Gaza, NPC – Pada 24 Mei 2026, Karam Ismael (43 tahun) menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengaku sebagai perwira militer Israel. Pesan yang disampaikan singkat: tinggalkan rumah dalam waktu 20 menit sebelum bangunan itu dibom.
Awalnya, Ismael mengira ancaman tersebut hanya taktik intimidasi, serupa dengan pesan-pesan yang kerap dikirim militer Israel saat melakukan operasi di kawasan permukiman. Panggilan itu merupakan salah satu dari sejumlah telepon yang diterima warga Kamp Pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, yang memperingatkan penduduk di sekitar Supermarket Al-Quds dan klinik lokal milik UNRWA untuk segera mengungsi. Kawasan tersebut mencakup puluhan rumah yang selama dua tahun terakhir belum pernah menjadi sasaran serangan udara.
Empat menit setelah panggilan pertama, telepon Ismael kembali berdering. Perwira tersebut mengatakan bahwa warga hanya memiliki waktu 10 menit tersisa dan memerintahkannya segera meninggalkan rumah serta memperingatkan para tetangga.
Kali ini, Ismael menganggap ancaman itu serius. Ia bersama para tetangga bergegas meninggalkan kawasan tersebut tanpa sempat membawa barang-barang mereka.
Sekitar setengah jam kemudian, drone jenis quadcopter terlihat melayang di atas blok permukiman itu, disusul kedatangan jet tempur. Tak lama kemudian, seluruh blok perumahan rata dengan tanah.
Insiden tersebut bukan yang pertama dalam beberapa pekan terakhir. Militer Israel berulang kali memerintahkan evakuasi seluruh kawasan permukiman sebelum membombardir rumah-rumah penduduk Palestina.
Menurut laporan penduduk Palestina, militer Israel kini menerapkan pola baru selama masa gencatan senjata, yakni menargetkan blok-blok perumahan yang sebelumnya tidak mengalami invasi darat maupun serangan udara selama perang dan masih dihuni pemiliknya. Dalam sepekan terakhir, pola itu disebut meningkat dengan menyasar kawasan yang sebelumnya relatif tidak mengalami kerusakan.
Perwira yang menghubungi Karam Ismael tetap berada di sambungan telepon selama lebih dari setengah jam untuk memastikan seluruh warga telah meninggalkan lokasi.
Ketika Ismael bertanya rumah mana yang menjadi sasaran, perwira tersebut langsung memotong pembicaraannya.
“Itu bukan urusan Anda,” kenang Ismael. “Beri tahu saja para tetangga.”
Dalam sepekan terakhir saja, militer Israel dilaporkan membombardir blok permukiman milik keluarga Al-Kurd di Nuseirat pada 22 Mei, keluarga Al-Khatib di Al-Bureij dan keluarga Abu Shamala di Al-Maghazi pada 23 Mei, serta keluarga Al-Tawil di Nuseirat pada 26 Mei.
Dalam setiap kasus, pola yang muncul serupa: kawasan permukiman sipil yang tidak memiliki keterkaitan jelas dengan aktivitas militer menjadi sasaran pengeboman untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung, sekaligus menyebabkan keluarga-keluarga yang tinggal di sana mengungsi untuk pertama kalinya.
Eskalasi ini terjadi ketika Israel secara terbuka mengancam akan kembali meningkatkan operasi militernya di Gaza.
Setelah sejumlah faksi Palestina menolak tuntutan Amerika Serikat untuk melucuti senjata dan menolak syarat-syarat yang diajukan utusan Presiden Donald Trump, Nickolay Mladenov, pada pertengahan April, media Israel melaporkan bahwa militer sedang mempersiapkan dimulainya kembali operasi militer “secepatnya bulan depan”.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengisyaratkan hal serupa setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyatakan bahwa Israel kini akan “berfokus pada Hamas”.
Menurut laporan Drop Site News, Mladenov menyampaikan peta jalan berisi 15 poin kepada Hamas yang menjadikan pelucutan senjata total sebagai syarat utama bagi rekonstruksi Gaza maupun penarikan pasukan Israel.
Hamas dan faksi-faksi perlawanan Palestina lainnya menolak syarat tersebut dengan menyebutnya sebagai “syarat pendudukan”. Mereka menilai Israel sendiri belum memenuhi satu pun kewajiban dalam tahap pertama kesepakatan, termasuk pembukaan kembali perlintasan Rafah, masuknya bahan-bahan rekonstruksi, serta penarikan pasukan dari wilayah yang sebelumnya telah disepakati.
Tak Lagi Punya Pilihan
Menurut penduduk Palestina yang kehilangan rumah akibat pengeboman di Nuseirat, serangan Israel memang menargetkan satu rumah tertentu, tetapi dampaknya merusak sedikitnya enam rumah di sekitarnya hingga tidak lagi layak huni.
Ahmad Al-Kurd (34 tahun) mengatakan bahwa militer Israel tidak pernah menjelaskan rumah mana yang menjadi sasaran, melainkan memerintahkan seluruh penghuni blok permukiman untuk mengungsi.
“Kami meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun dan kembali hanya untuk menemukan puing-puing. Tidak ada yang tersisa,” ujarnya kepada Mondoweiss.
Ia menjelaskan bahwa rumah yang menjadi target utama dihuni lebih dari 12 keluarga dengan rata-rata lima anggota keluarga per rumah tangga. Bangunan-bangunan di sekitarnya menampung lebih banyak keluarga lagi, sehingga total sekitar 25 keluarga terdampak.
“Apa kesalahan kami sampai harus mengalami ini?” katanya. “Semua ini terjadi saat gencatan senjata, di hari-hari yang seharusnya penuh berkah menjelang Idul Adha.”
Menurut Al-Kurd, tidak ada kehadiran Hamas maupun kelompok perlawanan bersenjata di kawasan tersebut.
“Tidak ada kelompok perlawanan di sini. Tidak ada alasan bagi militer Israel untuk menargetkan kami,” katanya.
Penduduk Palestina lainnya di Al-Bureij, Khalil Al-Najjar (41 tahun), yang mengalami peristiwa serupa, mengatakan bahwa para penduduk juga menerima panggilan telepon dari perwira militer Israel.
“Kami berlari ketakutan karena khawatir rudal akan jatuh di atas kepala kami,” katanya. “Kami bahkan tidak sempat membawa pakaian ganti. Hanya pakaian yang kami kenakan.”
Saat kembali ke lokasi setelah serangan, mereka mendapati rumah-rumah telah berubah menjadi reruntuhan.
Menurut Al-Najjar, lebih dari 50 keluarga kehilangan tempat tinggal sekaligus seluruh harta benda mereka.
“Kami sudah tidak punya pilihan lagi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sekolah-sekolah yang difungsikan sebagai tempat penampungan menolak menerima pengungsi tambahan, sementara kawasan tenda pengungsian sudah penuh dan tidak memiliki ruang maupun tenda yang tersedia.
“Jadi kami hanya akan tinggal di atas puing-puing rumah kami. Apa lagi yang bisa kami lakukan?” ujarnya.
Di Gaza, Bahkan Hewan Pun Diserang Israel
Naama Salem (49 tahun) mengatakan bahwa ia awalnya melihat para tetangga berlarian keluar rumah sambil membawa sebagian barang mereka.
Ketika bertanya apa yang terjadi, ia diberi tahu bahwa militer Israel memerintahkan seluruh penduduk Palestina untuk meninggalkan kawasan tersebut dalam waktu 20 menit.
“Saat itu saya merasa rumah kami bisa dibom kapan saja. Saya langsung berpakaian dan pergi,” katanya. “Saya bahkan tidak sempat mengambil kartu identitas yang saya simpan di dalam tas di samping saya.”
Putrinya yang masih duduk di bangku sekolah menengah kehilangan seluruh buku pelajaran, catatan, dan perlengkapan belajarnya akibat serangan tersebut.
Sepanjang perang berlangsung, rumah Salem belum pernah menjadi sasaran serangan. Ia menganggap dirinya beruntung karena terhindar dari nasib yang dialami sebagian besar warga Gaza dan meyakini bahwa masa-masa terburuk telah berlalu setelah gencatan senjata diberlakukan.
Ia mengira jika pun terjadi serangan, targetnya hanya rumah seseorang yang dicari militer Israel.
“Kami tidak pernah membayangkan kebijakan membom seluruh blok permukiman akan kembali diterapkan,” katanya.
Menurut Salem, situasi di Gaza terus memburuk dari hari ke hari, bahkan ketika gencatan senjata masih berlaku.
“Setiap hari ada orang yang terbunuh. Setiap hari rumah-rumah dihancurkan dan keluarga-keluarga dipaksa mengungsi,” ujarnya.
“Kami tidur dalam ketakutan terhadap pengeboman. Kami berjalan di jalanan dengan ketakutan. Kami duduk bersama anak-anak kami dengan ketakutan. Ketakutan telah menjadi tamu tetap di rumah kami, di hati kami, dan di tengah orang-orang yang kami cintai.”
“Situasi ini tidak tertahankan. Ini melebihi batas kemampuan manusia untuk menanggungnya.”
Sementara itu, Khalil Al-Najjar menegaskan bahwa ia mengenal seluruh warga di lingkungannya dan tidak ada satu pun anggota Hamas maupun kelompok perlawanan yang tinggal di sana.
Menurut dia, tidak ada individu yang menjadi target militer Israel di blok permukiman tersebut.
Hal yang sebenarnya diinginkan Israel, menurut Al-Najjar, adalah membuat sebanyak mungkin penduduk Palestina di Gaza kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi.
“Tujuannya untuk menekan kami agar meninggalkan tanah air kami,” katanya.
Ia kemudian menambahkan, “Di Gaza, anak-anak menjadi target. Perempuan menjadi target. Laki-laki menjadi target. Orang tua menjadi target. Bahkan hewan pun menjadi target militer Israel.”
(T.FJ/S: Mondoweiss)