Genosida Gaza dan Bagaimana Arab Teluk Mendukung Kejahatan Israel

Ditulis oleh: Mawadda Iskandar*

Gaza, NPC – Diamnya dan dalam banyak kasus, keterlibatan langsung negara-negara Teluk Persia selama perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza bukanlah hal yang mengejutkan. Pemerintah-pemerintah ini, yang sejak lama menjauh dari perjuangan rakyat Palestina, selama bertahun-tahun telah menjalin hubungan hangat, meski diam-diam, dengan Tel Aviv.

Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords yang dimediasi AS pada 2020. Namun negara lain seperti Arab Saudi dan Qatar juga memainkan peran penting meski lebih diam-diam. Arab Saudi sering disebut sebagai arsitek di balik normalisasi, sementara Qatar bersembunyi di balik label “mediator”, akan tetapi keduanya telah membantu negara penjajah tersebut dengan cara yang krusial.

Meski sebagian besar bantuan ini terjadi secara tersembunyi, para pejabat AS dan Israel telah berulang kali mengakuinya. Presiden AS Donald Trump pada masa jabatannya pernah memperingatkan bahwa “Israel akan berada dalam masalah besar tanpa Arab Saudi”. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa para pemimpin Arab kini melihat Israel “bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sekutu terbesar mereka”, dan menambahkan bahwa mereka “ingin melihat kami mengalahkan Hamas”.

Pernyataan ini membuka sedikit tabir tentang jaringan kerja sama regional yang luas dan tidak transparan, yang menopang mesin perang Israel.

Meski secara publik sering menyatakan dukungan untuk Palestina, negara-negara Teluk secara diam-diam justru memperkuat keterlibatannya dalam perang Israel di Gaza. Melalui aliran investasi, perdagangan senjata, kerja sama intelijen, dan infrastruktur energi, mereka telah menjadi pendukung utama dari kejahatan perang yang terjadi di Gaza.

Kompleksitas Ekonomi Negara Teluk

Meski dukungan publik terhadap Palestina tetap kuat di seluruh dunia Arab, dan seruan boikot dari akar rumput terus meningkat, perdagangan antara negara Teluk dan Israel justru melonjak. UEA kini menjadi mitra dagang Arab terbesar Israel, sementara perdagangan Bahrain dengan Tel Aviv meningkat hingga 950 persen dalam 10 bulan pertama perang di Gaza.

Meskipun perang dan seruan boikot terus berlangsung, produk bersertifikat kosher dari negara-negara Arab masih terus memasuki pasar Israel. Merek UEA seperti Al Barakah Dates dan Hunter Foods, serta Durra dari Arab Saudi (pemasok gula), tetap menjaga jalur perdagangan.

Qatar juga mengekspor bahan baku plastik untuk industri Israel. Bahrain bahkan secara resmi mengakui produk dari permukiman ilegal di Tepi Barat sebagai produk asal Israel.

Lebih mengkhawatirkan lagi, investasi dari negara Teluk langsung mendanai ekspansi permukiman Israel. Arab Saudi, UEA, dan Qatar menyalurkan dana ke Avenue Partners, perusahaan milik menantu Trump, Jared Kushner, yang masih terlibat dalam memberi nasihat bagi pemerintahan Trump.

Dana itu mengalir ke Phoenix Holdings, yang mendanai bank-bank besar seperti Leumi, Hapoalim, dan Discount Bank, semuanya terlibat dalam pembangunan permukiman. Perusahaan telekomunikasi seperti Cellcom dan Partner, serta kontraktor seperti Electra dan Shapir, juga termasuk dalam daftar penerima manfaat, semuanya beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki.

Ketika blokade Yaman mengganggu jalur pengiriman barang Israel di Laut Merah, menutup 70 persen impor pangan Tel Aviv, negara-negara Teluk segera bergerak menambal celah tersebut. UEA menciptakan koridor logistik darat dari Dubai ke Tel Aviv melalui Arab Saudi dan Yordania, sementara Bahrain mengubah pelabuhannya menjadi hub alternatif untuk barang-barang Israel dari India dan China.

Hubungan Militer yang Tersembunyi

Sejak awal serangan Israel di Gaza, UEA justru memperkuat hubungan militernya dengan penjajah Israel. Pada 2024, Balkan Insight mengungkap bahwa perusahaan terkait UEA, Yugoimport-SDPR, mengekspor senjata senilai USD 17,1 juta ke Israel melalui pesawat militer yang terlibat langsung dalam pengeboman Gaza.

Perdagangan senjata hanyalah sebagian kecil dari gambaran ini. Raksasa pertahanan milik negara UEA, EDGE, memiliki saham di kontraktor militer Israel seperti Rafael dan Israel Aerospace Industries (IAI), yang mengubah pesawat Emirat menjadi pesawat angkut militer. Abu Dhabi juga menampung kantor dari produsen senjata Israel seperti Bayt Systems dan Third Eye Systems, serta menjadi tuan rumah bagi 34 perusahaan pertahanan Israel dalam pameran IDEX 2025.

Meski belum menormalisasi hubungan secara resmi, Arab Saudi juga memperkuat hubungan militer dengan Israel melalui jalur tidak langsung. Misalnya, membeli sistem rudal TOW buatan Israel melalui anak perusahaan Elbit Systems di AS, serta membeli drone pengintai dari Afrika Selatan yang kemudian dirakit ulang di dalam negeri untuk menyamarkan asal-usulnya dari Israel.

Sistem anti-drone yang diduga buatan perusahaan Israel RADA terlihat di Pangkalan Pertahanan Udara Kerajaan Saudi di Tabuk, dekat Pangkalan Udara Raja Faisal.

Qatar pun diam-diam meningkatkan koordinasi militer dengan Tel Aviv. Doha terus membeli suku cadang untuk tank, kendaraan lapis baja, dan pesawat tanker dari pemasok Israel. Bahkan, militer Qatar ikut serta dalam latihan bersama yang melibatkan Israel dan negara-negara Teluk lainnya, termasuk latihan di Yunani yang digelar belum lama ini.

Dukungan Logistik untuk Israel

Selain dukungan militer dan ekonomi, negara-negara Teluk juga membantu Israel melalui jalur logistik. Saat AS meningkatkan pengiriman senjata besar-besaran berupa puluhan ribu rudal, amunisi, dan komponen Iron Dome, wilayah udara dan pangkalan negara Teluk menjadi sangat penting.

Pengiriman senjata AS melewati Arab Saudi, Bahrain, Yordania, dan terutama Qatar, tempat Pangkalan Udara Al-Udeid (markas Komando Pusat AS) menjadi pusat transit bagi sedikitnya 18 pengiriman senjata. Beberapa pengiriman dialihkan melalui Siprus agar tidak terlacak secara langsung.

Di UEA, Bandara Internasional Dubai menjadi titik transit bagi tentara cadangan Israel yang datang dari Asia. Dengan koordinasi dari konsulat Israel di Dubai, para tentara ini diarahkan untuk terlibat langsung dalam perang di Gaza. Otoritas Emirat juga mengatur tempat istirahat bagi pasukan Israel di sela penugasan dan memungkinkan organisasi Yahudi di Dubai mengirimkan paket dukungan ke militer Israel.

Diplomasi Energi dan Proyek Pipa Minyak Regional

Awal bulan ini, menjelang kunjungan Donald Trump ke Arab Saudi untuk mencari investasi infrastruktur AS, Menteri Energi Israel Eli Cohen mengumumkan rencana pembangunan pipa minyak regional dari Ashkelon ke Arab Saudi melalui Eilat.

Proyek ini merupakan bagian dari India-Middle East-Europe Economic Corridor (IMEC), alternatif yang didukung AS untuk menyaingi Belt and Road Initiative (BRI) milik China, dan akan melintasi UEA, Yordania, serta wilayah Palestina yang diduduki.

Dalam langkah terkait, Nasser bin Hamad Al Khalifa (putra Raja Bahrain dan Ketua Bapco Energy), mengumumkan penjualan saham pipa ke BlackRock, perusahaan investasi AS yang dikenal memiliki hubungan erat dengan permukiman Israel. Kesepakatan ini tak terpisahkan dari agenda normalisasi hubungan.

Pengintaian dan Sistem Keamanan

Salah satu tanda paling jelas dari kerja sama keamanan yang semakin dalam adalah pertemuan rahasia tahun 2024 di Bahrain, di mana Kepala Staf Angkatan Darat Israel Herzi Halevi bertemu dengan pejabat militer senior dari Bahrain, Arab Saudi, UEA, Yordania, dan Mesir.

Dipantau oleh Komando Pusat AS, pertemuan itu membahas cara menghadapi potensi serangan balasan Iran dan memutus aliran senjata ke Gaza dari kelompok perlawanan di Irak dan Yaman, rute yang sering melewati wilayah udara yang dikendalikan negara-negara Teluk.

Peran Bahrain sangat terbuka: Nasser bin Hamad secara terang-terangan menyatakan komitmen negaranya untuk membantu AS dan Israel dalam menggagalkan respons Iran. Para analis bahkan berspekulasi bahwa Tel Aviv dapat memperoleh akses permanen ke perairan strategis di Teluk.

Kerja sama ini juga memungkinkan teknologi Israel menembus infrastruktur negara-negara Teluk. Bahrain kini mengandalkan perusahaan Israel untuk sistem anti-drone, pengawasan satelit, dan keamanan siber. Salah satu kolaborasi penting adalah antara perusahaan Bahrain Crescent Technologies dengan CyberArk, raksasa keamanan siber asal Israel.

UEA bahkan melangkah lebih jauh. Perusahaan Emirat menandatangani kontrak dengan XM Cyber, didirikan oleh mantan kepala Mossad, untuk mengamankan infrastruktur energi nasional. XM Cyber bekerja sama dengan Rafael dan perusahaan militer elit Israel lainnya dalam konsorsium yang menargetkan sektor minyak, energi, dan data di wilayah Teluk. Sementara itu, Orpak Systems, perusahaan Israel lainnya, telah masuk ke sektor minyak Arab dengan merek terselubung untuk menghindari sorotan publik.

___

*Mawadda Iskandar adalah seorang jurnalis dan peneliti yang mengkhususkan diri dalam urusan Teluk Persia. Ia telah menghasilkan berbagai dokumenter dan publikasi riset, serta melakukan investigasi mendalam mengenai dinamika politik dan sosial di kawasan tersebut. Iskandar dikenal karena pendekatannya yang kritis dan berbasis data dalam melaporkan isu-isu sensitif, termasuk hubungan negara-negara Teluk dengan Israel dan dampaknya terhadap Palestina.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

 

You might also like