140 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.

Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.

(T.FJ/S: RT Arabic, Palinfo)

 

You might also like