Gaza, NPC – Zainab Al-Jaabari (79 tahun), duduk beberapa puluh meter di depan lokasi pembantaian. Ia menunggu anggota keluarganya kembali setelah memeriksa tujuh putra dan cucunya, yang sedang berada di mushalla melaksanakan salat Subuh ketika pembantaian itu terjadi.
Anggota keluarga Zainab yang lain tiba untuk melihat sendiri kenyataan pembantaian itu: lebih dari seratus orang dibunuh tiga rudal yang ditembakkan oleh Israel. Jenazah mereka kini berserakan dan bercampur di mushalla di Al-Daraj di Kota Gaza. Keterlambatan anggota keluarga Zainab yang memeriksa pulang kemungkinanan akibat kengerian yang mereka temukan atau mungkin tidak dapat membayangkan bagaimana cara memberi tahu Zainab bahwa tujuh putra dan cucunya telah dibunuh.
Pada subuh hari Sabtu (10/08/2024), tentara Israel mengebom sebuah mushalla saat puluhan pengungsi tengah melaksanakan salat Subuh. Pengeboman tersebut menewaskan lebih dari seratus orang, yang sebagian besar terpotong-potong atau hancur hingga tidak dapat dikenali lagi. Karena alasan ini, identifikasi jenazah sejauh ini belum lengkap.
Mayoritas korban jiwa dalam pembantaian ini adalah kerabat dekat karena mushalla yang dibom tentara penjajah Israel merupakan sekolah yang menampung keluarga pengungsi yang berasal dari Kota Gaza. Mushalla yang hancur tersebut merupakan ruang milik Sekolah At-Tabi’een dan hanya digunakan oleh pengungsi yang berlindung di sekolah tersebut.
Pada saat pengeboman, mushalla tersebut dipenuhi oleh laki-laki. Sekarang, banyak perempuan yang mungkin telah menjadi janda dan banyak anak yang mungkin telah menjadi yatim piatu, duduk di depan ruang kelas lainnya yang tidak tersentuh oleh pengeboman, menunggu kabar tentang nasib keluarga mereka.
Tentara penjajah Israel mengatakan bahwa pihaknya mengebom mushalla tersebut karena ada unsur-unsur orang-orang bersenjata dari pejuang Palestina di sekolah tersebut, akan tetapi orang-orang yang mengungsi di sekolah tersebut membenarkan bahwa tidak ada pihak bersenjata di antara mereka. Hamas juga membantah tuduhan Israel dan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak ada orang bersenjata di sekolah tersebut.
“Kami tinggal di sekolah tersebut, lebih dari seratus keluarga, tidak ada pejuang (Palestina) di antara kami, tidak ada orang bersenjata di antara kami, mereka semua adalah anak-anak. Tentara Israel tidak meninggalkan apa pun bagi kami. Mereka membakar pohon-pohon, menghancurkan rumah-rumah, membunuh orang-orang, dan menghancurkan tanah. Apa yang dapat kami lakukan? Tidak ada yang dapat kami lakukan. Kami adalah anak-anak dan perempuan di sini. Kami tidak dapat berperang. Pernahkah Anda melihat suatu negara melakukan semua tindakan kriminal ini? Pernahkah Anda melihat orang-orang yang mengalami semua kejahatan ini?” kata Zainab Al-Jaabari kepada Mondoweiss.
“Yang kami miliki hanyalah doa. Kami berdoa melawan Amerika yang membantu Israel untuk membantai kami. kKami berdoa melawan semua orang yang melihat kami dibantai dan tidak melakukan apa pun untuk membantu kami. Kami tidak punya apa-apa lagi, dan tidak ada tempat untuk dituju. Satu-satunya yang kami miliki adalah laut, dan bahkan di sana, kami akan menemukan kematian,” katanya.
Putri-putri Zainab Al-Jaabari pergi ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptis di dekat sekolah yang dibom agar mereka dapat mengenali saudara-saudara mereka. “Saya tidak bisa banyak bergerak. Saya mengirim putri-putri saya ke rumah sakit untuk memeriksa anak-anak saya yang lain, tetapi belum ada satu pun yang kembali; semua putra dan cucu saya sedang berdoa pada saat pengeboman”.
Beberapa jam setelah pembantaian itu, nama-nama para syuhada yang telah diidentifikasi diumumkan, dan di antara nama-nama itu ada tujuh syuhada berasal dari keluarga Al-Jaabari. Mereka adalah putra dan cucu Zainab.
Setiap 70 Kg Bagian Tubuh Jenazah Dihitung Satu Orang
Di mushalla, ketika salat orang-orang berdiri berdekatan satu sama lain dalam saf salat. Setelah pengeboman Israel, jenazah para jamaah berbaur dan bercampur. Sejumlah besar jenazah para syuhada tidak dapat diidentifikasi.
Para penyintas pembantaian ini menceritakan pengalaman baru dan mengerikan yang terpaksa mereka alami setelah pengeboman Israel di Jalur Gaza: mereka bahkan tidak dapat mengidentifikasi jenazah orang-orang yang mereka cintai.
Akibat tim penyelamat tidak dapat mengidentifikasi banyak jenazah korban jiwa yang dikumpulkan akibat intensitas pengeboman yang mengerikan, para dokter di Rumah Sakit Al-Ahli Baptis tidak dapat mengidentifikasi setiap korban jiwa secara individual. Sebagai gantinya, para dokter mulai mengumpulkan bagian-bagian tubuh dalam kantong plastik dan memberikan 70 kilogram jenazah kepada keluarga seorang martir yang hilang.
Hassan Ahmad memberi tahu Mondoweiss bahwa ia mencari jenazah putranya Ali yang berusia 6 tahun. Setelah berjam-jam mencari, ia tidak menemukan jejaknya. Ia kemudian pergi ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptis untuk menanyakan tentang putranya, atau untuk mencari bagian tubuhnya agar saya dapat mengidentifikasi dan menguburkannya. Setelah pencarian panjang yang tidak membuahkan hasil apa pun, para dokter di Rumah Sakit Al-Ahli Baptis memberinya kantong plastik berisi 18 kilogram sisa-sisa jasad manusia dan berkata kepadanya, “Ini putramu; pergi dan kuburkan dia”.
“Saya tidak tahu apakah ini putra saya atau bukan, saya tidak tahu apa yang saya bawa di dalam tas ini. Mereka mengatakan ini putra saya, dan saya tidak tahu apa pun, dan saya tidak melihat apa pun tentang putra saya di dalam tas ini,” Ahmad menjelaskan.
“Saya mengumpulkan bagian-bagian tubuh suami saya”
Suara Manar Al-Zaim serak karena berteriak. Ia masih gemetar karena ketakutan. Al-Zaim, 43 tahun, menceritakan kepada Mondoweiss bagaimana ia bergegas ke mushalla segera setelah pengeboman untuk mencari suaminya.
“Orang-orang sedang salat di sana; mereka mengebom mereka dengan tiga rudal ketika pengeboman dimulai, dan saya melihat api; Saya tidak bisa mengendalikan diri, suami saya ada di antara mereka. Saya berlari seperti orang gila untuk mencari suami saya, saya memasuki musalla, dan api menyala di dalamnya. Saya menemukan sejumlah besar pemuda yang tubuhnya terbakar, saya mencoba memadamkan api di tubuh mereka, kemudian saya mulai mencari suami saya, saya tidak menemukannya, saya menemukan beberapa jenazahnya dan mengenalinya, tetapi saya tidak menemukan suami saya secara utuh,” kata Manar Al-Zaim.
“Kami semua adalah warga sipil di sini, melarikan diri dari kematian, pengeboman, dan kehancuran. Kami tidak lagi memiliki tempat yang aman. Kami tidak memiliki lagi tempat untuk pergi, di sini tentara Israel membunuh ratusan orang di mushalla saat mereka sedang salat, dan apa yang dunia lakukan setelah kejahatan ini?” tanya Manar Al-Zaim.
Saya Melihat Ayah Saya Dibantai
Muhammad Hamida (12 tahun), menceritakan kepada Mondoweiss bagaimana ia menemukan tubuh ayahnya, yang telah tercabik-cabik dalam serangan Israel. Ia mengatakan bahwa ia pergi bersama kakak laki-lakinya ke mushalla setelah pengeboman untuk menyelamatkan ayah mereka, yang sedang salat ketika itu.
“Ketika kami tiba, kami tidak dapat masuk karena banyaknya api, darah, dan potongan-potongan tubuh, tetapi kami ingin memeriksa ayah saya. Beberapa saat kemudian, kami dapat memasuki mushalla tetapi kami tidak tahan dengan pemandangan itu,” cerita Muhammad Hamida.
“Orang-orang potong-potong, ada banyak darah di lantai, dan potongan-potongan tubuh serta potongan-potongan kecil tubuh jamaah berserakan di mana-mana. Kami menemukan ayah saya tergeletak di tanah di sana. Kami mengenalinya, dan kerabat kami membantu kami menyeretnya keluar dari mushalla. Kami menemukan kepala manusia tersangkut di antara kakinya ketika kami membawanya keluar. Saya tercengang karena takut. Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini dalam hidup saya. Saya harap saya tidak akan pernah melihatnya lagi,” kata Muhammad Hamida.
“Mereka akan membunuh kami semua. Kami sendirian di sini, tidak ada yang peduli pada kami. Mereka membunuh ayah saya, dan sebulan yang lalu, mereka membunuh kedua paman saya. Mereka (Israel) akan membunuh semua orang yang masih tinggal di Gaza,” tambah Muhammad Hamida.
Genosida Terus Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Sabtu (10/08/2024), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pengeboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 39.790 orang dan 91.702 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pengeboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 606 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 140 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.
Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pengeboman Israel.
(T.FJ/S: Mondoweiss, Palinfo)