Iran Hentikan Negosiasi dengan AS, Tuntut Perang di Gaza dan Lebanon Diakhiri

Teheran, NPC – Iran menghentikan seluruh pertukaran pesan dan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat yang selama ini berlangsung melalui mediator Pakistan. Keputusan itu diambil pada Senin (01/06/2026), setelah Teheran menuding Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui operasi militer yang masih berlangsung di Lebanon.

Kantor berita Tasnim melaporkan, pemerintah Iran tidak akan melanjutkan pembicaraan sebelum Israel menghentikan operasi militernya di Gaza dan Lebanon serta menarik pasukannya dari wilayah Lebanon yang masih diduduki. Teheran menilai stabilitas kawasan tidak mungkin tercapai selama serangan terhadap Palestina dan Lebanon terus berlanjut.

Penghentian komunikasi tersebut menjadi kemunduran signifikan bagi upaya diplomasi yang dalam beberapa pekan terakhir disebut mendekati tahap akhir. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut mediator Pakistan telah menyampaikan berbagai proposal dan rancangan kesepahaman antara Washington dan Teheran. Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang ditandatangani kedua pihak.

Di tengah memburuknya situasi, media Iran juga melaporkan adanya pembahasan di kalangan Poros Perlawanan mengenai kemungkinan langkah-langkah eskalatif, termasuk penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Selain Hormuz, muncul pula peringatan mengenai kemungkinan aktivasi tekanan di kawasan Bab al-Mandab yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Ketegangan terbaru itu segera memicu kekhawatiran pasar global. Para pelaku pasar menilai setiap ancaman terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Analis politik Timur Tengah, Abdel Bari Atwan, menilai keputusan Iran menunjukkan bahwa Teheran tidak bersedia memisahkan isu Palestina dari setiap proses diplomasi regional. Menurut editor Rai Al-Youm yang berbasis di London itu, perang di Gaza, Lebanon, Yaman, dan konfrontasi Iran dengan Israel telah menjadi satu paket krisis yang saling berkaitan. Karena itu, penyelesaian parsial dinilai tidak akan menghasilkan stabilitas jangka panjang di kawasan.

Pandangan serupa disampaikan analis hubungan internasional Sami Hamdi. Ia menilai kebuntuan perundingan lebih disebabkan oleh perbedaan prioritas antara Washington dan Teheran. Menurut Hamdi, Iran sejak awal menempatkan penghentian operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon sebagai syarat utama, sementara Amerika Serikat lebih berfokus pada isu keamanan regional, program nuklir Iran, dan kebebasan pelayaran internasional. Perbedaan agenda tersebut, kata dia, membuat ruang kompromi semakin sempit.

Hingga kini belum ada indikasi kedua pihak akan segera kembali ke meja perundingan. Dengan meningkatnya ketegangan di Lebanon, berlanjutnya perang di Gaza, serta ancaman terhadap jalur pelayaran strategis dunia, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa Timur Tengah berisiko memasuki fase konflik yang lebih luas. Jika jalur diplomasi tetap buntu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara kawasan, tetapi juga pasar energi dan perekonomian global.

(T.FJ/S: AnadoluReuters)

 

You might also like