Teror Pemukim Israel Mengganas, Warga Palestina di Tepi Barat Kehilangan Tanah, Ternak Bahkan Nyawa

Tepi Barat, NPC – Serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat terus meningkat. Kekerasan yang dilakukan esktremis Yahudi, eskpansi hunian Yahudi ilegal, serta serangan pasukan Israel semakin mempersempit ruang hidup dan membatasi akses masyarakat Palestina terhadap tanah air mereka.

Persoalan tersebut tidak hanya terjadi dalam satu wilayah. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai komunitas Palestina di Tepi Barat menghadapi serangan, intimidasi, perusakan properti, pencurian ternak, hingga pengusiran dari lahan mereka.

PBB sebelumnya memperingatkan meningkatnya tindakan “terorisme esktremis Yahudi” dan mengatakan kekerasan tersebut berlangsung dengan dukungan atau pembiaran otoritas Israel. Mereka memperingatkan bahwa situasi itu dapat mengancam rakyat Palestina di tanah mereka sendiri.

Dalam lima bulan pertama 2026, PBB mencatat sedikitnya 13 warga Palestina gugur dan sekitar 500 lainnya terluka akibat serangan brutal pemukim Israel.

Kekerasan tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan populasi pemukim Israel di Tepi Barat. Berdasarkan angka terbaru Otoritas Palestina, sekitar 780.000 pemukim Israel tinggal di 192 permukiman dan 400 pos permukiman di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.

PBB telah menetapkan permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki ilegal berdasarkan hukum internasional dan telah berulang kali menyerukan kepada Israel untuk menghentikan aktivitas permukiman.

Di tengah situasi tersebut, desa Al-Mughayyir, dekat Nablus, menjadi salah satu contoh bagaimana kekerasan berlangsung melalui pola yang berulang.

Pemukim Masuk, Bentrokan Terjadi

Menurut laporan Haaretz pada Jumat, sedikitnya tiga insiden terjadi di Al-Mughayyir dalam sepekan terakhir. Dalam rangkaian kejadian tersebut, sedikitnya tujuh warga Palestina ditembak oleh tentara Israel dan dua di antaranya gugur.

Pola yang terjadi disebut relatif serupa. Para pemukim mendatangi kawasan pinggiran barat desa bersama kawanan ternak ketika tentara Israel berada di lokasi. Para pemukim kemudian mengklaim bahwa ternak mereka hilang, dicuri, atau diracuni. Mereka bergerak di antara rumah-rumah warga Palestina, yang kemudian memicu ketegangan dan konfrontasi dengan penduduk.

Alih-alih menghentikan masuknya para pemukim, keberadaan pasukan Israel dalam sejumlah kejadian justru diikuti dengan penggunaan senjata terhadap warga Palestina. “Pola ini bukanlah hal baru, tetapi, seperti yang terlihat pekan ini, frekuensinya semakin meningkat,” demikian laporan Haaretz.

Selama beberapa bulan, tentara Israel juga disebut memblokir satu-satunya pintu masuk dari arah barat menuju Al-Mughayyir selama berjam-jam setiap hari. Warga mengatakan bahwa dalam sejumlah insiden para pemukim mengambil peralatan dan ternak dari kandang-kandang di pinggiran desa, sementara pasukan Israel bergerak lebih jauh ke dalam wilayah permukiman.

Dua Remaja Palestina Tewas

Situasi semakin serius pada Rabu ketika dua remaja Palestina dari Al-Mughayyir ditembak mati oleh tentara Israel setelah para pemukim memasuki wilayah tersebut bersama kawanan domba.

Menurut laporan tersebut, salah satu korban ditembak di leher, sementara korban lainnya terkena tembakan di bagian punggung. Rekaman video menunjukkan para pemukim menggembalakan domba di antara rumah-rumah warga Palestina dan mendekati rumah penduduk ketika tentara Israel serta pasukan Polisi Perbatasan berada di lokasi.

Dalam salah satu rekaman, seorang perempuan Palestina terlihat digeledah oleh anggota Polisi Perbatasan di halaman rumahnya. Sementara itu, sejumlah pemukim muda berteriak kepadanya dalam bahasa Arab, “Oskot!”, yang berarti “Diam!”

Petugas kemudian mengawal perempuan tersebut masuk ke rumah. Warga mengatakan bahwa sekitar 100 ekor ternak diambil oleh para pemukim dalam insiden tersebut.

Meningkatnya kekerasan pemukim bahkan mendapat sorotan dari sejumlah pejabat Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada Agustus menyebut kekerasan pemukim sebagai “terorisme” dan mengatakan tindakan tersebut merusak citra Israel.

Peringatan dari PBB juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak lagi dipandang sebagai rangkaian insiden yang berdiri sendiri. Kekerasan, aktivitas permukiman dan tekanan terhadap komunitas Palestina berlangsung secara bersamaan dan berpotensi semakin mempersempit ruang kehidupan warga Palestina di Tepi Barat.

Al-Mughayyir menjadi gambaran dari persoalan yang lebih luas itu. Ketika pemukim memasuki wilayah warga Palestina, bentrokan terjadi dan pasukan Israel hadir di lokasi, warga desa menghadapi situasi di mana kekerasan dapat dengan cepat berubah menjadi penembakan.

Bagi masyarakat Palestina yang tinggal di wilayah tersebut, persoalannya bukan hanya mengenai satu insiden atau satu kawanan ternak. Yang dipertaruhkan adalah keamanan, tanah, harta benda, dan kemampuan mereka untuk tetap bertahan di wilayah yang telah mereka tempati.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

 

You might also like