Jalur Gaza, NPC – Jumat pagi, di halaman Masjid Al-Aqsa yang suci, sekitar 80 ribu warga Palestina berkumpul menunaikan salat Iduladha. Tapi seperti biasa, bagi Israel, tidak ada hari libur dalam agenda penindasan. Iduladha tak lagi menjadi hari raya keagamaan, tapi berubah menjadi “event penindasan” dalam kalender militer Zionis. Ribuan tentara, pos pemeriksaan, dan wajah intimidatif aparat menjadi sambutan bagi umat yang ingin bersujud. Di dunia normal, petugas keamanan menjaga ibadah. Tapi di negeri jajahan, penjaga ibadah justru pencabut hak ibadah.
Pasukan pendudukan Israel menahan identitas jamaah, menolak ribuan orang masuk tanpa alasan hukum, dan mengerahkan penjagaan seolah-olah yang datang adalah teroris, bukan umat yang membawa sajadah. Di sisi lain, ekstremis Yahudi yang menerobos Masjid Al-Aqsa malah dikawal, bukan ditangkap.
Logika penjajahan memang luar biasa: umat Islam adalah ancaman bagi masjid mereka sendiri, sementara penjajah bersenjata disebut “pengunjung damai.”
Al-Aqsa Dijaga Seperti Penjara
Pagi itu, jalan menuju Al-Aqsa bukan hanya disekat. Perempuan diperiksa layaknya penyelundup, anak-anak dibentak seolah prajurit. Al-Quds telah berubah: bukan lagi kota suci tiga agama, melainkan panggung teatrikal kolonialisme, di mana Zionis menjadi sutradara, tentara sebagai pemeran utama, dan umat Islam hanyalah figuran yang boleh masuk jika tidak mengganggu naskah besar mereka: “Yahudisasi Al-Aqsa”.
Sepanjang Mei 2025, lebih dari 6.700 pemukim ekstremis Yahudi menyerbu kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan militer. Bukan sembarangan masuk, tapi menggelar ritual Talmud, bendera Israel, dan pekikan rasis “Matilah Arab!” Mereka tidak sembunyi-sembunyi, karena tidak perlu. Hukum tidak berlaku untuk penjajah. Yang dijajahlah yang harus sopan dan diam.
Puncaknya terjadi pada 12 Mei, saat esktremis Yahudi menyerbu melalui Gerbang Al-Ghawanimah sambil membawa hewan kurban untuk disembelih di area masjid. Ini bukan sekadar pelanggaran. Ini penghinaan yang dipentaskan, simbol kolonialisme spiritual yang menjadikan masjid bukan lagi tempat ibadah, tapi panggung provokasi. Sejak 1967, belum pernah tindakan setelanjang ini dilakukan. Tapi 2025 adalah tahun di mana Israel sudah tak peduli pada topeng.
Tak hanya pemukim yang liar. Negara juga ikut bermain. Pada 26 Mei, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir ikut dalam pawai bendera di kompleks Al-Aqsa, bersama lebih dari seribu pemukim yang meneriakkan yel-yel supremasi dan merayakan penjajahan mereka. Ini bukan kunjungan. Ini penaklukan.
Tentara Israel bukan lagi pasukan keamanan. Mereka kini agen perubahan status quo: Penjaga untuk pelaku penistaan, pelindung bagi proyek pembangunan Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa. Mereka bukan netral. Mereka adalah pelaksana langsung mimpi kolonial Yahudi ekstrim: menjadikan Al-Aqsa museum masa lalu umat Islam.
Iduladha di Penjajahan: Bukan Hari Raya, Tapi Hari Perlawanan
Maka tidak heran jika umat Islam datang bukan sekadar salat. Mereka datang dengan niat perlawanan. Takbir menjadi senjata, shaf shalat menjadi benteng. Seruan ulama untuk melakukan i’tikaf massal di dalam Al-Aqsa bukan anjuran ibadah biasa. Itu strategi bertahan hidup spiritual. Karena ketika peluru dan pendudukan menjadi bahasa kekuasaan, satu-satunya jawaban adalah hadir di Al-Aqsa dan tidak meninggalkannya.
Umat Islam tahu bahwa kehadiran fisik mereka adalah gangguan terbesar bagi proyek penjajahan. Karena penjajah bisa mengusir, tapi tak bisa membunuh keyakinan. Dan selama Al-Aqsa masih dipenuhi suara takbir, Israel belum menang. Meskipun mereka mengirim ribuan serdadu, mendirikan ratusan pos pemeriksaan, dan menanam bendera di setiap sudut kota, mereka tetap kalah dalam satu hal: Tidak bisa memiliki tempat yang tak mereka cintai.
Dunia Islam: Sibuk Mengecam, Malas Bergerak
Sayangnya, ketika Zionis bergerak dengan rencana, dunia Islam hanya sibuk dengan pernyataan. Di hadapan 13.000 lebih invasi pemukim ke Al-Aqsa sepanjang 2025, negara-negara Islam masih berdebat soal kalimat pembukaan di pernyataan pers. Tak ada boikot, tak ada sanksi, tak ada ancaman. Hanya doa dan bahkan itu pun kadang lupa disebut.
Inilah mengapa Israel berani. Karena mereka tahu: Umat Islam kuat pada jumlah, lemah pada tindakan. Maka proyek penghapusan identitas Islam dari Yerusalem pun berjalan seperti kereta cepat, tanpa hambatan, tanpa rem. Mereka menuliskan sejarah suci dengan tinta kolonial, di atas kitab suci yang mereka injak.
Masjid Tak Butuh Tentara, Tapi Butuh Umat
Apa yang terjadi di Al-Aqsa pada Iduladha ini bukan insiden. Ia adalah skenario sistematis yang berjalan saban tahun, saban hari raya, saban momen spiritual umat. Tapi jawabannya juga bukan pasrah. Umat menjawab dengan kehadiran. Karena masjid tidak dijaga dengan senjata, tapi dengan sujud. Ia tak butuh tank, tapi butuh jamaah.
Selama takbir masih menggema dari bawah bayang senapan, selama umat masih berdiri meski dihadapan tentara, maka Al-Aqsa masih hidup. Tapi jika kita diam, jika kita membiarkan Israel mengubah rumah suci ini menjadi proyek wisata religi ekstremis, maka sejarah akan mencatat: Umat Islam kalah, bukan karena lemah, tapi karena memilih bungkam.
Maka hari ini, takbir bukan hanya pujian kepada Tuhan. Ia adalah teriakan perlawanan. Sholat bukan hanya ritual, tapi proklamasi. Dan Al-Aqsa bukan hanya situs sejarah, tapi medan pertempuran terakhir spiritual umat ini. Di medan ini, tentara bersenjata boleh berkuasa, tapi umat yang bersujud adalah pemenangnya.