Gaza, NPC – Hampir setengah juta penduduk sipil Palestina secara terpaksa telah meninggalkan dan mengungsi dari kota Rafah di selatan Gaza pada Rabu (15/05/2024), akibat ancaman invasi Israel terus membayangi.
Pengungsian paksa massal penduduk sipil terus berlanjut ketika penduduk Palestina pada tanggal 15 Mei memperingati 76 tahun Nakba 1948.
Nakba yang dalam bahasa Arab berarti “bencana” membuka jalan bagi pembentukan negara Israel ketika geng dan milisi Zionis mengusir sekitar 750.000 penduduk sipil Palestina dari rumah dan desa mereka. Banyak di antara mereka yang mencari perlindungan di wilayah yang kemudian menjadi Jalur Gaza dan Tepi Barat serta berlindung di sekitar wilayah negara-negara Arab.
Geng dan milisi Zionis menyerang desa-desa Palestina dalam upaya pembentukan negara Yahudi Israel, yang secara etnis membersihkan penduduk aslinya.
Peringatan Hari Nakba tahun ini terjadi ketika pertempuran masih berkecamuk antara kelompok pejuang Palestina dan tentara penjajahan Israel. PBB memperkirakan sekitar 450.000 penduduk sipil Palestina yang menjadi pengungsi di Rafah, telah secara terpaksa mengungsi lagi dari Rafah sejak 6 Mei dan hampir 100.000 dari utara Gaza.
Hanya dalam waktu seminggu, seperempat dari 2,4 juta penduduk penduduk Palestina di Jalur Gaza telah kembali mengungsi. Israel telah membunuh lebih 35.000 penduduk sipil Palestina dalam serangan mematikan terhadap Jalur Gaza, di mana lebih 14.500 dari korban pembunuhan tersebut merupakan anak-anak.
Demontrasi dan aksi memperingati tragedi Nakba bermunculan di seluruh dunia sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Mahasiswa di Melbourne mengambil alih sebuah aula di Universitas Melbourne dan menamai aula tersebut dengan “Aula Mahmoud” untuk mengenang Mahmoud Al-Nouq, seorang mahasiswa Universitas Melbourne yang dibunuh dalam serangan udara Israel pada bulan Oktober.
“Kami tidak ingin berada di universitas yang mendanai penelitian untuk perang. Mahasiswa selalu berada di pihak yang benar dalam sejarah dan selalu mendapat reaksi seperti yang kita dapatkan saat ini,” kata Gemma O’Toole, mahasiswa Universitas Melbourne.
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza. Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (16/05), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 35.272 orang dan 79.205 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: The Cradle, Palinfo)