Tepi Barat, NPC – Kelompok ekstremis Yahudi kembali melakukan serangan terhadap rumah ibadah umat Islam di Tepi Barat yang diduduki. Pada Minggu (26/7). Dua Masjid di dua wilayah berbeda menjadi sasaran aksi pembakaran dalam rentang waktu hanya beberapa jam.
Menurut kantor berita resmi Palestina WAFA, sekelompok ekstremis Yahudi menyerbu Desa Kur, selatan Tulkarem, kemudian membakar sebuah masjid sehingga mengakibatkan kerusakan pada sebagian bangunan dan bagian dalamnya. Sebelum meninggalkan lokasi, para pelaku juga mencoret dinding masjid dengan grafiti bernada rasis.
Beberapa jam sebelumnya, kelompok ekstremis Yahudi juga membakar Masjid Al-Rahma yang masih dalam tahap pembangunan di Kota Qusra, selatan Nablus. Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, mengatakan api menghanguskan berbagai material kayu dan peralatan konstruksi yang berada di lokasi pembangunan masjid.
Selain menyasar tempat ibadah, serangan juga terjadi di kawasan Al-Dubbat, Beit Furik, sebelah timur Nablus. Sumber keamanan Palestina menyebut kelompok ekstremis Yahudi membakar rumah milik seorang warga Palestina hingga mengalami kerusakan sebagian. Petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api sebelum meluas ke bangunan lain.
Para pelaku juga meninggalkan grafiti berisi seruan rasis yang mengajak melakukan balas dendam terhadap warga Arab.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam keras pembakaran masjid di Desa Kur dan menyebutnya sebagai kejahatan keji terhadap tempat suci umat Islam.
Kementerian juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, sedikitnya 45 masjid di Tepi Barat telah menjadi sasaran serangan kelompok ekstremis Yahudi yang dilakukan di bawah perlindungan pasukan militer Israel.
Serangan terhadap dua masjid tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (24/7), kelompok ekstremis Yahudi yang didukung tentara Israel menyerang Kota Tell, dekat Nablus, yang menyebabkan empat warga Palestina gugur. Dalam insiden yang sama, dua warga Israel juga dilaporkan gugur akibat baku tembak.
Pasca-insiden tersebut, militer Israel memberlakukan pengepungan terhadap Kota Nablus dan sejumlah wilayah sekitarnya, menggelar operasi penangkapan massal, serta mengumumkan persiapan operasi militer berskala besar di seluruh Tepi Barat.
Data resmi Palestina menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, sedikitnya 1.182 warga Palestina telah gugur di Tepi Barat, ribuan lainnya mengalami luka-luka, sementara sekitar 24.000 orang ditangkap oleh pasukan Israel.
Sementara itu, Komisi Palestina untuk Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah dalam laporannya pada 6 Juli 2026 mencatat kelompok ekstremis Yahudi telah melakukan 3.488 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka selama paruh pertama tahun ini. Serangan tersebut meliputi penyerbuan desa-desa, pembakaran rumah dan properti, penembakan, perampasan lahan, hingga pendirian pos-pos permukiman ilegal yang mengakibatkan sedikitnya 17 warga Palestina tewas.
Otoritas Palestina menilai meningkatnya serangan kelompok ekstremis Yahudi tersebut bukan sekadar aksi kekerasan sporadis, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk memperluas permukiman ilegal dan membuka jalan bagi aneksasi resmi Tepi Barat.
(T.RS/S:AnadoluAgency)