Gaza, NPC – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (01/09/2026), memperingatkan bahwa hanya sekitar 3 persen lahan pertanian di Jalur Gaza yang masih utuh dan dapat diakses para petani. Kondisi ini dinilai mengancam produksi pangan lokal, terutama di tengah meluasnya wilayah yang berada di bawah pembatasan militer.
Temuan tersebut tertuang dalam kajian geospasial yang dilakukan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bersama Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT), berdasarkan data yang dihimpun pada akhir Juni 2026.
Hasil kajian menunjukkan, luas lahan pertanian yang masih layak digunakan dan tidak mengalami kerusakan menyusut dari 601 hektare pada Oktober 2025 menjadi hanya 448 hektare pada akhir Juni 2026. Artinya, dalam kurun delapan bulan, luas lahan yang masih dapat dimanfaatkan turun 25,5 persen.
Kerusakan Meluas
PBB menyebut sekitar 27 persen dari keseluruhan lahan pertanian Gaza secara geografis masih dapat dijangkau. Namun sebagian besar kawasan tersebut telah mengalami kerusakan parah dan membutuhkan rehabilitasi besar-besaran sebelum bisa kembali produktif.
Kerusakan luas juga terjadi pada rumah-rumah kaca pertanian. Saat ini, hanya sekitar 16,6 persen fasilitas tersebut yang masih layak digunakan.
Situasi lebih buruk terjadi di Kota Rafah, Gaza bagian selatan. Lebih dari 97 persen lahan pertanian di wilayah itu kini berada di luar jangkauan para petani.
FAO menyatakan sebagian besar kemerosotan terbaru disebabkan semakin ketatnya pembatasan akses menuju lahan pertanian. Kondisi tersebut antara lain dipicu oleh pergeseran ke arah barat jalur yang dikenal sebagai “garis kuning”, yakni garis yang memisahkan wilayah yang dikuasai pemerintah di Gaza dengan kawasan yang berada di bawah kendali militer Israel.
Sarana Produksi Semakin Langka
Kepala Kantor Tanggap Darurat FAO, Rein Paulsen, menyebut situasi di Gaza berada dalam kondisi “kritis”. Ia memperingatkan bahwa peluang untuk memulihkan produksi pangan lokal akan semakin mengecil apabila tidak segera diambil langkah untuk menjamin akses aman bagi para petani ke lahan mereka serta menyediakan dukungan yang dibutuhkan.
Selain kesulitan mengakses lahan, para petani dan peternak di Gaza juga menghadapi kelangkaan akut pupuk, benih, bahan bakar, dan pakan ternak. FAO menyebut kondisi tersebut berkaitan erat dengan pembatasan yang diberlakukan di pintu-pintu perbatasan.
Sebelum perang pecah pada Oktober 2023, sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen terhadap perekonomian Gaza dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 560 ribu orang.
Skala kerusakan sektor pertanian itu merupakan bagian dari kehancuran yang jauh lebih luas di Gaza. Hingga 26 Agustus 2026, otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 73.438 penduduk Palestina meninggal dan 174.447 lainnya terluka sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023.
Kerusakan material juga mencapai tingkat yang sangat besar. Penilaian bersama Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memperkirakan kerusakan fisik di Gaza mencapai 35,2 miliar dolar atau sekitar 620,6 triliun triliun, sementara kerugian ekonomi dan sosial diperkirakan sebesar 22,7 miliar dolar atau sekitar 400,2 triliun rupiah. Untuk pemulihan dan rekonstruksi Gaza selama satu dekade ke depan, dibutuhkan sedikitnya 71,4 miliar dolar, setara sekitar 1.258,8 triliun rupiah.
Korban jiwa juga terus berjatuhan meski gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025. Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 1.300 penduduk Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut data otoritas kesehatan Gaza yang dikutip Reuters.
Serangan tetap berlangsung di berbagai wilayah. Pada 30 Agustus, misalnya, serangan udara Israel di Deir al-Balah membunuh dua warga Palestina, termasuk seorang anak berusia tiga tahun. Sehari kemudian, serangan Israel kembali membunuh sedikitnya lima orang, dan pada 1 September sedikitnya enam penduduk Palestina dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian serangan di Gaza.
PBB berulang kali memperingatkan ancaman keruntuhan sistem pangan di Jalur Gaza. Pembatasan akses terhadap lahan pertanian yang terus berlangsung, ditambah merosotnya kapasitas produksi pangan lokal, dinilai semakin memperburuk krisis pangan yang dihadapi penduduk Gaza.
(T.FJ/S: Aljazeera)