Tel Aviv, NPC – Bentrokan antara polisi Israel dan pengunjuk rasa meletus di Tel Aviv pada hari Sabtu (25/05/2024)setelah ribuan orang berkumpul untuk berdemonstrasi menentang pemerintah dan menuntut Benjamin Netanyahu mengembalikan sandera yang ditahan oleh Hamas di Gaza.
Beberapa pengunjuk rasa di Tel Aviv membawa foto-foto tentara wanita yang muncul dalam sebuah video awal pekan ini yang menunjukkan mereka disandera dalam serangan Hamas pada 7 Oktober yang memulai perang antara Israel dan Hamas.
Beberapa diantaranya memegang spanduk bertuliskan: “Hentikan perang”. Pendemo Israel menuntut pemerintah untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas demi membebaskan tawanan Israel yang masih disandera.
Para pengunjuk rasa juga menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menuntut pemilu ulang.
“Kami semua melihat videonya, kami tidak bisa tinggal di rumah setelah pemerintah menelantarkan semua orang ini,” kata Hilit Sagi.
Perpecahan di kalangan warga Israel semakin parah terkait cara Netanyahu menangani perang melawan Hamas pasca serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang dari pihak Israel dan menyebabkan 250 lainnya ditawan. Israel mengatakan sekitar 100 sandera masih ditahan di Gaza, bersama dengan sekitar 30 jenazah lainnya.
“Pada dasarnya mereka tidak berbuat banyak agar para sandera bisa kembali, baik dengan kekuatan militer atau negosiasi. Tidak ada yang dilakukan,” kata Snir Dahan, paman Carmel Gat, yang masih ditawan Hamas.
Sekitar setengah dari 250 tawanan telah dibebaskan oleh Hamas, sebagian besar merupakan hasil perjanjian tukar tawanan
Pemerintahan Netanyahu menghadapi tekanan yang semakin besar, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk menghentikan perang dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza yang merupakan rumah bagi 2,3 juta warga Palestina, hampir 80% di antaranya adalah pengungsi.
Pada pekan ini, tiga negara Eropa mengumumkan bahwa mereka akan mengakui negara Palestina, dan kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional juga meminta ICC untuk menerbitkan surat perintah penangkapan bagi para pemimpin Israel, serta para pejabat Hamas.
Mahkamah Internasional, Jum’at kemarin telah memerintahkan Israel untuk mengakhiri serangan militernya di kota Rafah di Gaza selatan dan membuka perbatasan terdekat untuk bantuan kemanusiaan, namun Israel seperti biasa tidak menuruti tuntutan tersebut. Afrika Selatan juga menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina selama perang di Gaza, yang dibantah keras oleh Israel.
Pemboman Israel masih terus berlanjut di Gaza pada hari Sabtu dengan laporan serangan di Gaza utara dan tengah. Saksi mata mengatakan banyak orang tewas dalam serangan di kota Jabaliya dan Nuseirat.
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengumumkan bahwa mereka telah menjebak dan menyerang pasukan Israel di salah satu terowongan di Kamp Jabaliya, Gaza Utara, menyebabkan seluruh anggota pasukan tersebut tewas, terluka, dan ditangkap.
Lebih dari 35.000 warga Palestina telah tewas dalam agresi Israel saat ini ke Jalur Gaza, seperti dilaporkan Kementerian Kesehatan Palestina.
(T.RS/S:AsociatedPress)