Jalur Gaza, NPC – Perang Israel di Jalur Gaza yang kini memasuki bulan ke-20 mengungkap sebuah kenyataan pahit bahwa negara Zionis itu tengah mengalami krisis ekonomi dan sosial terparah dalam sejarahnya yang penuh kontroversi sejak berdiri secara ilegal 77 tahun lalu.
Data dan analisis dari media Israel telah membongkar bagaimana perang berkepanjangan ini bukan hanya menggerogoti anggaran militer, tapi juga menghancurkan fondasi ekonomi dan sosial masyarakat Israel secara sistematis.
Perang Berkepanjangan, Biaya Fantastis, dan Beban Rakyat Israel
Berbeda dari operasi militer sebelumnya yang biasanya singkat dan dilaksanakan di luar wilayah Israel, perang kali ini menyentuh langsung jantung kehidupan sosial-ekonomi warga Israel.
Surat kabar ekonomi Calcalist melaporkan bahwa biaya harian perang kini melampaui 500 juta shekel (sekitar 140 juta dolar AS), dengan total proyeksi biaya tahunan yang mencapai 150 miliar shekel atau sekitar 40 miliar dolar AS.
Angka ini jauh melampaui anggaran pertahanan tahunan Israel di masa damai dan menegaskan bahwa perang ini bukanlah misi cepat melainkan jebakan biaya yang tak berujung.
Biaya besar tersebut tak hanya untuk operasional militer, termasuk kompensasi tentara cadangan, tapi juga untuk pembelian persenjataan canggih seperti rudal “Hetz 3″ (Arrow 3) yang harganya per unit tembus angka 3 juta dolar AS. Semua ini mengisyaratkan perang terhadap Gaza disponsori dengan dana yang sangat besar, tetapi di saat yang sama, membebani langsung kantong rakyat Israel.
Bantuan AS dan Jaringan Donor Global
Krisis ekonomi ini semakin pelik ketika melihat dari mana Israel mendapatkan sumber pendanaannya. Berdasarkan laporan resmi pemerintah AS dan lembaga internasional, Amerika Serikat tetap menjadi penyokong utama keuangan militer Israel dengan bantuan tahunan yang dipatok sekitar 3,8 miliar dolar AS.
Bantuan ini mencakup bantuan tunai untuk pembelian senjata, sistem pertahanan rudal, serta dukungan logistik militer yang memungkinkan Israel melanjutkan perang tanpa batas yang menggerogoti ekonominya sendiri.
Selain AS, Israel juga menerima dukungan dari jaringan donor global yang meliputi korporasi senjata, lobby internasional, dan negara-negara sekutu strategis lainnya. Namun, ketergantungan besar pada bantuan eksternal ini menyembunyikan kerentanan ekonomi Israel secara internal. Bila bantuan tersebut berkurang atau terhenti karena tekanan politik global, perang ini berisiko menghancurkan struktur ekonomi negara Zionis itu.
Anggaran Bocor dan Kenaikan Pajak: Harga yang Harus Dibayar Warga Israel
Laporan The Marker mengungkap bahwa pemerintah Israel terpaksa membuka kembali pembahasan anggaran negara tahun 2025. Dengan perang yang tak kunjung usai, defisit anggaran membengkak hingga diperkirakan memerlukan tambahan dana sekitar 25 miliar shekel (7 miliar dolar AS) dalam tiga bulan ke depan saja. Ini artinya, rakyat Israel harus siap membayar lebih mahal, baik melalui pajak baru maupun kenaikan beban hidup yang tak terelakkan.
Para ekonom dan analis menyebutkan bahwa jika Israel memutuskan melanjutkan pendudukan Gaza, biaya tahunan bisa mencapai puluhan miliar shekel, yang berpotensi melumpuhkan kemampuan negara menyediakan layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Dengan kondisi ini, janji pembangunan negara yang dikumandangkan elit politik Israel semakin jauh dari kenyataan.
Brigadir Jenderal (Cadangan) Mehran Brozenfer, mantan penasihat ekonomi Kepala Staf Militer Israel, mengungkap dampak mobilisasi besar-besaran tentara cadangan yang telah menguras habis sumber daya ekonomi Israel.
Menurutnya, pemanggilan 60.000 tentara cadangan per hari menghabiskan sekitar 100 juta shekel untuk gaji, pelatihan, dan logistik. Namun, dampak sesungguhnya jauh lebih buruk karena para pelaku usaha kecil dan pekerja mandiri terpaksa berhenti bekerja, menyebabkan kerusakan serius pada rantai produksi nasional.
Brozenfer menegaskan bahwa gangguan ini bisa berujung pada resesi berkepanjangan yang akan sulit dipulihkan. Banyak usaha kecil yang tidak akan mampu bangkit kembali. Pernyataan ini menandakan bahwa selain beban biaya perang, Israel tengah menghadapi krisis ekonomi dalam negeri yang tak kalah berbahaya.
Ancaman Resesi dan Penurunan Investasi: Ekonomi Israel di Ujung Tanduk
Bank Sentral Israel telah memperingatkan perlambatan ekonomi serius dalam dua tahun mendatang. Produk Domestik Bruto (PDB) diprediksi menurun drastis seiring merosotnya investasi asing yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Israel.
Surat kabar Globes menegaskan bahwa perang yang tak kunjung usai ini berpotensi menghapus keuntungan ekonomi yang diraih dalam satu dekade terakhir serta memperburuk peringkat kredit negara di mata investor global.
Analis politik Helmi Musa menulis: “Perang ini bukan sekadar konflik militer, melainkan juga perang ekonomi yang menggerogoti fondasi sosial Israel. Ketidakjelasan solusi politik membuat klaim kemenangan hanya menjadi ilusi mahal yang menyakiti rakyat Israel sendiri.”
Perang Mahal yang Membawa Kehancuran
Data dan fakta membuktikan bahwa Israel sedang tenggelam dalam perang pengurasan sumber daya dengan biaya yang luar biasa tinggi. Di balik propaganda kemenangan dari para elit politik, rakyat Israel justru menjadi korban utama, membayar mahal dari kantong mereka sendiri dan menanggung beban sosial ekonomi yang berat.
Di sisi lain, rakyat Palestina yang terus berjuang mempertahankan hak dan tanahnya, menunjukkan bahwa genosida yang dilancarkan Israel bukan jalan penyelesaian, melainkan jalan kehancuran bersama.