Gaza, NPC – Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah resmi berjalan sejak Oktober 2025, kenyataan di lapangan berkata lain. Dalam 24 jam terakhir, gempuran militer Israel di seantero Jalur Gaza kembali merenggut sedikitnya 16 nyawa warga Palestina. Korban tewas mencakup anak-anak, perempuan, petugas kepolisian, hingga warga sipil yang tengah berjuang mencari bantuan kemanusiaan.
Serangan demi serangan yang menargetkan pemukiman, pos polisi, kamp pengungsian, dan titik kerumunan warga ini juga menyebabkan puluhan orang lainnya luka-luka.
Nestapa Keluarga yang Terhapus dalam Sekejap
Tragedi memilukan terjadi di bagian barat Deir al-Balah, tepatnya di dekat Bundaran Al-Baraka. Sebuah serangan udara Israel menghantam sebuah hunian dan seketika menewaskan satu keluarga: Omar Sami Ahmad Abu Qasim (33), istrinya Asma Ghazi Abu Qasim, dan putri kecil mereka yang baru berusia enam tahun, Habiba. Dari reruntuhan rumah tersebut, hanya putra bungsu mereka, Sami Omar Abu Qasim, yang berhasil selamat.
Di tempat lain, duka juga menyelimuti Kota Gaza setelah Hani Iyad Talal Al-Ghoul dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya pascaserangan di lingkungan Sheikh Radwan beberapa pekan lalu.
Sementara itu, wilayah selatan dan tengah Gaza terus diguncang teror. Artileri Israel membombardir area timur laut kamp pengungsi Al-Bureij, diikuti operasi penghancuran skala besar di Qizan al-Najjar, selatan Khan Yunis. Di langit Khan Yunis timur, pesawat tanpa awak (drone) Israel menjatuhkan bahan peledak di dekat Bundaran Bani Suheila, berbarengan dengan tembakan tank yang menyasar pemukiman warga sipil. Di utara, wilayah Shuja’iyya di Kota Gaza juga tak luput dari dentuman artileri berat yang tak henti-hentinya bersahutan.
Pos Polisi Al-Falouja Jadi Sasaran Empuk
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di sebelah barat kamp pengungsi Jabaliya, Gaza Utara. Jet tempur Israel menghantam sebuah pos polisi di daerah Al-Falouja.
Serangan ini menewaskan Kepala Kantor Polisi Jabaliya, Kolonel Mohammed Marwan Salem, bersama lima anggotanya: Mufid Mohammad Halawa, Ghassan Akram Al-Daqs, Ibrahim Faisal Mousa, Samih Ramadan Al-Aswad, dan Abdul Malik Abdul Nasser Abu Al-Jibeen. Seorang warga sipil perempuan bernama Susan Abu Hindi Al-Araj juga turut menjadi korban tewas.
Menurut kesaksian warga di lokasi, drone Israel awalnya menembakkan dua rudal ke arah pos tersebut. Begitu warga sipil berkumpul untuk menolong para korban, drone kembali melepaskan dua rudal susulan. Akibatnya, warga yang sedang mengantre urusan administratif serta para perempuan yang kebetulan melintas di sekitar lokasi mengalami luka-luka berat.
Warga Sipil Berjatuhan di Garis Depan Bantuan
Kekerasan serupa terus menyebar ke wilayah lain. Di Kota Gaza, dua warga sipil bernama Ali Shamlakh dan Nasser Al-Louh tewas seketika akibat serangan drone di belakang Masjid Sheikh Ajleen.
Beralih ke Gaza Selatan, upaya warga untuk bertahan hidup justru berakhir tragis. Bilal Abu Mousa ditembak mati di Al-Mawasi, sebelah barat Rafah, saat dirinya tengah berusaha mengamankan bantuan kemanusiaan untuk keluarganya. Di wilayah yang sama, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, Moataz Abu Shaar, tewas setelah peluru tajam tentara Israel menembus dadanya. Tak lama setelah itu, kendaraan militer Israel dilaporkan merangsek masuk ke Al-Mawasi sambil melepaskan tembakan membabi buta ke arah tenda-tenda pengungsi.
Di Khan Yunis, serangan udara di daerah Al-Qadisiyah menewaskan Hussam Mohammad Ramadan Al-Shafei (36) serta melukai tiga orang lainnya, termasuk seorang wanita dan anak-anak. Di rumah sakit terdekat, Bassem Armilat juga mengembuskan napas terakhirnya setelah bertahan selama dua hari akibat luka parah dari serangan sebelumnya di wilayah yang sama.
Komitmen Gencatan Senjata yang Dipertanyakan
Pemerintah Palestina menegaskan bahwa rangkaian pembunuhan terbaru ini merupakan bukti nyata bahwa Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata. Alih-alih mereda, operasi militer berupa serangan udara, tembakan artileri, hingga blokade bantuan kemanusiaan dan barang komersial masih terus mencekik Jalur Gaza.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang disepakati pada 11 Oktober 2025 lalu. Sejak tanggal tersebut, sebanyak 1.123 warga Palestina tewas, 3.599 terluka, dan 800 jenazah berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan.
Secara akumulatif, sejak eskalasi besar-besaran dimulai pada Oktober 2023, tragedi kemanusiaan ini telah merenggut 73.247 korban jiwa dan menyebabkan 173.707 orang terluka, sementara ribuan korban lainnya diyakini masih tertimbun di bawah puing-puing beton yang sulit dijangkau tim penyelamat.
(T.RA/S: Palestine Chronicle)