LAZ NPC Dirikan Posko Darurat, Bantu 288 Penyintas Gempa di Desa Sambinasi, Ngada

Ngada, NPC — Sebanyak 288 jiwa terdampak gempa bumi di Desa Sambinasi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat dukungan penanganan darurat melalui posko kemanusiaan yang didirikan Lembaga Amil Zakat Nusantara Palestina Center (LAZ NPC) bersama warga setempat.

Posko tersebut menjadi salah satu titik koordinasi penyaluran makanan dan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga yang masih bertahan di tenda darurat.

Tim relawan LAZ NPC yang berada di lokasi terdiri atas Muh. Jihadil Akbar, Fernando Torres, dan Imam Gozalli. Mereka bekerja bersama masyarakat setempat untuk mendirikan dan mengoperasikan posko kemanusiaan. Warga turut membantu menyediakan kendaraan dan sejumlah sarana pendukung yang dibutuhkan selama operasi tanggap darurat.

Salah satu kebutuhan mendesak yang ditangani adalah pangan. Dapur umum dioperasikan selama beberapa hari untuk menyediakan makanan siap saji bagi keluarga terdampak yang belum dapat kembali ke rumah dan masih tinggal di tenda-tenda darurat.

Selain kebutuhan pangan, ketersediaan air bersih menjadi persoalan penting. Sumber air yang biasa digunakan warga dilaporkan menjadi keruh setelah gempa, sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Fasilitas sanitasi dan penyediaan air bersih kemudian menjadi salah satu fokus bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar 288 jiwa yang terdampak.

Akses Sulit dan Komunikasi Terputus

Penanganan di Desa Sambinasi tidak lepas dari kendala akses. Jalur darat menuju lokasi disebut memiliki medan yang curam dan berlubang, sehingga menyulitkan mobilitas kendaraan maupun distribusi bantuan.

Situasi semakin sulit karena jaringan listrik dan komunikasi seluler di wilayah terdampak mengalami gangguan. Kondisi tersebut membuat komunikasi dengan pihak di luar lokasi menjadi terbatas.

Untuk menjaga akses informasi dan komunikasi, posko darurat menggunakan satu unit perangkat internet satelit Starlink. Perangkat tersebut menjadi sarana komunikasi yang digunakan tim relawan dan warga ketika jaringan seluler tidak dapat diandalkan.

Warga Masih Bertahan di Tenda

Kerusakan permukiman menjadi persoalan lain yang dihadapi warga. Berdasarkan laporan tim di lapangan, hampir seluruh rumah warga di Desa Sambinasi mengalami kerusakan parah.

Fasilitas pendidikan juga terdampak. Kegiatan belajar mengajar di sekolah setempat terpaksa dihentikan.

Gempa susulan yang masih dirasakan turut memengaruhi kondisi psikologis warga. Anak-anak hingga lansia disebut masih mengalami trauma dan belum berani kembali tinggal di dalam rumah.

Warga hanya masuk ke bangunan rumah secara terbatas, antara lain untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), sebelum kembali ke tenda darurat yang didirikan di sekitar pekarangan.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan tanggap darurat. Pemenuhan pangan, air bersih, sanitasi, serta kebutuhan dasar lainnya masih diperlukan selama warga menjalani masa pemulihan.

Dengan kondisi akses yang masih sulit dan sebagian warga belum dapat kembali ke rumah, dukungan logistik untuk kebutuhan jangka menengah dan panjang masih diperlukan. Penanganan selanjutnya juga perlu mempertimbangkan kebutuhan air bersih, sanitasi, pangan, pendidikan, serta dukungan psikososial bagi warga terdampak.

You might also like