Gaza, NPC – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa (30/07/2024), mengumumkan bahwa 40.000 kasus hepatitis tercatat di Jalur Gaza. UNRWA memperingatkan bahwa memburuknya kondisi kesehatan akan memperparah penyebaran penyakit.
“Pusat kesehatan dan tempat penampungan UNRWA di seluruh Gaza melaporkan antara 800 hingga 1.000 kasus baru hepatitis per minggu atau berjumlah sekitar 40.000 sejak perang genosida Israel di Gaza pada bulan Oktober 2023,” kata UNRWA.
Di tempat-tempat pengungsian yang padat, berbagai penyakit menyebar, termasuk penyakit kulit. Hal ini terjadi akibat kurangnya kebersihan, kelangkaan air, dan tidak adanya pengolahan limbah, yang memperburuk situasi kesehatan akibat perang.
Tentara Israel dengan sengaja menghancurkan jaringan air, sumur, dan pabrik desalinasi air, sehingga menyebabkan krisis parah ketersediaan air minum bagi warga. Israel juga mencegah masuknya bahan bakar, yang menghambat pengoperasian pabrik desalinasi air di Jalur Gaza.
Sekitar dua juta warga di Jalur Gaza berulang kali terpaksa mengungsi dari rumah dan tempat penampungan akibat serangan bom dan rudal Israel. Mereka tinggal di sekolah-sekolah UNRWA dan mendirikan tenda di area terbuka dan jalan-jalan di bawah kondisi kemanusiaan yang sulit, tidak adanya air dan makanan, serta menghadapi penyebaran penyakit, di tengah-tengah pemboman yang masih terus terjadi.
Doctors Without Borders khawatir akan munculnya penyakit kulit lainnya, seperti leishmaniasis, yang bisa berakibat fatal dalam bentuknya yang paling mematikan. Sistem kekebalan anak-anak Gaza berada dalam kondisi terburuk akibat kekurangan gizi, yang membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit.
Data yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, awal Juli lalu, memperkirakan sekitar 150.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza menderita infeksi kulit mulai dari kudis, cacar air, kutu, herpes, dan penyakit kulit lainnya.
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (29/07), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 39.363 orang dan 90.923 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Sementara itu, lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: Palinfo)