TEL AVIV, NPC — Gelombang warga Israel yang meninggalkan negaranya dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dari kelompok berpenghasilan tinggi dan tenaga profesional di sektor teknologi tinggi serta kedokteran. Tren tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi brain drain yang dapat berdampak pada penerimaan pajak, produktivitas ekonomi, dan daya saing Israel.
Studi Otoritas Pajak Israel yang dikutip media berbahasa Ibrani, Maariv dan Israel Hayom, menunjukkan tingkat emigrasi warga Israel meningkat sekitar 50 persen. Kenaikan tersebut disebut semakin terlihat di kalangan masyarakat berpenghasilan tinggi.
Dalam periode 2019–2024, jumlah warga berpenghasilan tinggi yang meninggalkan Israel dilaporkan meningkat sekitar dua kali lipat. Sebagian di antaranya merupakan pekerja di sektor teknologi tinggi dan kedokteran, dua bidang yang membutuhkan tenaga kerja dengan tingkat keahlian dan produktivitas relatif tinggi.
Dampak perpindahan penduduk tersebut juga tercermin pada penerimaan pajak. Berdasarkan studi yang dikutip, kerugian penerimaan pajak akibat emigrasi meningkat dari sekitar 500 juta shekel per tahun pada 2019 menjadi sekitar 1,2 miliar shekel pada 2023 dan 2024. Nilai tersebut setara dengan sekitar 400 juta dolar AS berdasarkan angka dalam laporan.
Otoritas terkait memperkirakan kerugian penerimaan negara dapat meningkat lebih jauh apabila tren emigrasi tidak berbalik. Dalam skenario tersebut, kehilangan penerimaan pajak diperkirakan dapat mencapai sekitar 3,5 miliar shekel atau sekitar 1,16 miliar dolar AS per tahun dalam lima tahun mendatang.
Tenaga Ahli Menjadi Perhatian
Persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan jumlah warga yang meninggalkan Israel, tetapi juga profil mereka. Data studi yang dikutip menunjukkan jumlah tenaga profesional dari sektor teknologi tinggi dan kedokteran yang meninggalkan Israel meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun lima tahun.
Perubahan komposisi emigrasi tersebut menjadi perhatian karena tenaga profesional berpendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menopang sektor-sektor strategis. Kehilangan tenaga ahli dalam jumlah besar berpotensi menciptakan kekosongan sumber daya manusia yang tidak mudah digantikan dalam waktu singkat.
Tren tersebut juga dilaporkan melibatkan semakin banyak generasi muda dan kelompok pekerja dengan tingkat produktivitas tinggi. Kondisi ini membuat isu emigrasi tidak lagi semata-mata berkaitan dengan mobilitas penduduk, tetapi juga dengan kemampuan Israel mempertahankan sumber daya manusia yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai brain drain, yakni perpindahan tenaga berpendidikan dan berketerampilan tinggi dari suatu negara ke negara lain. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat memengaruhi kapasitas inovasi, produktivitas, penelitian, serta ketersediaan tenaga profesional pada sektor-sektor tertentu.
Dampak Ekonomi Jangka Panjang
Kenaikan emigrasi juga memiliki implikasi terhadap basis penerimaan negara. Ketika kelompok berpenghasilan tinggi dan tenaga profesional menetap di luar negeri, pemerintah berpotensi kehilangan sebagian penerimaan yang sebelumnya berasal dari aktivitas ekonomi dan pendapatan mereka di dalam negeri.
Namun, dampaknya tidak berhenti pada sektor perpajakan. Jika berlangsung dalam jangka panjang, keluarnya tenaga ahli dapat berpengaruh terhadap sektor teknologi tinggi dan kesehatan, yang sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia terampil.
Bagi sektor teknologi, berkurangnya tenaga ahli dapat memengaruhi kapasitas perusahaan dalam melakukan pengembangan produk, penelitian, inovasi, dan ekspansi. Sementara dalam sektor kesehatan, berkurangnya tenaga profesional berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan sumber daya manusia medis.
Pada tingkat makroekonomi, kombinasi antara berkurangnya tenaga produktif, potensi kehilangan penerimaan pajak, dan menyusutnya kapasitas inovasi dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi serta daya saing dalam jangka panjang.
Meski demikian, data yang tersedia dalam materi ini belum menjelaskan secara rinci faktor utama yang mendorong warga Israel memilih tinggal di luar negeri, negara tujuan mereka, maupun berapa lama mereka berencana menetap di luar Israel.
Fenomena ini menunjukkan bahwa migrasi keluar tidak hanya menjadi persoalan demografi. Jika tren tersebut terus meningkat dan didominasi kelompok berpendidikan tinggi serta tenaga profesional, dampaknya dapat meluas menjadi persoalan fiskal, ketenagakerjaan, inovasi, dan daya saing ekonomi.