Propaganda Israel Masuk Sekolah: Upaya Zionis Mengubah Pikiran Anak-anak Sekolah Amerika

Ditulis oleh: Alan MacLeod*

Washington, NPC – PragerU tengah berupaya mengambil alih sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Kelompok berhaluan kanan yang mengklaim sebagai lembaga pendidikan ini kini telah menjadi mitra pendidikan resmi di sedikitnya sepuluh negara bagian, sembari membanjiri anak-anak dengan materi yang sarat pesan kontroversial mengenai ras, sejarah, dan politik.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, PragerU dipimpin oleh mantan mata-mata Israel, Marissa Streit, yang secara terbuka menyatakan bahwa ia menerapkan taktik dan teknik yang diasah di intelijen militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kepada masyarakat Amerika.

Perusahaan yang dipimpin Streit terlibat dalam operasi bernilai jutaan dolar yang menyasar anak-anak dengan pesan-pesan neokonservatif, pro-perang, pro-bisnis, dan pro-Israel, dalam upaya mengindoktrinasi mereka sejak usia paling dini, ketika mereka masih sangat mudah dipengaruhi.

MintPress menelusuri organisasi yang kian berpengaruh ini, yang memiliki ambisi merombak secara menyeluruh sistem pendidikan Amerika Serikat.

“Menjauhkan Anak-anak Kami”

Kemungkinan besar Anda pernah menonton video PragerU. Diperkirakan satu dari tiga warga Amerika pernah melihatnya. Mesin media yang didanai para miliarder ini telah menjadi salah satu kekuatan utama di kubu kanan Amerika, memproduksi konten konservatif berkualitas tinggi yang bertujuan menggeser arah politik dan kehidupan sosial Amerika Serikat semakin ke kanan. Namun, belakangan PragerU mengalihkan sasarannya kepada anak-anak dan berupaya menyusup ke dalam sistem pendidikan Amerika.

Sejak 2023, organisasi ini telah menjalin kerja sama dengan sepuluh negara bagian—Alaska, Arizona, Florida, Idaho, Louisiana, Montana, Oklahoma, South Carolina, Texas, dan Utah—untuk menjadi penyedia materi pendidikan resmi, memasok buku, video, serta berbagai materi pembelajaran lainnya ke sekolah-sekolah di seluruh Amerika Serikat. Sementara itu, para pelajar di New Hampshire bahkan dapat memperoleh kredit akademik dengan menyelesaikan kursus daring PragerU. Melalui PragerU Español, organisasi ini juga berencana memperluas pengaruhnya ke Amerika Latin.

Florida menjadi pelopor dalam fenomena ini. Sebagai bagian dari Stop WOKE Act—undang-undang yang bertujuan menghapus ideologi liberal dari ruang publik—Gubernur Ron DeSantis menggandeng PragerU karena dinilai “selaras dengan standar baru pendidikan kewarganegaraan dan pemerintahan yang diterapkan negara bagian”. Kini PragerU menyediakan materi tentang “nilai-nilai Amerika” yang sangat konservatif untuk digunakan mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga kelas 12.

Kurikulum Florida setelah diberlakukannya Stop WOKE Act kini mewajibkan guru sekolah menengah pertama mengajarkan kepada siswa tentang manfaat perbudakan bagi warga kulit hitam Amerika, termasuk klaim bahwa “para budak mengembangkan berbagai keterampilan yang, dalam beberapa kasus, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi mereka”.

Kurikulum tersebut juga menulis ulang peristiwa Pembantaian Ocoee 1920—pogrom ketika massa kulit putih membunuh puluhan warga kulit hitam dan secara permanen membersihkan kota Ocoee di Florida dari penduduk kulit hitamnya—menjadi sekadar “tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap dan oleh warga Afrika-Amerika”.

Sementara itu, mahasiswa di Southeastern University di Lakeland, Florida, dapat memperoleh kredit tambahan dengan mengikuti mata kuliah sejarah PragerU. Padahal, terlepas dari nama dan citra yang dibangunnya, PragerU bukanlah lembaga pendidikan yang terakreditasi, apalagi sebuah universitas.

Oklahoma bahkan melangkah lebih jauh. Tahun lalu, Kepala Dinas Pendidikan negara bagian itu, Ryan Walters, meluncurkan tes evaluasi guru yang kontroversial dan dikembangkan oleh PragerU untuk menyaring guru berdasarkan ideologi mereka serta menolak pelamar yang dianggap tidak cukup konservatif. Rencana tersebut akan menolak atau menahan sertifikasi mengajar bagi guru yang memperoleh lisensi atau pendidikan dari negara bagian yang oleh Ryan Walters dianggap “woke” (terlalu progresif atau liberal). Walters kemudian meninggalkan jabatannya untuk memimpin Teacher Freedom Alliance, kelompok konservatif yang menentang serikat pekerja guru.

Layanan Kesehatan Gratis Disebut Perbudakan, tetapi Perbudakan yang Sesungguhnya Dianggap Biasa Saja

Materi PragerU yang ditayangkan kepada anak-anak sekolah di Amerika memuat sejumlah pandangan yang sangat kontroversial, tetapi disajikan seolah-olah sebagai kebenaran yang masuk akal. Sebagian besar pelajaran disampaikan dalam bentuk film animasi. Salah satunya, tentang berdirinya Amerika, menampilkan Christopher Columbus dalam versi kartun yang mengatakan bahwa perbudakan “bukan masalah besar”.

“Perbudakan sudah ada sejak dahulu kala dan terjadi di setiap penjuru dunia,” katanya. “Menjadi budak masih lebih baik daripada dibunuh, bukan? Saya tidak melihat ada masalah”.

Untuk membenarkan praktik perbudakan dan genosida di dua benua, Columbus kemudian mengatakan kepada para penonton, “Tempat yang saya temukan memang indah, tetapi jelas bukan surga peradaban, dan penduduk aslinya jauh dari kata damai”.

Pelajaran video lainnya secara kasar mendistorsi pandangan tokoh penghapus perbudakan Frederick Douglass. Dalam animasi tersebut, Douglass justru digambarkan membenarkan praktik perbudakan di Amerika dengan mengatakan bahwa “para bapak pendiri membuat kompromi (dengan mendukung perbudakan) demi mencapai sesuatu yang besar: berdirinya Amerika Serikat.”

Video-video PragerU Kids juga membahas isu-isu yang lebih kontemporer. Salah satunya berjudul “Los Angeles: Mateo Backs the Blue”, yang mengangkat kasus kematian George Floyd. Dalam video itu, narator menggambarkan Floyd sebagai “seorang pria kulit hitam yang melawan saat ditangkap”. Video tersebut mengklaim bahwa aksi protes yang penuh kekerasan dan penjarahan dipicu oleh “klaim palsu” mengenai kepolisian yang rasis, yang disebarkan oleh para aktivis tanpa disebutkan identitasnya.

Mateo, seorang anak asal Los Angeles, digambarkan terkejut melihat para demonstran “mengancam polisi”—atau, sebagaimana video itu menyebutnya, “para pelindung”—lalu memutuskan untuk berdiri teguh mendukung gerakan Blue Lives Matter. Blue Lives Matter adalah sebuah gerakan politik dan sosial di Amerika Serikat yang muncul sekitar tahun 2014–2015 sebagai respons terhadap gerakan Black Lives Matter. Inti pesannya adalah bahwa kehidupan polisi juga penting (“blue” mengacu pada warna seragam polisi di AS).

Materi pendidikan lain yang telah disetujui untuk digunakan di sekolah adalah kuliah berjudul “Is Fascism Right or Left?” karya tokoh konspirasi kontroversial Dinesh D’Souza. Dalam kuliah tersebut, ia bersikeras bahwa “fasisme memiliki kedekatan yang sangat erat dengan ideologi kiri masa kini”. Pada 2014, D’Souza mengaku bersalah karena melanggar undang-undang pendanaan kampanye federal.

Sebagai gerakan konservatif yang didanai para miliarder industri fracking, tidak mengherankan bila PragerU juga mengajarkan anak-anak untuk menolak konsensus ilmiah yang sangat kuat mengenai perubahan iklim. Bahkan, organisasi itu membawanya ke tingkat yang absurd dengan membandingkan penindasan terhadap kaum skeptis perubahan iklim dengan kehidupan di Ghetto Warsawa, tempat lebih dari 300 ribu warga Yahudi dibunuh oleh rezim Nazi.

Dalam video “Poland: Ania’s Energy Crisis”, tokoh utama bernama Ania menerima propaganda di sekolah tentang dampak buruk perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Pandangannya kemudian berubah setelah kedua orang tuanya yang konservatif membuka matanya. Ania dikucilkan oleh teman-temannya hanya karena mengungkapkan kekhawatirannya. Beruntung, kakeknya, Jakub, memberinya kekuatan untuk tetap bertahan dengan menceritakan Pemberontakan Warsawa. “Melalui kisah keluarganya, Ania menyadari bahwa melawan penindasan penuh risiko dan selalu membutuhkan keberanian,” demikian narasi dalam video tersebut.

Mengenai India, anak-anak Amerika diajarkan bahwa negara itu memperoleh manfaat besar dari imperialisme Inggris, yang “menyebarkan pengaruh agama Kristen dan nilai-nilai Barat ke seluruh India”, “mencegah bahkan melarang tradisi-tradisi yang berbahaya”, serta “memberikan” kemerdekaan kepada India pada 1947. Video itu ditutup dengan kesimpulan bahwa pengaruh Barat membantu mentransformasi negara tersebut dalam banyak hal yang positif, tetapi beberapa kebiasaan kuno lebih sulit diubah dibandingkan yang lain, sehingga membingkai persoalan India semata-mata sebagai akibat budaya mereka yang dianggap terbelakang, bukan sebagai dampak berabad-abad penjajahan dan penindasan langsung.

Video lainnya mengecam sistem layanan kesehatan gratis Kanada dan menyoroti bahaya layanan kesehatan yang disosialisasikan, sembari memuji sistem kesehatan swasta Amerika yang berorientasi pada keuntungan. Padahal, menurut berbagai studi internasional, sistem kesehatan Amerika merupakan yang paling mahal di antara negara-negara maju dan menghasilkan capaian kesehatan yang paling buruk.

PragerU juga menjadikan Kuba, Cina, Venezuela, dan Korea Utara sebagai sasaran, dengan menerbitkan berbagai video yang menggambarkan negara-negara tersebut sebagai rezim otoriter yang mengerikan dan memerlukan intervensi Amerika Serikat.

Saluran Favorit Netanyahu

Meskipu demikian, tidak ada negara yang lebih mendapat perhatian PragerU selain Israel. Organisasi ini mengalokasikan waktu dan sumber daya yang sangat besar untuk membela sekaligus mempromosikan negara tersebut. Seri kuliah mereka yang berjudul “Israel at War” mengecam apa yang mereka sebut sebagai “kebohongan” bahwa Israel menduduki wilayah negara-negara tetangganya. Seri itu juga menyertakan tautan untuk menandatangani petisi yang menyerukan agar publik “mengutuk Hamas dan berdiri bersama Israel”.

Salah satu rencana pembelajaran yang dirancang untuk anak-anak usia dini mengajarkan para guru cara membuat replika sistem pertahanan rudal Iron Dome menggunakan kotak minuman dan sedotan. Tujuannya adalah mengedukasi anak-anak Amerika mengenai bagaimana Israel, menurut materi tersebut, mempertahankan diri dari teror Palestina. Di sela-sela pelajaran itu juga disisipkan pesan bahwa Israel dan Amerika Serikat adalah sahabat karib yang “berbagi nilai-nilai yang berakar pada Tuhan”.

Video lain yang ditujukan kepada anak-anak yang lebih besar, dan menjelaskan krisis yang sedang berlangsung di kawasan tersebut, mengklaim bahwa, “Seperti Amerika Serikat, Israel adalah negara yang dibangun oleh para imigran, yang bangga atas kebebasan yang diberikan kepada seluruh warganya, tanpa memandang agama, etnis, atau ras mereka”. Video itu juga menyatakan bahwa, “Secara unik, Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang tidak menindas kelompok-kelompok minoritasnya”.

Pernyataan itu tentu akan terdengar janggal bagi warga Arab yang menjadi minoritas di Israel, yang menghadapi diskriminasi sistematis dan terlembagakan, termasuk pembatasan dalam kepemilikan tanah, kesempatan kerja, dan akses pendidikan. Hal yang sama juga berlaku bagi organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, yang menggambarkan Israel sebagai negara apartheid yang melakukan genosida terhadap warga Muslim dan Kristen.

Namun, PragerU justru membingkai Israel sebagai pihak yang menjadi korban. Kepada para penontonnya, organisasi ini menyampaikan bahwa warga Israel tumbuh di bawah “serangan yang terus-menerus dilakukan organisasi-organisasi teroris, yang tujuan utamanya adalah menghancurkan Israel”.

“Dalam banyak kesempatan,” lanjut narasi tersebut, “Israel telah berupaya berdamai dengan negara-negara tetangga dan warga Palestina setempat,” tetapi upaya itu disebut tidak membuahkan hasil.

Saluran ini bahkan memperoleh dukungan langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang membagikan video mereka berjudul “Israel: The World’s Most Moral Army” kepada para pengikutnya. Menanggapi unggahan tersebut, PragerU menulis, “Kami berdiri bersama Israel”.

PragerU: Dipimpin Mantan Mata-mata Israel

Dukungan tanpa syarat tersebut tidaklah mengherankan jika melihat siapa yang sesungguhnya memimpin organisasi itu. Chief Executive Officer (CEO) PragerU, Marissa Streit, adalah mantan mata-mata Israel. Tepat pada ulang tahunnya yang ke-18, Streit bergabung dengan Unit 8200, badan intelijen sinyal milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Dalam berbagai wawancara, Streit mengakui bahwa dirinya pernah menjadi perwira di unit kontroversial tersebut. Ia juga menyatakan bahwa kini ia menerapkan taktik dan teknik yang dipelajarinya di badan intelijen Israel kepada masyarakat Amerika.

“Sekembalinya ke Amerika Serikat dengan bekal yang diberikan Israel melalui pelatihan militer saya, saya merasa terdorong untuk menerapkannya di negara saya, Amerika Serikat,” ujarnya.

Apa sebenarnya peran Streit sebagai perwira Unit 8200 masih menjadi misteri. Mengenai masa tugasnya di sana, ia mengatakan, “Tugas kami adalah mengidentifikasi persoalan-persoalan yang mungkin luput dari perhatian komunitas intelijen”.

Namun, mengingat masa dinasnya bertepatan dengan Intifada Kedua Palestina, dapat diduga bahwa salah satu tugas unit tersebut berkaitan dengan upaya menekan perlawanan domestik terhadap pendudukan.

Tidak seorang pun bergabung dengan Unit 8200 secara kebetulan. Unit ini merupakan badan intelijen paling elite di Israel dan hanya menerima sekitar satu persen pelamar terbaik. Banyak keluarga kaya menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk memberikan pendidikan tambahan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) kepada anak-anak mereka demi meningkatkan peluang diterima di unit tersebut. Mereka memahami bahwa bertugas di Unit 8200 merupakan jalan pintas menuju lapisan elite masyarakat Israel.

Unit 8200 bertanggung jawab atas operasi perang siber dan operasi psikologis di berbagai belahan dunia. Kelompok ini membangun jaringan pengawasan berskala besar yang menargetkan warga Palestina, lalu menggunakan data tersebut untuk menghasilkan daftar target pembunuhan berbasis kecerdasan buatan (AI). Unit ini juga secara luas disebut sebagai pihak yang berada di balik serangan pager di Lebanon pada 2024, yang menyebabkan ribuan warga sipil mengalami luka-luka.

Para agen Unit 8200 juga berperan dalam pengembangan sejumlah perangkat lunak mata-mata paling invasif di dunia yang kemudian dijual kepada berbagai rezim otoriter. Salah satunya adalah perangkat lunak Pegasus, yang terkenal karena digunakan untuk memata-matai puluhan ribu politikus, jurnalis, pembela hak asasi manusia, dan pemimpin serikat pekerja.

Pemerintah Arab Saudi, misalnya, menggunakan Pegasus untuk melacak jurnalis The Washington Post, Jamal Khashoggi, sebelum akhirnya membunuh dan memutilasinya menggunakan gergaji tulang di dalam konsulat Saudi di Turki.

“Begitu banyak hal yang saya pelajari dari intelijen militer Israel telah membentuk cara saya berpikir hingga hari ini. Apa yang mereka berikan kepada saya merupakan sebuah anugerah,” kata Streit.

Setelah itu, ia kembali ke Amerika Serikat dan bekerja untuk kelompok lobi pro-Israel, Israeli-American Council. Streit memandang Israel dan Amerika Serikat sebagai dua negara yang memiliki keterkaitan mendasar dan sama-sama menghadapi ancaman dari nilai-nilai progresif.

“Kita sedang kehilangan Amerika akibat kaum radikal yang membenci Barat dan segala sesuatu yang kita perjuangkan… Kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk bersyukur hidup di Amerika,” ujarnya.

Ia menambahkan:

“Para pelajar harus belajar menghargai warisan Yudeo-Kristen kita, yang menjadi fondasi masyarakat besar ini. Jika kita memberikan pendidikan yang tepat kepada anak-anak kita—berlandaskan kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kebebasan—maka saya dapat memastikan mereka akan tumbuh mencintai Amerika sekaligus Israel”.

Streit juga secara terbuka menyampaikan pandangannya mengenai serangan Israel ke Palestina. Ia membenarkan serangan terhadap warga sipil di Gaza dengan alasan bahwa mereka “menyembunyikan teroris dan para sandera di rumah-rumah mereka”. Ia juga menyatakan bahwa Hamas berencana “membunuh seluruh orang Yahudi, termasuk anak-anak di taman kanak-kanak,” serta menegaskan bahwa slogan seperti “Free Palestine” identik dengan seruan untuk “menghancurkan Barat”.

Make America Dumb Again

Streit telah berada di PragerU sejak organisasi itu didirikan pada 2009. Namun, pandangannya mengenai politik serta isu Israel-Palestina hampir dapat dianggap moderat jika dibandingkan dengan pendiri organisasi tersebut, Dennis Prager.

Pembawa acara bincang-bincang berhaluan kanan itu telah mengunjungi Israel puluhan kali, termasuk memimpin tur bertajuk “Stand with Israel” ke berbagai wilayah di negara tersebut, termasuk ke Yerusalem Timur yang diduduki dan Dataran Tinggi Golan. Ia menyebut warga Palestina sebagai “salah satu kelompok nasional yang paling tidak mengesankan secara moral di dunia” dan menyatakan bahwa “berbohong adalah bentuk seni bangsa Palestina”.

Prager, yang pernah berkampanye agar warga kulit putih diperbolehkan menggunakan kata penghinaan rasial terhadap orang kulit hitam (N-word), mengalami kecelakaan jatuh di kamar mandi pada 2024. Akibatnya, ia mengalami kelumpuhan pada keempat anggota tubuhnya dan kehilangan kemampuan bergerak dari leher ke bawah. Sejak itu, ia tidak lagi menjadi figur utama dalam organisasi tersebut.

Kerajaan media yang ia bangun mendapatkan suntikan dana jutaan dolar dari miliarder industri fracking, Dan dan Farris Wilks. Namun, keduanya kemudian menarik dukungan finansial setelah menilai Prager tidak cukup keras dalam sikap homofobianya sesuai harapan mereka. Pada saat itu, PragerU telah memperoleh pendanaan dari miliarder keturunan Israel-Amerika, Miriam Adelson, dan terus berkembang pesat.

Pada 2024, pendapatan PragerU dilaporkan meningkat hingga 70 juta dolar AS. Organisasi tersebut pun mampu merekrut sejumlah tokoh konservatif papan atas seperti Ben Shapiro, Candace Owens, Tucker Carlson, Nigel Farage, dan Douglas Murray untuk membawakan video-video mereka.

Rencana awal PragerU adalah mengejar akreditasi sebagai universitas—yang menjelaskan penggunaan nama “PragerU”. Namun, rencana itu segera ditinggalkan. Meski demikian, meskipun sama sekali tidak memiliki akreditasi pendidikan, mereka tetap mempertahankan nama yang menyesatkan tersebut.

Hubungan yang serampangan terhadap kebenaran semacam ini telah menjadi ciri khas organisasi tersebut. PragerU secara rutin dikritik karena menghasilkan konten yang dinilai memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki nilai intelektual. Berbagai sumber telah mendokumentasikan apa yang mereka sebut sebagai “kebohongan terang-terangan” yang terdapat dalam video-video PragerU.

Secara resmi, PragerU menyatakan dirinya sebagai organisasi nonpolitik.

“Kami adalah organisasi nirlaba 501(c)(3). Kami tidak memiliki keterlibatan politik dengan siapa pun. Hal itu bertentangan dengan piagam kami,” kata salah satu pendiri perusahaan, Allen Estrin. Namun, hanya sedikit orang yang menerima klaim tersebut begitu saja. Terutama setelah Streit sendiri mengunggah video dirinya sedang menari bersama Presiden Donald Trump di kediamannya, Mar-a-Lago, dengan keterangan:

“Terima kasih, Presiden Trump”

PragerU secara terbuka mendukung serangan menyeluruh Trump terhadap sistem pendidikan Amerika dan serikat pekerja guru, yang mereka anggap sebagai hambatan utama bagi rencana mereka untuk “mengganggu pasar Pendidikan”.

Trump juga berupaya memangkas pendanaan untuk program anak-anak yang ditayangkan PBS—sebuah langkah yang tentu disambut baik oleh PragerU. Sebab, organisasi itu berusaha membentuk pola pikir generasi muda sejak usia dini dengan mengisi ruang kosong yang muncul setelah Trump memangkas sistem pendidikan Amerika Serikat.

PragerU berada di titik pertemuan antara kebijakan luar negeri neokonservatif, kebijakan sosial domestik yang reaksioner, serta advokasi tanpa henti untuk Israel. Namun, dominasi ketiga posisi tersebut semakin mendapat tantangan di Amerika Serikat dan kian kehilangan popularitas.

Mayoritas besar warga Amerika mendukung sistem layanan kesehatan sosial yang justru secara aktif ditentang PragerU. Mereka juga mendukung pendidikan tinggi yang dapat diakses secara gratis serta pembangunan perumahan sosial secara nasional. Sebanyak 62 persen warga Amerika muda memiliki pandangan positif terhadap sosialisme.

Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika menolak agresi Trump terhadap Iran. Setelah hampir tiga tahun berlangsungnya genosida, pandangan publik terhadap Israel pun mulai berubah. Sebuah studi Pew Research Center pada April menemukan bahwa bahkan empat dari sepuluh pemilih Partai Republik memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka tersebut meningkat menjadi 57 persen di kalangan pemilih Partai Republik berusia di bawah 50 tahun.

Sejumlah tokoh media kanan terkemuka, seperti Candace Owens dan Nick Fuentes, secara terbuka bersikap sangat anti-Israel. Sementara itu, tokoh pemikir konservatif pro-Israel seperti Ben Shapiro dari PragerU mengalami penurunan jumlah audiens hingga 90 persen.

Bagi PragerU yang mendukung perang, pro-Israel, dan berpihak kepada para miliarder, situasi ini menjadi persoalan serius. Meski telah bertahun-tahun menggelontorkan dana besar untuk hubungan masyarakat dan propaganda, mereka gagal membendung perubahan opini publik.

Strategi baru mereka yang menyasar anak-anak tampaknya merupakan upaya menanamkan nilai-nilai tersebut ketika masyarakat Amerika berada dalam fase paling mudah dipengaruhi; berusaha menghentikan perubahan sebelum berkembang lebih jauh.

PragerU dengan antusias mendukung upaya Trump membongkar sistem pendidikan Amerika Serikat dan kini bersiap mengisi kekosongan yang ditinggalkan. Dalam konteks ini, mereka berharap melakukan terhadap pendidikan Amerika apa yang menurut mereka telah dilakukan Israel terhadap Palestina.

Dengan seorang mantan agen intelijen Israel sebagai pemimpinnya, mereka berada dalam posisi yang dianggap ideal untuk menjalankan tujuan tersebut: membombardir pikiran generasi muda dengan propaganda reaksioner, lalu membentuk mereka menjadi pendukung fanatik sebuah sistem yang pada dasarnya tidak bekerja untuk kepentingan mereka.

___

*Alan MacLeod adalah Penulis Senior di MintPress News. Ia meraih gelar doktor (Ph.D.) pada 2017 dan sejak itu telah menulis dua buku yang mendapat banyak apresiasi, yaitu Bad News From Venezuela: Twenty Years of Fake News and Misreporting dan Propaganda in the Information Age: Still Manufacturing Consent. Selain itu, ia juga telah menerbitkan sejumlah artikel ilmiah.

MacLeod juga pernah menulis untuk berbagai media, antara lain FAIR.org, The Guardian, Salon, The Grayzone, Jacobin Magazine, dan Common Dreams.

(T.FJ/S: MintPress)

 

You might also like