Gaza, NPC – Para pejabat Israel, pada Senin (20/05/2024), menegaskan kembali niat untuk menyerang Rafah, ketika Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperkirakan bahwa lebih dari 810.000 orang terpaksa meninggalkan kota di selatan Jalur Gaza tersebut selama dua minggu terakhir.
Berbicara dengan Penasihat Keamanan Nasional Amerika, Jake Sullivan, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan bahwa Tel Aviv akan memperluas operasi militer di Rafah.
“Kami berkomitmen untuk memperluas operasi darat di Rafah hingga akhir penghancuran Hamas dan pemulangan sandera,” sebut sebuah pernyataan dari kantor Yoav Gallant.
Sementara itu, UNRWA mengkhawatirkan kondisi penduduk Palestina yang semakin parah dan mengalami risiko serius, di saat Israel terus membombardir segala tempat di Jalur Gaza tanpa menyisakan zona aman untuk berlindung.
“Eksodus berlanjut di Gaza. Setiap kali ada keluarga yang mengungsi, hidup mereka berada dalam risiko yang serius. Orang-orang terpaksa meninggalkan segalanya demi mencari keselamatan, akan tetapi tidak ada zona aman,” kata UNRWA.
Kurangnya bantuan di Rafah telah menyebabkan para petugas kemanusiaan mengatakan bahwa kota di selatan Jalur Gaza ini sedang menghadapi “apokaliptik” atau kehancuran total. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Martin Griffiths, mengatakan kepada wartawan AFP di sela-sela pertemuan dengan para pejabat di Doha bahwa kelaparan yang akan terjadi akan menjadi semakin parah.
“Jika bahan bakar habis, bantuan tidak akan sampai ke masyarakat yang membutuhkan. Kelaparan yang sudah lama kita bicarakan sedang terjadi. Saya rasa kekhawatiran kami, sebagai warga komunitas internasional, adalah konsekuensinya akan sangat berat, keras, sulit, dan apokaliptik,” kata Martin Griffiths.
Kecaman publik internasional semakin keras setelah Israel mengumumkan rencana invasi ke kota Rafah, kota paling selatan Jalur Gaza, yang menampung lebih dari satu juta pengungsi Palestina. Pada tanggal 6 Mei, Israel memerintahkan penduduk sipil Palestina yang mencari perlindungan di Rafah untuk mengevakuasi sebagian kota dan memulai serangan pasukan darat dan tank.
Bukti video penyerangan tersebut menunjukkan tentara Israel menembakkan peluru tank ke tenda-tenda pengungsi di Rafah.
Sementara itu, sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Selasa (21/05), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi 35.647 orang dan 79.852 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: The Cradle)