Setelah Kunjungan Trump ke Arab Berakhir, Israel Luncurkan Operasi Darat Besar-Besaran

Gaza, NPC – Ledakan besar mengguncang Jalur Gaza pada Sabtu dini hari (17/05/2025), ketika pesawat tempur Israel meluncurkan serangan udara intensif ke wilayah utara, selatan, dan tengah Gaza. Militer Israel menyebut aksi ini sebagai “persiapan untuk memperluas operasi” di Gaza.

Serangan udara Israel menghantam Khan Younis, Deir al-Balah, berbagai wilayah di Kota Gaza, serta Jabalia. Seorang warga kamp pengungsi Shati di Kota Gaza mengatakan kepada Mondoweiss bahwa tentara penjajah Israel sempat memerintahkan evakuasi kamp Shati, akan tetapi perintah itu dibatalkan, lalu kembali diumumkan, membuat penduduk Palestina hidup dalam kecemasan.

Serangan udara ini juga disertai kendaraan peledak kendali jarak jauh yang dikirim ke Gaza Utara. Jurnalis lokal melaporkan bahwa salah satu kendaraan tersebut meledak di lingkungan Tal al-Zaatar, di timur Jabalia, di antara bangunan tempat tinggal. Pecahan ledakan bahkan mencapai Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia, menyebabkan kerusakan.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, serangan Israel telah membunuh 250 penduduk Palestina di Gaza hanya dalam dua hari terakhir.

Netanyahu Janjikan Serangan Penuh: Gaza Akan Diduduki Permanen

Gelombang baru pemboman ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan “memasuki Gaza dengan kekuatan penuh” sebagai bagian dari operasi darat yang disetujui oleh kabinet perang Israel hampir sebulan lalu, yang disebut “Kereta Perang Gideon.”

Pejabat Israel menyatakan bahwa tujuan dari serangan ini adalah untuk “menaklukkan Gaza dan mendudukinya secara permanen.” Sebelum invasi dimulai, militer Israel menyebarkan selebaran di Gaza bergambar pemandangan Laut Merah terbelah, dengan bangunan hancur diapit oleh simbol Bintang Daud dan tulisan “penaklukan yang adil.”

‘Apakah Semua Kengerian Ini untuk Kami?’ — Warga Gaza Utara Mengungsi

Menurut juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, serangan Israel telah membunuh lebih dari 100 orang hanya dalam waktu 12 jam. “Ini adalah hari yang berdarah dan sulit bagi Gaza Utara,” katanya melalui Telegram.

Laporan harian Kementerian Kesehatan menyebutkan, dalam 24 jam terakhir, 153 jenazah dan 459 korban luka telah tiba di rumah sakit. Sejak awal perang, korban jiwa mencapai 53.272 orang.

Ratusan ribu keluarga yang sebelumnya mengungsi dari Gaza Timur kini memenuhi wilayah barat Kota Gaza. Mereka membangun pusat pengungsian darurat di taman, stadion, dan universitas, termasuk Stadion Yarmouk dan Universitas Islam. Namun, selama seminggu terakhir, militer Israel juga mengancam akan mengevakuasi tempat-tempat pengungsian tersebut.

Pada 16 Mei, gelombang baru pengungsian terjadi dari Gaza Utara karena invasi darat yang makin intensif. Sejumlah penduduk Palestina melarikan diri ke Kota Gaza.

Serangan Tanpa Peringatan, Rudal Jadi Sinyal Evakuasi

Sulaiman Abu Sultan (41), warga Beit Lahia, mengatakan bahwa hebatnya serangan di utara membuat ia terpaksa meninggalkan rumah. Ia mengatakan kepada Mondoweiss bahwa Israel menembakkan rudal ke lingkungan padat tanpa peringatan.

“Rudal mematikan itu adalah peringatannya,” jelasnya. “Mereka tidak lagi mengirim pesan atau menelepon. Kini mereka membunuh ratusan orang sebagai peringatan bagi yang masih bertahan.”

Ia membawa keluarganya ke Tal al-Hawa di Kota Gaza, tapi situasi di sana tak jauh berbeda.

“Kami tidak sanggup tinggal di Beit Lahia. Suara ledakan sangat menakutkan, dan pemboman dilakukan secara acak. Reruntuhan beterbangan saat kami masih berada di dalam rumah yang rusak. Kami kira Gaza Kota akan lebih aman, tapi ternyata sama saja: suara ledakan dan pesawat terus mengintai di atas kami,” katanya

“Apakah semua kengerian ini memang ditujukan kepada kami?” tanya Abu Sultan. “Sulit dipercaya bahwa semua senjata ini digunakan untuk menyerang keluarga biasa yang hanya ingin menyelamatkan anak-anak dan memberi mereka makan agar tidak mati kelaparan.”

Rencana Israel Lakukan Pembersihan Etnis di Gaza Didukung AS

Serangan besar-besaran Israel ke Jalur Gaza didahului oleh lebih dari satu minggu pemboman intensif, menyusul pembebasan seorang tentara Israel-Amerika bernama Edan Alexander oleh Hamas. Pembebasan ini disebut sebagai “gestur niat baik” menjelang kunjungan Donald Trump ke negara-negara Teluk Arab.

Selama seminggu penuh, militer Israel membombardir Rumah Sakit Eropa dan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Mereka mengklaim bahwa rumah sakit tersebut berada di atas markas rahasia Hamas, akan tetapi media Haaretz menyatakan bahwa Israel tidak memberikan bukti atas klaim tersebut.

Baca Juga:

Menurut wawancara media Drop Site News dengan pejabat Hamas, Basem Naim, pembebasan Alexander merupakan bagian dari kesepakatan dengan utusan AS, Steve Witkoff. Dalam kesepakatan itu, Israel dijanjikan akan mencabut blokade dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Naim mengatakan bahwa Witkoff secara pribadi berkomitmen untuk mengakhiri blokade, dan Trump direncanakan akan menyerukan gencatan senjata secara terbuka. Namun menurut Naim, Amerika Serikat membatalkan seluruh kesepakatan tersebut.

Ia menyatakan bahwa tidak ada kemajuan dalam pembicaraan gencatan senjata, dan bahkan Witkoff dilaporkan mengatakan kepada para mediator Arab bahwa Amerika Serikat tidak akan menekan Israel untuk menghentikan perang di Gaza.

Netanyahu: Warga Gaza Akan Pergi Karena Tak Punya Tempat Tinggal

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan harian Maariv, mengatakan bahwa militer Israel terus menghancurkan rumah-rumah di Gaza sehingga penduduk Palestina tidak memiliki tempat untuk kembali. Ia menambahkan bahwa “setengah dari warga Gaza sudah ingin pergi,” dan kesulitannya adalah “mencari negara yang mau menerima mereka.”

Sebagai bagian dari rencana pendudukan jangka panjang Gaza, Israel merancang sistem baru yang mengatur penyaluran bantuan kemanusiaan dengan pengawasan kontraktor militer AS. Bantuan akan disalurkan hanya kepada keluarga yang lolos penyaringan.

Penduduk Palestina di Gaza disebut akan “dikumpulkan” di wilayah Rafah, yang kini juga telah dihancurkan, dan secara bertahap dipindahkan dari Jalur Gaza dengan dalih “migrasi sukarela”.

Pada kenyataannya, rencana ini dianggap sebagai bagian dari strategi pemusnahan Gaza dan pengusiran seluruh penduduknya, atau yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pembersihan etnis.

AS Dituding Dukung Relokasi Warga Palestina ke Libya

Sejalan dengan rencana tersebut, NBC melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang menyusun rencana untuk memindahkan 1 juta warga Palestina ke Libya. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut sanksi terhadap Libya yang telah diberlakukan selama lebih dari satu dekade. Laporan ini mengutip lima sumber anonim yang memiliki informasi tentang upaya tersebut.

Sementara itu, berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza:

  • 1 juta anak di Gaza terancam kelaparan,
  • 70.000 anak mengalami malnutrisi berat,
  • 96% penduduk Palestina di Gaza mengalami krisis rawan pangan akut,
  • dan menurut lembaga pemantau kelaparan PBB (IPC), 22% berada dalam kondisi kelaparan yang sangat parah.

Jumlah penduduk Palestina di Gaza yang telah dibunuh Israel telah melebihi 52.000 orang, dengan lebih dari 10.000 orang masih tertimbun reruntuhan. Sementara, penduduk Palestina di Gaza yang masih selamat kini bersiap menghadapi babak selanjutnya dari serangan yang diduga sebagai genosida dengan dukungan dari Amerika Serikat. Dunia internasional ditantang untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi bertindak demi menghentikan penderitaan warga sipil, khususnya anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, makanan, dan harapan.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

You might also like