Gaza, NPC – Tiga tahanan Israel, pada Minggu sore (19/01/2025), diserahkan kepada Palang Merah di Gaza sebagai bagian dari fase pertama dari perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Langkah bersejarah ini akan segera diikuti dengan pembebasan 90 tahanan Palestina, yang menandai kemajuan penting dalam upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Ribuan penduduk Palestina, bersama dengan pejuang Brigade Qassam, memenuhi Al-Saraya Square di Kota Gaza. Mereka merayakan pembebasan tiga perempuan Israel yang diserahkan kepada Palang Merah, yang peristiwanya direkam dalam video. Adegan tersebut dipenuhi dengan sorakan dukungan untuk Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya, dengan bendera Palestina dikibarkan di udara.
Setelah para tahanan diserahkan dengan aman kepada Palang Merah, mereka akan diambil oleh tentara Israel di Pangkalan Reim, yang terletak di luar Gaza. Pasukan Israel mengoordinasikan langkah selanjutnya untuk mengembalikan para tahanan tersebut dengan selamat.
Pembebasan 90 Tahanan Palestina
90 penduduk Palestina dibebaskan dari penjara Israel dan disambut oleh kerumunan besar keluarga, teman, dan pendukung yang gembira saat mereka kembali ke rumah di Tepi Barat yang diduduki dalam pertukaran tahanan pertama gencatan senjata Hamas-Israel menyusul pembebasan tiga tawanan Israel di Gaza.
Sekitar pukul 1 dini hari waktu setempat pada hari Senin (20/01), bus Palang Merah yang membawa 90 tahanan Palestina tiba di Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, di mana mereka disambut oleh kerumunan ribuan orang meskipun ada peringatan dari pasukan Israel bahwa perayaan tidak akan diizinkan.
Polisi Israel terlihat meningkatkan kehadirannya di sekitar penjara saat keluarga menantikan pengumuman pembebasan orang-orang yang mereka cintai.
Keluarga Pemimpin Hamas Saleh Al-Arouri Juga Dibebaskan
Sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih besar, keluarga dari pemimpin Hamas yang telah meninggal, Saleh Al-Arouri, yang dibunuh di Beirut tahun lalu, juga dibebaskan. Tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk aktivis dan jurnalis, juga diharapkan akan dibebaskan dalam waktu dekat.
Khalida Jarrar, seorang politisi Palestina terkemuka dan petinggi Front Popular untuk Pembebasan Palestina (PFLP), adalah salah satu nama penting yang ada dalam daftar tahanan yang dibebaskan.
Tahanan Perempuan Palestina dan Anak-Anak
Menurut laporan dari media Israel, sebagian besar tahanan yang dibebaskan adalah perempuan dan anak-anak. Secara khusus, 77 akan perempuan Palestina yang berusia di bawah 18 tahun akan dibebaskan melalui pos perbatasan Beitunia ke Ramallah. Selain itu, 13 individu lainnya akan dipindahkan ke wilayah Yerusalem. Total pembebasan ini mencakup 69 perempuan dan 21 anak-anak, yang menandai langkah penting bagi keluarga dan komunitas mereka.
Pemukim Ekstremis Israel Mencoba Mencegah Pembebasan Tahanan Palestina
Ketegangan meningkat saat pemukim ekstremis berusaha menghalangi kendaraan Palang Merah dan mencegah pembebasan tahanan Palestina. Polisi Israel dengan cepat merespons, menangkap beberapa pemukim yang terlibat dalam tindakan-tindakan disruptif ini. Sementara itu, pasukan Israel melakukan penggerebekan di rumah-rumah tahanan Palestina, memperingatkan mereka agar tidak merayakan pembebasan anggota keluarga mereka yang akan datang.
Pertukaran ini menandai momen penting dalam konflik yang sedang berlangsung, memberikan secercah harapan bagi keluarga di kedua belah pihak. Komunitas internasional kini memantau dengan cermat perkembangan peristiwa ini.
Jumlah pasti warga Palestina yang akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata masih belum diketahui, dengan perkiraan yang dilaporkan berkisar antara sekitar 1.000 hingga hampir 2.000.
Pada tahap pertama kesepakatan tersebut, Hamas diharapkan akan mengembalikan total 33 tawanan Israel selama 42 hari ke depan, dengan pembebasan berikutnya akan dilakukan pada hari Sabtu.
Penduduk Palestina yang gembira berkumpul di sekitar bus Palang Merah Internasional yang membawa tahanan Palestina yang baru dibebaskan dari penjara Israel pada Senin dini hari, 20 Januari 2025. (Foto: Ammar Awad/Reuters)
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel telah membunuh sekitar 46.913 penduduk Palestina dan melukai 109.750 lainnya hingga Minggu (19/01). Israel juga telah membunuh setidaknya 203 jurnalis sejak awal perang genosida, termasuk beberapa di antaranya dibunuh pada tahun baru ini. Hal ini dilakukan untuk menutupi dan meminimalisir penyebaran berita kejahatan yang dilakukan militer Israel.
Berdasarkan perkiraan PBB proses pembersihan puing-puing saja bisa memakan waktu lebih dari 14 tahun.
Membangun kembali rumah-rumah penduduk bisa memakan waktu hingga tahun 2040, dengan 90 persen populasi mengungsi dan banyak dari mereka tinggal di tenda. Di setiap meter persegi Jalur Gaza, kini terdapat lebih dari 107 kilogram puing, yang mungkin mengandung UXO (bahan peledak yang belum meledak), zat berbahaya, dan sisa-sisa jasad manusia,” menurut laporan PBB yang diterbitkan pada Juni.
PBB menyebut dalam laporannya bahwa jumlah total puing dari pemboman Israel di Jalur Gaza saat ini, lebih dari lima kali lipat jumlah puing yang dihasilkan dari pengeboman AS di Mosul pada 2017.
(T.FJ/S: Aljazeera, UN, RT Arabic)