Palestina: Mei Jadi Bulan Pembantaian Tertinggi di Gaza Tahun 2026

Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza pada Selasa (02/06/2026), mengumumkan bahwa bulan Mei 2026 mencatat 119 korban jiwa akibat serangan pemboman Israel, angka tertinggi yang tercatat sejak awal tahun ini.

Dalam pernyataan persnya, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa perempuan, anak-anak, dan lanjut usia menyumbang sekitar 30 persen dari total korban jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat 19 anak yang meninggal dunia atau sekitar 16 persen dari keseluruhan korban, sementara 10 perempuan meninggal dunia atau sekitar 8,5 persen selama periode yang sama.

Data tersebut menunjukkan bahwa warga sipil masih terus menanggung dampak operasi militer yang berkelanjutan di Jalur Gaza. Situasi kemanusiaan dan layanan kesehatan di wilayah itu juga tetap berada dalam kondisi yang sangat berat, di tengah keterbatasan sumber daya serta serangan berulang yang menyasar rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Pengumuman ini disampaikan ketika otoritas kesehatan Palestina terus berupaya mendata jumlah korban jiwa dan mendokumentasikan korban luka. Proses tersebut menghadapi berbagai kendala karena sulitnya menjangkau seluruh wilayah yang terdampak operasi militer Israel.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, tantangan di lapangan masih menghambat upaya pendataan secara menyeluruh, terutama di daerah-daerah yang masih menjadi lokasi aktivitas militer dan mengalami kerusakan infrastruktur yang luas.

Di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza juga terus memburuk. Menurut data terbaru Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), sekitar 65.000 penduduk Palestina saat ini masih tinggal di 82 tempat penampungan darurat yang dikelola lembaga tersebut.

Sebanyak 126 fasilitas UNRWA berada di wilayah yang aksesnya dibatasi atau berada di bawah kendali militer Israel, sehingga menghambat distribusi bantuan kemanusiaan dan layanan dasar bagi penduduk sipil.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa sebagian besar penduduk Gaza masih hidup dalam kondisi pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas. Banyak keluarga tinggal di tenda atau tempat penampungan sementara yang padat, dengan akses terbatas terhadap air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Risiko penyakit juga meningkat akibat penumpukan sampah, genangan limbah, serta memburuknya kondisi lingkungan di lokasi-lokasi pengungsian.

Lebih dari dua juta penduduk Gaza kini hidup di wilayah yang semakin sempit akibat perpindahan berulang dan pembatasan akses. Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa kepadatan penduduk yang ekstrem, minimnya tempat berlindung yang layak, serta terbatasnya bantuan kemanusiaan berpotensi memperparah krisis kesehatan dan sosial yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

(T.FJ/S: RT ArabicUNRWAUN)

 

You might also like