Al-Quds, NPC – Dinding Buraq adalah bagian tidak terpisahkan dari Masjid Al-Aqsa. Ia merupakan salah satu bagian dari pagar barat Masjid Al-Aqsa. Terletak antara gerbang Al-Magharibah di selatan dan Gerbang As-Silsilah di utara.
Situs yang memiliki panjang 50m dan tinggi 20m itu diberi nama Buraq karena keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw. di malam Israk Mikraj, mengikat tunggungannya yang bernama buraq di salah satu tempat di dinding tersebut.
Sedangkan orang-orang Yahudi dan sebagian Nasrani beranggapan bahwa dinding tersebut merupakan bagian dari Kuil Nabi Sulaiman. Mereka menyebutnya Dinding Ratapan atau Wailing Wall. Karena di tempat inilah mereka meratapi kesedihan atas hilangnya kuil dari genggaman mereka.
Namun faktanya, itu hanyalah sebuah penipuan sejarah dan konspirasi Yahudi untuk merebut Masjid Al-Aqsa dari umat Islam. Karena Masjid Al-Aqsa sudah berada di tempat tersebut sejak Nabi Adam as, jauh sebelum masa Nabi Sulaiman as.
Apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman hanyalah merenovasi Masjid yang telah ada ditempat tersebut. Bukan membangun kuil untuk menyembah selain Allah, Karena Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi.
Dulunya Yahudi sama sekali tidak mendapatkan akses untuk beribadah di tempat ini. Karena faktanya mereka tidak bisa memberikan bukti atas kliam mereka yang menyebut dinding buraq sebagai bagian dari Kuil Nabi Sulaiman.
Namun, melalui strategi step by step,mereka berhasil menguasai dan bahkan menghilangkan berbagai simbol-simbol dan bukti sejarah Islam yang berada di lingkungan tersebut.
Sejarah Usaha Israel Merebut Dinding Buraq dari Umat Islam
Turki Utsmani yang dikenal sangat terbuka untuk berbagai golongan menjadi tujuan Yahudi ketika itu. Namun demikian mereka tidak diizinkan untuk tinggal di kawasan Palestina, khususnya Yerusalem. Sebuah firman (undang-undang) dikeluarkan pada tahun 924H untuk melarang pendudukan Yahudi bahkan di wilayah Sinai Mesir, karena merupakan gerbang untuk masuk ke Palestina.
Namun permintaan tersebut ditolak mentah-mentah.
Namun Turki Utsmani ketika itu yang sedang di puncak kelemahannya tidak mampu berbuat banyak. Akhirnya mereka mengeluarkan firman mengizinkan Yahudi untuk mendatangi Yerusalem selama tiga bulan saja dalam setahun. Paspor mereka juga disita untuk mempermudah mengendalikan pergerakan orang-orang Yahudi tersebut.
Namun firman ini dengan mudah disiasati oleh Yahudi, yaitu dengan menyembunyikan identitas keyahudian mereka.
Menanggapai hal tersebut pemerintah Turki Utsmani mewajibkan untuk mencantumkan kolom agama pada paspor. Dari sini kita dapat mengetahui seberapa besar bahaya yang ditimbulkan dari usaha sebagian kelompok untuk menghapus kolom agama dari kartu identitas.
Tapi Syekh Muhammad Amin tidak tergoda, beliau malah memberikan perintah agar Dinding Buraq direnovasi dan diperbaiki.
Hal yang sama juga pernah ditawarkan kepada Mufti Yerusalem lainnya, Syekh Sa’duddin Al-Alamiy (w. 1993M), dengan jumlah yang lebih besar, yaitu satu juta Pound Sterling. Namun beliau juga menolaknya.
Ratusan warga Palestina, termasuk di antaranya beberapa murid Syekh Izzuddin Al-Qassam (w. 1935M) mendapatkan hukuman mati. Sedangkan di pihak Yahudi, hanya ada satu keputusan hukuman mati yang diberikan kepada seorang Yahudi yang membunuh Imam Masjid berikut dengan seluruh anggota keluarganya. Itupun kemudian mendapatkan keringanan melalui vonis hukuman penjara untuk beberapa tahun.
Komite Investigasi dalam surat keputusannya lagi-lagi membenarkan kepemilikan umat Islam akan Dinding Buraq. Keputusan itu turut disampaikan kepada Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang didirikan untuk menjaga kedamaian dunia.
Pada tahun 1930M, LBB secara resmi mengeluarkan surat pernyataan bahwa Dinding Buraq adalah hak mutlak umat Islam. Tapi Yahudi tidak pernah mengindahkan konsensus tersebut. Karena mereka menganggap diri mereka “berada lebih tinggi di atas undang-undang”.
Aktivitas perampasan dan penjarahan Dinding Buraq tidak hanya sampai di situ. Pada tahun 1984, Parlemen Israel (Knesseth) mengambil alih kekuasan hukum atas dinding ratapan dari tangan Lembaga Wakaf Islamiah.
Berlanjut pada tahun 2006, dimana Yahudi secara resmi membangun dan meresmikan sebuah gereja Yahudi di sisi kiri Dinding Buraq. Terget Israel di Yerusalem hari ini bahkan tidak hanya sebatas Dinding Buraq. Tapi justru mereka bermimpi untuk mengusai Masjid Al-Aqsa serta meruntuhkannya demi membangun Kuil Sulaiman.
(HN)